Langsung ke konten utama

Abstraksi Cinta 12

Ada yang mengatakan bahwa cinta tak dapat dipaksakan. Ada pula yang berpendapat bahwa cinta tak harus memiliki. Apakah itu hukum yang harus dipatuhi semua orang yang memiliki rasa cinta di hatinya? Atau hanya kaidah-kaidah dalam sinetron dan buku roman yang bukan tak mungkin tak berlaku untuk semua orang? Namun satu hal yang pasti. Dimana ada awal, pasti ada akhir. Entah akhirnya baik atau tidak, tergantung dari sudut mana kita memandangnya.

Ada kalanya ketika cinta berakhir, maka hati akan tersakiti. Biasanya ada dua hal dampak dari peristiwa ini. Pertama, ia akan menyalahkan si mantan yang seakan meninggalkannya, mengkhianatinya, menyakitinya. Ia merasa sudah melakukan segalanya dan sebuah kesalahan bahwa hubungan itu harus berakhir. Ada yang marah atau kecewa karena berfikir bahwa ia ditinggalkan karena si mantan tak mau menerima kekurangan pada dirinya. Ia menyalahkan orang lain karena itu.

Selain itu, ada orang yang malah menyalahkan dirinya, dan menganggap bahwa semua adalah kesalahannya maka hubungan itu berakhir. Tipe kedua ini tak ingin menyalahkan orang lain dan hanya ingin fokus untuk intropeksi, terus mencari-cari apa yang menjadi kesalahannya. Tapi dampaknya dia dapat terus larut dalam rasa bersalah dan ujung-ujngnya merasakan sakit yang mendalam.

Segala sesuatu kembali lagi pada sudut pandang mana kita mau memilih. Apakah ingin jadi pecundang dengan terus meratapi diri dan berfikir bahwa kita telah disakiti hingga terpuruk? Atau mau bergeser ke sisi yang berbeda dan berasumsi bahwa mungkin saja si mantan juga terluka dan bukan kita makhluk paling menderita di dunia? Tak ada manfaat orang lain tahu apa yang kita derita dan rasakan. Cukup hanya kita yang tahu. Sebab mungkin di balik senyum tegar seseorang, tersimpan pedih yang dalam, dan tak akan orang lain tahu.

Rasa rendah diri pun dapat memperburuk keadaan. Ketika ia disakiti, maka akan cenderung berfikir bahwa ini semua karena kekurangan yang dimiliki. Padahal, bisa jadi sebab faktor-faktor lain yang tak berada absolut di dirinya. Namun mental block yang ada, membuatnya terkadang sulit untuk keluar dari situasi itu. Efeknya akan terjadi sekaligus yaitu menyalahkan dia yang tak mau menerima dirinya apa adanya, dan menyalahkan diri disebabkan tak mampu berbuat apa yang selayaknya dapat dilakukan oleh orang lain.

Parameter-parameter umum yang berlaku dapat menjadi beban bagi dirinya. Ia terpaku pada apa yang dapat dilakukan orang lain, bukan pada apa yang dapat dilakukan olehnya secara sempurna. Ia belum dapat menerima dirinya, mengakui kelebihannya, dan melihat bahwa dirinya berharga untuk dicintai. Ia belum menyadari bahwa banyak jalan menuju Roma. Tak hanya dengan satu jalan konvensional untuk mencapai garis finish, akan tetapi banyak jalur lainnya meski terkadang harus memutar. Ia masih takut untuk berbeda, dan berani mengatakan bahwa ia dapat melakukan apa yang dapat dilakukan orang lain, meski dengan jalan yang berbeda.

Belum tentu dia tak mencintaimu karena sesuatu yang kau yakini sebagai kekurangan atau kesalahanmu. Mungkin saja benar, tapi belum pasti begitu. Kadang kita saja yang "asik" dalam dunia keputus-asaan yang dibuat sendiri, dan membenamkan diri di dalamnya. Apabila dari sudut pandang yang lain, toh buat apa mencintai seseorang yang tak mau mencintai kamu apa adanya? Apa yang ada dunia tak akan kekal, dan manusia akan selalu berubah. Cari dia yang mau mencintaimu apa adanya, sebab yang dia cintai sesungguhnya bukan kamu tapi Allah yang menciptakan kamu. Sebab karena Tuhannya dia mencintai kamu, dan dasar cinta yang abadi juga akan menghasilkan kasih sayang yang kekal pula.

