Skip to main content

Allah Tahu Apa yang Lebih Baik dan Terbaik

Adelaide - Manusia kadang berharap pada sesuatu dan gagal, atau lebih tepatnya belum diizinkan oleh Allah. Ada pula yang tidak membuat rencana apa-apa, tapi apa yang diinginkan terwujud lebih cepat dari apa yang ia harapkan. Allah sudah mengatur semuanya, tiap orang punya jalannya masing-masing. Namun dari semua itu, ada sesuatu yang kadang ditunda, untuk diberikan pada saat yang setelah kita fikirkan, adalah yang terbaik. Pengorbanan waktu di 2012, dibayar manis oleh Allah dengan pengalaman di luar negeri untuk yang pertama kalinya, Australia.

Selama kurang lebih tiga bulan, 1 September - 23 November 2013, aku mengikuti program Australia Awards Fellowship (dahulunya bernama Australian Leadership Awards) yang diselenggarakan oleh Gender Consortium di Flinders University, South Australia. Program ini disponsori oleh AusAID, untuk mengembangkan skill kepemimpinan para emerging leaders di negara-negara berkembang. Tema yang diangkat dalam short course 3 bulan ini yaitu Gender and Disability. Ada 16 orang peserta short course termasuk aku yang berasal dari empat negara: Indonesia, Kamboja, Vietnam, dan Mongolia. Kami tinggal di apartemen yang lumayan bagus, di 74 Franklin Street.

Sebelum kesempatan ini, sebetulnya ada satu peluang juga untuk berangkat ke Australia pada program yang hampir serupa. Pihak sponsor sama dari AusAID dengan ALA Fellowshipnya, akan tetapi penyelenggara dari University of Queensland bekerjasama dengan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni). Perbedaan lainnya adalah durasi program tidak selama yang akhirnya aku ikuti. Hanya selama 5 minggu jika tak salah.

Tawaran untuk mengisi formulir datang dari Pertuni melalui ketua umumnya pak Didi Tarsidi di akhir tahun 2011. Calon peserta yang nanti lolos seleksi akan diberangkatkan ke Australia untuk mengikuti program di pertengahan tahun 2012. Buatku, tentu tak ada alasan untuk tidak mengikuti karena persyaratannya pun tak ada yang sulit. Hanya perlu mengirimkan CV dan mengisi formulir yang di dalamnya ada motivation letter. Hingga kahirnya aku gagal karena terlambat beberapa jam untuk mengirimkan kembali formulir yang telah diisi via email.

Entah apa yang aku lakukan saat itu hingga gagal sebelum berkas mulai diseleksi. Mungkin saja saat itu masih ada rasa takut di alam bawah sadar mengenai bepergian ke luar negeri, jauh dari keluarga. Mungkin pula ini jadi kesalahanku yang kadang kerap menunda-nunda pekerjaan. Well, aku akui itu, dan aku bertekad untuk selalu memperbaiki diri. Namun di luar dari semua itu, bisa jadi memang Allah belum mengizinkan untuk mengikuti program di tahun 2012. Aku diminta untuk fokus menyelesaikan amanah dan merasakan sulitnya perjuangan serta pengorbanan. Tok pada akhirnya, aku diberikan sesuatu yang lebih baik di paruh kedua tahun 2013.

Setelah direnungkan lagi, jelas program ALA Fellowship di tahun 2013 yang berhasil aku dapatkan lebih prospektif dibanding yang gagal aku ikuti. Pertama, dari segi program. ALA Fellowship di Flinders memberikan pelatihan mengenai isu Gender dan Disability, dua isu yang saling beririsan, dan ternyata sangat penting. Dari segi peserta, di program ini pun lebih membuka peluang networking dan pertemanan karena pesertanya dari empat negara berkembang. Berbeda dengan program yang pihak Australia bekerja sama dengan Pertuni dimana peserta kesemuanya berasal dari Indonesia. Selain itu, dari durasi program, program yang aku ikuti lebih lama yaitu hampir 3 bulan. Jelas memberikan lebih banyak pengalaman dan waktu untuk menikmati kota yang menenangkan hati seperti Adelaide.

Allah memang selalu tahu apa yang lebih baik, dan jadi yang terbaik untuk hambanya. Manusia biasanya hanya dapat protes, dan mengeluh mengenai nasib yang menimpa dirinya. Akan tetapi, jika ia mau merenungkannya lagi, dengan dasar keyakinan bahwa Allah maha pengasih dan penyayang, maka segala sesuatu tentu ada hikmahnya. Alhamdulillah, aku memperoleh kesempatan ini, yang tidak semua orang dapat merasakannya.

Oia, di post ini, aku sertakan foto dokumentasi ketika panel discussion di Symposium 15 November 2013 yang memaparkan tugas akhir kami di program ALA Fellowship berupa Policy Paper. Policy Paper tersebut dibuat secara berkelompok dalam tim negara masing-masing, dan berisi tinjauan atas kebijakan pemerintah serta rekomendasi terkait isu gender and disability. Pada panel tersebut, aku berkesempatan untuk duduk dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari audience yang mayoritas adalah White Aussies.

