Skip to main content

"Menyiduk" Inspirasi dari Buku #101YoungCEO by @IlmanAkbar

Siang ini, aku kedatangan paket buku yang dipesan di akhir bulan Juli kemarin via online. Pertama kali membeli buku melalui jalur ini dan dengan sistem pre-order pula. Buku ini berjudul 101 Young CEO atau sederhananya 101 juragan muda. Jujur, aku belum mulai membaca buku yang penampakan fisiknya cukup tebal. Masih harus menunggu komputer PC mendapatkan hardisk baru, jadi bisa melakukan scanning buku. Insya Allah minggu depan sudah dapat mulai membaca. Jadi, pada tulisan ini, bukan mengenai isi buku yang akan dibahas, tapi mengapa aku order dan membutuhkan buku 101 Young CEO.

Penulis buku ini adalah seorang yang sudah kukenal semasa kuliah. Ka Ilman Akbar, adalah senior beda fakultas karena ia kuliah di jurusan Ilmu Komputer angkatan 2005 kalo tak salah. Ka Ilman kukenal sebagai mahasiswa yang punya banyak prestasi dan salah satunya adalah Mahasiswa Berprestasi di UI. Pernah ketika jadi koordinator acara di kompetisi ilmiah fakultas, aku mengundang beliau untuk berbagi pengalaman ke mahasiswa FIB.

Sebetulnya, tidak sepenuhnya karena aku mengenal penulisnya maka membeli buku pertama tulisan ka Ilman ini. Saat masa pre-order, Ka Ilman banyak mempromosikan buku ini via Twitter. Ketika membaca judul “101 Young CEO”, ada satu dorongan yang mengatakan dalam fikiran bahwa buku ini harus kubeli. Harga pre-order buku ini adalah Rp 41.600 plus ongkos kirim. Bukan karena saat resmi terbit di toko-toko buku di bulan Agustus harganya akan naik jadi Rp 52.000, entah ada dorongan yang membuat tanpa berfikir dua kali langsung order buku ini bulan lalu.

Setelah direnungkan lagi, mungkin ada beberapa alasan memilih buku ini. Pertama, kata “young” dan “CEO” menurutku betul-betul menarik. Sedari kuliah, punya cita-cita untuk memiliki usaha yang selain bernilai komersial, tapi juga ada nilai empowering. Salah satunya dilakukan di Kartunet Community. Nilai pemberdayaannya sih sudah dapat, tapi komersial yang memungkinkan agar tetap sustain ini yang belum. Dari para Juragan Muda ini ingin belajar.

Banyak sebetulnya skill yang aku miliki. Sebagai lulusan Sastra Inggris, aku punya skill di bidang translating dan interpreting, dan aku tak keberatan untuk menekuni profesi tersebut. Selain itu aku juga tertarik di bidang IT, punya pengetahuan untuk website building, social media management, dan juga Search Engine Optimazation (SEO). Potensial sebetulnya untuk membuat jasa pembuatan website. Lalu, aku juga suka menulis dan saat ini sedang mendisiplikan diri sebagai seorang blogger. Potensial juga jika masuk ke dunia jurnalistik karena punya minat di bidang itu. Tak ketinggalan satu hal lain aku ingin pula menjadi penulis, menghasilkan buku yang dapat dirasakan manfaatnya oleh dunia. Banyak hal yang aku inginkan, tapi belum ada satupun yang optimal. Seperti ketika membuat skripsi dan banyak topik menarik yang terfikirkan, akhirnya tak ada yang kelar. Maka, aku ingin belajar dari buku ini.

Selain itu, fakta bahwa ini buku pertama ka Ilman juga menarik. Dalam waktu dekat, aku ingin dapat menulis dan menerbitkan sebuah buku. Ingin banyak belajar dari mulai penyajian isi buku, strategi promosi, dan hal-hal lainnya yang menjadikan buku pertama dapat laris di pasaran buku. Apalagi beliau juga ikut mempromosikan via online dengan menyediakan website khusus buku ini. Salah satu strategi yang ingin aku pelajari.

Banyak pengalaman yang aku miliki dan ingin menulisnya dalam buku. Skill untuk menulis pun Insya Allah sudah ada dari beberapa tulisan pendek berupa esai atau cerpen. Beberapa juga pernah diterbitkan di koran nasional atau memenangi lomba menulis. Namun, aku tak dapat sendiri, perlu arahan dari penulis yang sudah berpengalaman bagaimana untuk memulai dan mengakhirinya dalam buku yang bermanfaat. Salah seorang yang mungkin dapat membantuku ada bang Komar Bekasi, penulis beberapa buku Islam yang sudah banyak ngobrol ketika mengikuti ASEAN Blogger Festival di Solo bulan Mei lalu. Setelah ini, aku akan mulai banyak konsultasi dengan beliau dan juga penulis-penulis kenalanku lainnya.

