Langsung ke konten utama

Manusia terlampau Sombong Ketika Mengingini Surga

Aku agak tergelitik ketika sering menemui banyak orang, terutama yang terkesan alim, kerap menyebutkan surga sebagai cita-citanya. Bukan berarti iri atau tidak meyakini hal demikian. Hanya ada sedikit hal yang terasa mengganjal karenanya. Apakah untuk mencapai surga dapat diukur dengan amalan yang bahkan tak tahu sudikah Allah menerimanya? Jika dibalik, akankah manusia tetap bersujud pada Allah jika tak ada konsepsi Surga dan Neraka seperti di lirik lagu Chrisye featuring Ahmad Dani?

Tulisan ini dibuat bukan karena merasa paling benar. Semata adalah hasil perenungan dariku yang merasa berlumur dosa. Mungkin juga ini bentuk iri hati pada mereka yang menganggap diri ahli surga. Tapi semoga Allah luruskan hati dan mampu diperoleh hidayah dari perenungan ini.

Apa yang kita cari dalam hidup ini? Hidup manusia punya siklus dari tiada menjadi ada kemudian tiada. Terlampau banyak nikmat yang diberikan Allah sejak lahir ke dunia hingga hembusan nafas terakhir. Bayangkan jika udara ini harus dibeli, berapa biaya yang harus dikeluarkan? Lihatlah saudara-saudara kita yang sedang tergolek lemas di rumah sakit dan dibantu dengan oksigen buatan. Seperti itu nikmat yang kadang diabaikan, tapi amat mahal harganya. Belum lagi nikmat masih didetakkan jantung yang jika menggunakan alat, maka amat mahallah harganya. Bahkan ketika sudah meninggal dunia, Allah masih memberikan nikmat dengan kewajiban sesama Muslim untuk menguburkan. Jadi, nikmat Allah mana yang kau dustakan?

Manusia sungguh tak tahu diri rasanya jika punya keberanian bahkan seakan memastikan sebagai perindu surga. Berapa besar kebaikan dan ibadah yang kita lakukan sehingga layak untuk dibalas surga? Jika sholat, zakat, puasa, haji, dan ibadah-ibadah sunnah lain itu bukanlah untuk kepentingan Allah, tapi karena kebutuhan manusia? Bukan Allah yang butuh manusia mengabdi padanya, melainkan manusia yang butuh untuk beribadah sebagai bentuk syukur atas segala nikmat yang diberikan. Bukan sebagai kompensasi dari nikmat yang dapat digantikan dengan ibadah. Itu hanya bentuk rasa terima kasih, dan Allah menyukai orang-orang yang bersyukur. Kembali lagi pada konsep jika surga dan neraka tak pernah ada, apakah masih mau manusia beribadah pada sang Pencipta yang sudah memberikan nikmat tak berbatas? Bahkan di sela musibah atau bencana yang kau hitung, pastilah ada nikmat yang selalu diberikan-Nya.

Dengarlah potongan lirik lagu nasyid dari Raihan yang terinspirasi dari pengakuan (I’tiraf) Abu Nawas. “Wahai Tuhan ku tak layak ke surgamu. Namun tak pula aku sanggup ke nerakamu. Ampunkan dosaku terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkaulah pengampun dosa-dosa besar”. Tak pantas rasanya ketika manusia mengingini surga Allah. Terlampau banyak nikmat Allah di dunia yang kadang dilalaikan manusia. Namun pastilah kita tak akan sanggup jika harus dimasukkan ke panas api neraka. Maka, apa yang dapat dilakukan manusia? Mungkin terkesan plin-plan, tapi manusia memang hanya dapat pada tahap memohon ridho dan ampunan dari Allah. Keputusan surga atau neraka seseorang adalah hak prirogatif Allah. Seberapa besar amalan yang dilakukan manusia, tak akan berarti jika Allah tidak ridho. Hanya ampunan yang dapat diminta kepada-Nya, sembari berharap agar ridho-Nya mengantarkan kita kepada surga.

