Langsung ke konten utama

Puasanya Anak Sekolah Taman Kanak-Kanak

Ketika bulan suci Ramadan, sejuk hati ini menemui masjid-masjid yang ramai dipenuhi jamaah, para pedagang penuh berjualan makanan khas berbuka di sore hari, dan pernak-pernik lainnya. Lebih menenangkan lagi bagaimana toleransi antar umat beragama atau mereka yang sedang tidak berpuasa menghormati yang berpuasa. Tak menunjukkan diri untukmakan dan minum di depan umum dengan alasan menghormati yang sedang puasa.

Namun hal ini menjadi lain ketika pemerintah atau ormas-ormas tertentu mengeluarkan larangan untuk restoran tidak buka di siang hari selama Ramadan. Pro kontra akhirnya muncul dan lebih cenderung ke sikap sinis yang menganggap mereka melanggar hak warga beragama lain karena memaksa untuk tutup di siang hari. Menurut aku pribadi, aturan itu seperti bumerang yang seakan-akan menunjukkan puasanya anak kelas taman kanak-kanak. Mental anak ketika melihat orang lain makan atau minum lalu kepengen juga melakukan hal yang sama lantas menyalahkan orang lain karena menyebabkan puasanya batal.

Saat mendengarkan radio Elshinta hari ini ada tausiyah dari ustadz yang menarik. Beliau menerangkan bahwa ada dua kelompok orang menyambut bulan Ramadan yaitu yang terpengaruh dan yang tidak terpengaruh. Lalu masing-masing kelompok di bagi dua lagi. Kelompok pertama yaitu mereka yang ketika datang bulan puasa, langsung heboh dengan baju baru, makanan serba enak saat berbuka, dll. Padahal kesehariannya tidak begitu rajin dalam ibadah. Kalompok ini adalah orang-orang munafik yang setelah Ramadan akan kembali pada kondisi sedia kala. Sedangkan kelompok kedua adalah mereka yang mendapat hikmah Ramadan dan benar-benar meningkatkan ibadahnya. Apabila sebelumnya tak pernah sholat jadi rajin sholat, sebelumnya kikir menjadi dermawan, dll. Mereka ini adalah kelompok orang yang mendapatkan hikmah dan setelah Ramadan akan tetap terjaga konsistensinya.

Sedangkan kelompok ketiga adalah mereka yang tak perpengaruh dengan bulan Ramadan. Mau Ramadan atau tidak, tetap saja tidak sembahyang, beramal, dll. Tak peduli dengan kehadiran bulan suci yang di dalamnya tiap ibadah dilipat-gandakan. Sedangkan kelompok terakhir, mereka yang tak terlalu terpengaruh dengan bulan Ramadan karena sehari-hari di luar bulan suci pun sudah beribadah dengan baik. Meski di Ramadan, tentu ada peningkatan level sedikit untuk meraih benefit.

Kelakuan oknum pemerintah di beberapa daerah mengingatkan pada kelompok pertama. Ketika menjelang bulan Ramadan, mengeluarkan peraturan agar restoran dan warung makan tidak buka siang hari. Diskotik-diskotik ditutup dan miras dirazia. Alasannya agar tidak mengotori kesucian bulan Ramadan. Padahal mau berpolah seperti apapun manusia, kesucian Ramadan tak akan terkotori. Malah kesannya hal-hal tersebut hanya dilarang pada Ramadan yang padahal tidak. Ramadan adalah ajang evaluasi diri dari ibadah sehari-hari di bulan-bulan sebelumnya.

Hemat saya, tak perlulah heboh dengan bulan Ramadan untuk melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan juga pada bulan-bulan biasa. Percuma jika diluruskan selama Ramadan, tapi bulan-bulan berikutnya kembali seperti sedia kala. Apabila memang dinilai diskotik menjadi sarang maksiat, beranikah pemda menutup secara permanen? Sedangkan pemasukan dari pajak hiburan itu cukup besar? Jika ingin, lakukanlah juga setelah Ramadan berakhir dan seterusnya.