Pada panel tersebut, duduk berurut dari kiri ke kanan yaitu Linh dari Vietnam, Aku dari Indonesia, Ene dari Mongolia, dan Sochetra dari Kamboja. Di sana benar-benar hanya aku yang paling junior dan belum settled sama sekali. Masih free lance serabutan. Misal bandingkan dengan Mrs Sochetra yang punya posisi penting di Kementrian Sosialnya Kamboja, terus Ene yang jurnalis berpengaruh di negaranya, dan Linh yang bekerja untuk American NGO di Hanoi. Tapi Alhamdulillah aku ga minder, dan selalu coba untuk bawa nama Indonesia, meski di republik ini kemampuanku masih belum diapresiasi. Pada post berikutnya, aku akan jelaskan lebih detail mengenai kegiatanku selama di Adelaide ya.(DPM)

Comments

  1. NICE! :)
    masih belum jadi apa2 aja uda bisa ikut ke sana.
    Yuuppp ga usah minder juga, justru harusnya bangga. Mungkin dari pengalaman ini bisa menjadi lebih baik lg dgn bertambahnya teman, dll.

    ReplyDelete
  2. Pengalaman, apapun bentuknya, selalu berharga....

    ReplyDelete

Post a Comment

Tulisan Lainnya

Tegnologi Membuka Peluang Tunanetra Berkarya dengan Mendongeng

 Pagi ini (15-09-2021) memulai tugas sebagai juri lomba dongeng untuk siswa tunanetra jenjang SMP dan SMPLB nasional dalam rangka Hari Bahasa 2021. Kegiatan yang diadakan oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini dimulai dengan webinar dimana saya menjadi salah satu pematerinya bersama pak Marja (dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ) dan ka Rona Mentari (juru dongeng keliling / pendiri Rumah Dongeng Mentari). Satu topik yang coba saya kemukakan dalam diskusi yaitu bagaimana teknologi membuka peluang untuk tunanetra berkarya dengan dongeng. Dimulai dengan fakta bahwa keterampilan berbicara / olah vokal menjadi salah satu kekuatan yang dapat dieksplorasi oleh seorang dengan hambatan penglihatan. Kegiatan mendongeng yang berfokus pada penyampaian narasi, intonasi, karakter vokal, dan dinamika suara, seyogyanya menjadi potensi besar tunanetra dapat berkarya. Lalu ditambah dengan perkembangan teknologi komputer bicara, memungkinkan tunanetra mempublik

Cara Tunanetra Orientasi Kamar Hotel

Kembali di video series Get Closer with VIP. Kali ini saya berbagi tips bagaimana seorang tunanetra secara mandiri orientasi ketika menginap di kamar hotel. Ada tips sederhana yang dapat dilakukan sehingga meski menginap sendiri di kamar, tunanetra dapat memanfaatkan semua fasilitas dengan optimal dan aman. Hal ini dapat ditiru buat teman-teman netra yang akan menginap di hotel atau penginapan untuk kegiatan tertentu atau liburan. Juga tips di video ini dapat diterapkan oleh teman-teman berpenglihatan / awas yang ingin membantu seorang tunanetra untuk orientasi pertama kali di kamar hotel yang baru didatangi. Beberapa poin dalam video ini untuk bantu orientasi tunanetra di kamar hotel: 1. Keliling isi dalam kamar dengan sentuh dinding dan objek-objek yang ada di dalamnya. 2. Orientasi di kamarmandi, termasuk cara buka kran air, mana kran air panas dan dingin, dll. 3. Sentuh posisi-posisi stop kontak atau sumber listrik. Lebih lengkap lagi tonton video-nya sampai habis ya.Subscribe juga

Ada yang Kamu Suka dari PSBB di Pandemi Covid19 ini?

Tangerang - Bukan ingin menafikan dampak negatif dari musibah Covid ini ya guys. Tapi sebagaimana tiap peristiwa, pasti bisa dilihat dari berbagai perspektif. Musibah pun akan selalu dapat kita temukan sisi positifnya jika memang ingin. Sebab segala sesuatu jika ingin dilihat dulu dari sisi positifnya, Insya Allah akan terasa lebih ringan, meski tidak meniadakan bebannya. Nah, apa hal positif yang kamu rasa dari Covid ini? Kalau saya sih ini. Akhirnya, Diakui Ayah oleh Anak. Putri saya sekarang hampir usia 1 tahun. Ketika masih kerja aktif masuk ke kantor, mungkin dia merasa asing dengan bapaknya. Bagaimana tidak, berangkat kerja sebelum matahari terbit sekitar jam 5.30 karena mengejar bus Trans Jakarta dari Ciledug, lalu pulang mayoritas jam 7 malam dan baru sampai rumah sekitar jam 9 malam kalau ada lemburan RDK / kegiatan. Praktis, putri saya cuma kenal bapaknya pas hari libur saja, yang itu pun kadang masih disita waktunya sebagian dengan herus belajar dan menangani keperluan komun