Jadi seberapa besar amalan yang sudah kita anggap lakukan di dunia, tak dapat itu dijadikan parameter bahwa Allah akan membalasnya dengan surga. Tetap Tawadu, karena Rasulullah, manusia yang sudah dijanjikan surga di sisi Allah, tak pernah pamer dengan atribut-atribut tertentu. Dahi beliau putih bersih, sehingga tak dapat dikatakan bahwa ahli surga itu mereka yang berdahi hitam. Namun dari semua itu hidup itu sederhana. Sederhana karena manusia hanya perlu menjalani fitrahnya dan beribadah sebagai tanda bersyukur dan mengharap ridho Allah. Apapun keputusan-Nya, haruslah yakin bahwa Dia maha pengasih lagi maha bijaksana. Tak mungkin ada luput menimbang amalan manusia. Semoga ridho Allah ada pada kita semua, dunia dan akhirat.(DPM)

Komentar

  1. Arman Zegaisme29 Maret 2014 05.44

    duh. aku jadi merasa tertohok juga nih. aku masih berlumur dosa juga, tapi begitu berani berharap surga hanya karna secuil kebaikan.

    bener banget. kita harus melakukan kebaikan bukan utk imbalan surga, tapi karena kita memang harus melakukannya

    BalasHapus
  2. bener juga ya... *kemudian merenung*

    BalasHapus
  3. hati-hati jangan kelamaan merenungnya, bisa kesambet. hehe. ya bagaimanapun, manusia hanya bisa berusaha dan berekspektasi, nanti pula Allah yang memutuskan.

    BalasHapus
  4. sama-sama sob. ini buat intropeksi pribadi juga :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Tulisan Lainnya

Tegnologi Membuka Peluang Tunanetra Berkarya dengan Mendongeng

 Pagi ini (15-09-2021) memulai tugas sebagai juri lomba dongeng untuk siswa tunanetra jenjang SMP dan SMPLB nasional dalam rangka Hari Bahasa 2021. Kegiatan yang diadakan oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini dimulai dengan webinar dimana saya menjadi salah satu pematerinya bersama pak Marja (dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ) dan ka Rona Mentari (juru dongeng keliling / pendiri Rumah Dongeng Mentari). Satu topik yang coba saya kemukakan dalam diskusi yaitu bagaimana teknologi membuka peluang untuk tunanetra berkarya dengan dongeng. Dimulai dengan fakta bahwa keterampilan berbicara / olah vokal menjadi salah satu kekuatan yang dapat dieksplorasi oleh seorang dengan hambatan penglihatan. Kegiatan mendongeng yang berfokus pada penyampaian narasi, intonasi, karakter vokal, dan dinamika suara, seyogyanya menjadi potensi besar tunanetra dapat berkarya. Lalu ditambah dengan perkembangan teknologi komputer bicara, memungkinkan tunanetra mempublik

Cara Tunanetra Orientasi Kamar Hotel

Kembali di video series Get Closer with VIP. Kali ini saya berbagi tips bagaimana seorang tunanetra secara mandiri orientasi ketika menginap di kamar hotel. Ada tips sederhana yang dapat dilakukan sehingga meski menginap sendiri di kamar, tunanetra dapat memanfaatkan semua fasilitas dengan optimal dan aman. Hal ini dapat ditiru buat teman-teman netra yang akan menginap di hotel atau penginapan untuk kegiatan tertentu atau liburan. Juga tips di video ini dapat diterapkan oleh teman-teman berpenglihatan / awas yang ingin membantu seorang tunanetra untuk orientasi pertama kali di kamar hotel yang baru didatangi. Beberapa poin dalam video ini untuk bantu orientasi tunanetra di kamar hotel: 1. Keliling isi dalam kamar dengan sentuh dinding dan objek-objek yang ada di dalamnya. 2. Orientasi di kamarmandi, termasuk cara buka kran air, mana kran air panas dan dingin, dll. 3. Sentuh posisi-posisi stop kontak atau sumber listrik. Lebih lengkap lagi tonton video-nya sampai habis ya.Subscribe juga

Ada yang Kamu Suka dari PSBB di Pandemi Covid19 ini?

Tangerang - Bukan ingin menafikan dampak negatif dari musibah Covid ini ya guys. Tapi sebagaimana tiap peristiwa, pasti bisa dilihat dari berbagai perspektif. Musibah pun akan selalu dapat kita temukan sisi positifnya jika memang ingin. Sebab segala sesuatu jika ingin dilihat dulu dari sisi positifnya, Insya Allah akan terasa lebih ringan, meski tidak meniadakan bebannya. Nah, apa hal positif yang kamu rasa dari Covid ini? Kalau saya sih ini. Akhirnya, Diakui Ayah oleh Anak. Putri saya sekarang hampir usia 1 tahun. Ketika masih kerja aktif masuk ke kantor, mungkin dia merasa asing dengan bapaknya. Bagaimana tidak, berangkat kerja sebelum matahari terbit sekitar jam 5.30 karena mengejar bus Trans Jakarta dari Ciledug, lalu pulang mayoritas jam 7 malam dan baru sampai rumah sekitar jam 9 malam kalau ada lemburan RDK / kegiatan. Praktis, putri saya cuma kenal bapaknya pas hari libur saja, yang itu pun kadang masih disita waktunya sebagian dengan herus belajar dan menangani keperluan komun