Tinggal bagaimana umat muslim menyikapi berbagai tantangan yang ada di sekitarnya. Fokuslah dulu pada perbaikan diri sendiri dan keluarga. Jika semua Muslim menerapkan prinsip itu, maka perubahan masal juga akan terjadi. Jangan sampai menimbulkan kesan arogansi mayoritas yang berbuat seenaknya kepada mereka yang dianggap tidak sepaham. Apabila ingin dihormati, maka hormatilah dulu diri sendiri. Bukan dengan memaksa agar warung makan tutup siang hari. Pemilik warung juga tahu jika konsumen menurun dan tidak sebanding dengan biaya produksi dan karyawan, juga lebih memilih buka di sore hari menjelang Maghrib. Tak perlu juga karena ingin “dihormati” maka hak orang-orang yang memang tidak berpuasa, belum, atau tidak mau puasa jadi terganggu. Dakwah yang terbaik itu dari perbuatan dan suri tauladan, bukan hanya kata apalagi amarah. Semoga Allah meridhoi jalan kita semua, sehingga menjadi Muslim yang dewasa, tidak bermental seperti anak sekolah taman kanak-kanak.(DPM)

Komentar

Tulisan Lainnya

Tegnologi Membuka Peluang Tunanetra Berkarya dengan Mendongeng

 Pagi ini (15-09-2021) memulai tugas sebagai juri lomba dongeng untuk siswa tunanetra jenjang SMP dan SMPLB nasional dalam rangka Hari Bahasa 2021. Kegiatan yang diadakan oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini dimulai dengan webinar dimana saya menjadi salah satu pematerinya bersama pak Marja (dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ) dan ka Rona Mentari (juru dongeng keliling / pendiri Rumah Dongeng Mentari). Satu topik yang coba saya kemukakan dalam diskusi yaitu bagaimana teknologi membuka peluang untuk tunanetra berkarya dengan dongeng. Dimulai dengan fakta bahwa keterampilan berbicara / olah vokal menjadi salah satu kekuatan yang dapat dieksplorasi oleh seorang dengan hambatan penglihatan. Kegiatan mendongeng yang berfokus pada penyampaian narasi, intonasi, karakter vokal, dan dinamika suara, seyogyanya menjadi potensi besar tunanetra dapat berkarya. Lalu ditambah dengan perkembangan teknologi komputer bicara, memungkinkan tunanetra mempublik

Cara Tunanetra Orientasi Kamar Hotel

Kembali di video series Get Closer with VIP. Kali ini saya berbagi tips bagaimana seorang tunanetra secara mandiri orientasi ketika menginap di kamar hotel. Ada tips sederhana yang dapat dilakukan sehingga meski menginap sendiri di kamar, tunanetra dapat memanfaatkan semua fasilitas dengan optimal dan aman. Hal ini dapat ditiru buat teman-teman netra yang akan menginap di hotel atau penginapan untuk kegiatan tertentu atau liburan. Juga tips di video ini dapat diterapkan oleh teman-teman berpenglihatan / awas yang ingin membantu seorang tunanetra untuk orientasi pertama kali di kamar hotel yang baru didatangi. Beberapa poin dalam video ini untuk bantu orientasi tunanetra di kamar hotel: 1. Keliling isi dalam kamar dengan sentuh dinding dan objek-objek yang ada di dalamnya. 2. Orientasi di kamarmandi, termasuk cara buka kran air, mana kran air panas dan dingin, dll. 3. Sentuh posisi-posisi stop kontak atau sumber listrik. Lebih lengkap lagi tonton video-nya sampai habis ya.Subscribe juga

Ada yang Kamu Suka dari PSBB di Pandemi Covid19 ini?

Tangerang - Bukan ingin menafikan dampak negatif dari musibah Covid ini ya guys. Tapi sebagaimana tiap peristiwa, pasti bisa dilihat dari berbagai perspektif. Musibah pun akan selalu dapat kita temukan sisi positifnya jika memang ingin. Sebab segala sesuatu jika ingin dilihat dulu dari sisi positifnya, Insya Allah akan terasa lebih ringan, meski tidak meniadakan bebannya. Nah, apa hal positif yang kamu rasa dari Covid ini? Kalau saya sih ini. Akhirnya, Diakui Ayah oleh Anak. Putri saya sekarang hampir usia 1 tahun. Ketika masih kerja aktif masuk ke kantor, mungkin dia merasa asing dengan bapaknya. Bagaimana tidak, berangkat kerja sebelum matahari terbit sekitar jam 5.30 karena mengejar bus Trans Jakarta dari Ciledug, lalu pulang mayoritas jam 7 malam dan baru sampai rumah sekitar jam 9 malam kalau ada lemburan RDK / kegiatan. Praktis, putri saya cuma kenal bapaknya pas hari libur saja, yang itu pun kadang masih disita waktunya sebagian dengan herus belajar dan menangani keperluan komun