Pada kesimpulannya, aku ingin banyak belajar dari buku ini dan hal-hal lain di luarnya. Termasuk dari penulisnya, penerbitnya, penyajiannya, dan pemicu cita-citaku. Aku ingin dapat menjadi sesuatu, ingin semuanya, tapi pasti ada hal yang perlu dijadikan prioritas. Dari buku ini aku ingin menciduk inspirasi, bukan sekedar mengambil dan meminumnya. Menciduk dari wadah asal, untuk dipindahkan ke wadah lain yang berbeda bentuk. Akan jadi pemicu, untuk mendorongku pada sesuatu yang memang cocok buat masa depanku. Nah, apakah kamu punya pemikiran yang serupa denganku? Ditunggu masukkan dan ceritanya di kolom komentar.(DPM)

Comments

  1. sama bang, pengen banget nulis buku tp ga jadi2 :/

    ReplyDelete
  2. menohok nih. hehe. memang perlu komitmen dan persistensi buat bisa nulis buku. saat ini belajar dulu dari para penulis yang udah menerbitkan buku. siapa tahu suatu waktu kecpritan semangatnya :D

    ReplyDelete
  3. sering lihat bang dimas ini seliweran tiap hari krn tiap hari juga update blog.. :D
    dari tulisan ini mungkin masnya ingin buat buku ya..
    semangat :D

    ReplyDelete
  4. Semangat, Bang! Semoga cepat segera terbit bukunya :-).

    ReplyDelete
  5. wah terima kasih ya sudah berkunjung dan berkomentar :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Tulisan Lainnya

Tegnologi Membuka Peluang Tunanetra Berkarya dengan Mendongeng

 Pagi ini (15-09-2021) memulai tugas sebagai juri lomba dongeng untuk siswa tunanetra jenjang SMP dan SMPLB nasional dalam rangka Hari Bahasa 2021. Kegiatan yang diadakan oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini dimulai dengan webinar dimana saya menjadi salah satu pematerinya bersama pak Marja (dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ) dan ka Rona Mentari (juru dongeng keliling / pendiri Rumah Dongeng Mentari). Satu topik yang coba saya kemukakan dalam diskusi yaitu bagaimana teknologi membuka peluang untuk tunanetra berkarya dengan dongeng. Dimulai dengan fakta bahwa keterampilan berbicara / olah vokal menjadi salah satu kekuatan yang dapat dieksplorasi oleh seorang dengan hambatan penglihatan. Kegiatan mendongeng yang berfokus pada penyampaian narasi, intonasi, karakter vokal, dan dinamika suara, seyogyanya menjadi potensi besar tunanetra dapat berkarya. Lalu ditambah dengan perkembangan teknologi komputer bicara, memungkinkan tunanetra mempublik

Cara Tunanetra Orientasi Kamar Hotel

Kembali di video series Get Closer with VIP. Kali ini saya berbagi tips bagaimana seorang tunanetra secara mandiri orientasi ketika menginap di kamar hotel. Ada tips sederhana yang dapat dilakukan sehingga meski menginap sendiri di kamar, tunanetra dapat memanfaatkan semua fasilitas dengan optimal dan aman. Hal ini dapat ditiru buat teman-teman netra yang akan menginap di hotel atau penginapan untuk kegiatan tertentu atau liburan. Juga tips di video ini dapat diterapkan oleh teman-teman berpenglihatan / awas yang ingin membantu seorang tunanetra untuk orientasi pertama kali di kamar hotel yang baru didatangi. Beberapa poin dalam video ini untuk bantu orientasi tunanetra di kamar hotel: 1. Keliling isi dalam kamar dengan sentuh dinding dan objek-objek yang ada di dalamnya. 2. Orientasi di kamarmandi, termasuk cara buka kran air, mana kran air panas dan dingin, dll. 3. Sentuh posisi-posisi stop kontak atau sumber listrik. Lebih lengkap lagi tonton video-nya sampai habis ya.Subscribe juga

Ada yang Kamu Suka dari PSBB di Pandemi Covid19 ini?

Tangerang - Bukan ingin menafikan dampak negatif dari musibah Covid ini ya guys. Tapi sebagaimana tiap peristiwa, pasti bisa dilihat dari berbagai perspektif. Musibah pun akan selalu dapat kita temukan sisi positifnya jika memang ingin. Sebab segala sesuatu jika ingin dilihat dulu dari sisi positifnya, Insya Allah akan terasa lebih ringan, meski tidak meniadakan bebannya. Nah, apa hal positif yang kamu rasa dari Covid ini? Kalau saya sih ini. Akhirnya, Diakui Ayah oleh Anak. Putri saya sekarang hampir usia 1 tahun. Ketika masih kerja aktif masuk ke kantor, mungkin dia merasa asing dengan bapaknya. Bagaimana tidak, berangkat kerja sebelum matahari terbit sekitar jam 5.30 karena mengejar bus Trans Jakarta dari Ciledug, lalu pulang mayoritas jam 7 malam dan baru sampai rumah sekitar jam 9 malam kalau ada lemburan RDK / kegiatan. Praktis, putri saya cuma kenal bapaknya pas hari libur saja, yang itu pun kadang masih disita waktunya sebagian dengan herus belajar dan menangani keperluan komun