Akhirnya, tulisan ini mengantarkan pada sebuah pernyataan dan ironi yang pernah dikatakan seseorang pada penulis. Bahwa cinta tak dapat dipaksakan. Persoalan pada akhirnya cinta itu tak berpihak padamu, bukan salah kamu atau dirinya. You're just simply not ment to be. Namun ada pula pertanyaan dari hal tersebut. Dapatkah kita memaksakan untuk tidak mencintai seseorang? (DPM)

Komentar

Tulisan Lainnya

Tegnologi Membuka Peluang Tunanetra Berkarya dengan Mendongeng

 Pagi ini (15-09-2021) memulai tugas sebagai juri lomba dongeng untuk siswa tunanetra jenjang SMP dan SMPLB nasional dalam rangka Hari Bahasa 2021. Kegiatan yang diadakan oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini dimulai dengan webinar dimana saya menjadi salah satu pematerinya bersama pak Marja (dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ) dan ka Rona Mentari (juru dongeng keliling / pendiri Rumah Dongeng Mentari). Satu topik yang coba saya kemukakan dalam diskusi yaitu bagaimana teknologi membuka peluang untuk tunanetra berkarya dengan dongeng. Dimulai dengan fakta bahwa keterampilan berbicara / olah vokal menjadi salah satu kekuatan yang dapat dieksplorasi oleh seorang dengan hambatan penglihatan. Kegiatan mendongeng yang berfokus pada penyampaian narasi, intonasi, karakter vokal, dan dinamika suara, seyogyanya menjadi potensi besar tunanetra dapat berkarya. Lalu ditambah dengan perkembangan teknologi komputer bicara, memungkinkan tunanetra mempublik

Cara Tunanetra Orientasi Kamar Hotel

Kembali di video series Get Closer with VIP. Kali ini saya berbagi tips bagaimana seorang tunanetra secara mandiri orientasi ketika menginap di kamar hotel. Ada tips sederhana yang dapat dilakukan sehingga meski menginap sendiri di kamar, tunanetra dapat memanfaatkan semua fasilitas dengan optimal dan aman. Hal ini dapat ditiru buat teman-teman netra yang akan menginap di hotel atau penginapan untuk kegiatan tertentu atau liburan. Juga tips di video ini dapat diterapkan oleh teman-teman berpenglihatan / awas yang ingin membantu seorang tunanetra untuk orientasi pertama kali di kamar hotel yang baru didatangi. Beberapa poin dalam video ini untuk bantu orientasi tunanetra di kamar hotel: 1. Keliling isi dalam kamar dengan sentuh dinding dan objek-objek yang ada di dalamnya. 2. Orientasi di kamarmandi, termasuk cara buka kran air, mana kran air panas dan dingin, dll. 3. Sentuh posisi-posisi stop kontak atau sumber listrik. Lebih lengkap lagi tonton video-nya sampai habis ya.Subscribe juga

Ada yang Kamu Suka dari PSBB di Pandemi Covid19 ini?

Tangerang - Bukan ingin menafikan dampak negatif dari musibah Covid ini ya guys. Tapi sebagaimana tiap peristiwa, pasti bisa dilihat dari berbagai perspektif. Musibah pun akan selalu dapat kita temukan sisi positifnya jika memang ingin. Sebab segala sesuatu jika ingin dilihat dulu dari sisi positifnya, Insya Allah akan terasa lebih ringan, meski tidak meniadakan bebannya. Nah, apa hal positif yang kamu rasa dari Covid ini? Kalau saya sih ini. Akhirnya, Diakui Ayah oleh Anak. Putri saya sekarang hampir usia 1 tahun. Ketika masih kerja aktif masuk ke kantor, mungkin dia merasa asing dengan bapaknya. Bagaimana tidak, berangkat kerja sebelum matahari terbit sekitar jam 5.30 karena mengejar bus Trans Jakarta dari Ciledug, lalu pulang mayoritas jam 7 malam dan baru sampai rumah sekitar jam 9 malam kalau ada lemburan RDK / kegiatan. Praktis, putri saya cuma kenal bapaknya pas hari libur saja, yang itu pun kadang masih disita waktunya sebagian dengan herus belajar dan menangani keperluan komun