Langsung ke konten utama

Makan Daging Berlauk Nasi

Adelaide – Mungkin judul tulisan ini agak janggal buat kita orang Indonesia bagian barat yang mayoritas makanan pokoknya nasi. Dalam konsepsi saya, makan itu adalah dengan nasi yang dominan, lantas lauk-pauk yang lebih sedikit dari nasi sebagai penambah nutrisi. Namun apa yang terjadi di Australia, khususnya Adelaide ini berbeda. Harga beras relatif agak lebih mahal dibanding harga daging sapi apabila porsi makan yang digunakan sama dengan biasanya.

Sebagai gambaran, harga beras yang lumayan layak untuk dimakan di Coles (brand supermarket yang populer di Australia) sekitar 2AUD atau Rp 20.000 per Kg, sedangkan harga 1Kg daging kurang lebih sama dengan di Indonesia. Tak heran jika rasanya nasi seakan lebih mahal dibanding dengan lauknya. Sering jadi guyon juga bahwa hidup prihatin di negeri Kangguru ini yaitu dengan makan daging dan buah tiap hari yang rasanya tak cocok jika diterapkan di Indonesia. Sedangkan sayuran seperti kangkung atau bayam dan tempe atau tahu jadi makanan “mewah” di sini. Katanya tempe dan tahu yang di Indonesia dianggap makanan orang kecil, malah dianggap sebagai lifestyle untuk hidup sehat oleh orang Aussie.

Mmenginjak tiga pekan terakhir di Adelaide, rekan sesama dari Indonesia yang mengikuti program ALA dan sehari-hari membantu masak makanan buat saya, baru beli daging sapi di Spring Field, halal butcher yang ada di Central Market of Adelaide. Agak lebih lega karena sebelumnya hanya makan daging atau ayam dari supermarket yang secara eksplisit tidak dilabeli halal. Tapi Bismillah aja lah, Allah maha tahu. Daging yang dibeli itu sudah dikasih bumbu dan kita hanya perlu panggang di oven. Rasanya sudah lumayan enak dan tekstur yang empuk.

Ketika makan potongan daging yang lumayan besar itu tiba-tiba jadi agak sedih. Biasanya, di rumah, potongan sebesar itu bisa untuk makan empat kali. Lalu mendapati fakta bahwa potongan sebesar itu tetap empuk jadi ingat bahwa ibu di rumah biasa mensiasasi agar keluarganya tetap bisa makan daging dengan beli tetelan, lalu dimasak pakai panci presto, jadi tetap empuk. Sedangkan di sini makan daging kualitas terbaik, tinggal panggang di oven dan makan.

Terus, kadang juga kepikiran ketika menikmati es krim yang di Australia sini harganya jauh lebih murah dari Jakarta. Dua minggu lalu beli dari Coles es krim 4l Cuma 4,5AUD yang di Jakarta bisa hampir Rp 150.000. Hampir tak pernah beli es krim, apalagi yang dalam box. Kebayang pernah ibu beli es krim instan yang entah berapa cc itu, dan ketika jadi es krim tiap orang di rumah Cuma dapat jatah dua cangkir kecil es krim. Sedangkan saya di sini tiap sore bisa makan es krim dan belum tahu apakah habis satu box sampai waktunya balik ke Indonesia nanti. Pengen banget bisa bawa berkotak-kotak es krim buat mereka di rumah. Tapi itu tak mungkin.

Satu dari do’a-do’a utama saya yang tak pernah putus hanya ingin menyenangkan orang tua sebelum mereka meninggalkan saya. Coba berfikir realistis karena usia mereka sudah hampir setengah abad, dan entah sampai kapan Allah memberiku waktu untuk menunaikannya. Hanya ingin mendapatkan segera pekerjaan yang tetap dan penghasilan layak, lanjut studi S2 di luar negeri, dan menikah dengan perempuan solehah yang dapat menyayangi mereka. Apapun itu asal bisa membuat mereka sedikit bangga pada anaknya yang sudah sangat merepotkan mereka selama bertahun-tahun.

Meski saya sadar bahwa seberapapun yang dapat dicapai tak akan pernah membalas secara cukup jasa-jasa mereka. Kebayang bagaimana ketika 13 tahun lalu mulai menurun penglihatan saya, ibu sampai jual semua perhiasan untuk biaya berobat. Bapak yang hampir tiap malam mengantar buat berobat untuk saya yang tak tahan kantun dan sering tidur di motor. Juga saya yang mulai sakit di usia 12 tahun dengan kondisi emosi yang labil dan sering marah-marah. Banyak hal, banyak hutang saya ke mereka, banyak dosa saya karena hingga usia ini seharusnya sudah dapat memenuhi kebutuhan keluarga, tapi Allah belum mengizinkan.

Tinggal tiga bulan di Adelaide, di apartemen dengan fasilitas lengkap, malah makin sering jadi ingat rumah. Di sini ada mesin cuci yang dilengkapi dengan dryer yang langsung kering tanpa perlu dijemur lagi apalagi disetrika. Kepikiran buat beli mesin cuci seperti ini buat ibu di rumah, tapi ga mungkin karena listriknya pasti besar. Terus juga di sini sering makan kue-kue enak, dan pengen juga mereka di rumah paling tidak makan kue yang enaknya sama, tapi belum kesampaian buat diantar. Semoga Allah beri saya waktu untuk sedikit membalas kasih sayang mereka yang tak terhitung lagi. Amin.(DPM)

Komentar

  1. aamiin.. moga2 kita msh diberi kesempatan buat membahagiakan orang tua. :)

    BalasHapus
  2. nikmat diluar sana hanya berbentuk fisik, namun nikmat dirumah tak ternilai bentuknya,,
    semoga lekas terkabul hajatnya mas !!

    BalasHapus
  3. amin.. matur sembah nuwun ngeh mbak. anyway, baru masuk lagi nih :D

    BalasHapus
  4. amin... yup, betul sekali. Going east or going west, going home is always the best. terima kasih mas Anto..

    BalasHapus
  5. makan daging lauk nasi? haha makmur amat :D

    fandhyachmadromadhon.blogspot.com/2014/02/mengenal-kampung-fiksi.html

    BalasHapus
  6. aaah,, jadi sedih inget ortu, kalau selama ini belum berbuat banyak,,,
    semoga niatnya tercapai ya,,, fighting!!

    BalasHapus
  7. aamiin.. terima kasih. sama-sama mendoakan gan :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Tulisan Lainnya

Tegnologi Membuka Peluang Tunanetra Berkarya dengan Mendongeng

 Pagi ini (15-09-2021) memulai tugas sebagai juri lomba dongeng untuk siswa tunanetra jenjang SMP dan SMPLB nasional dalam rangka Hari Bahasa 2021. Kegiatan yang diadakan oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini dimulai dengan webinar dimana saya menjadi salah satu pematerinya bersama pak Marja (dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ) dan ka Rona Mentari (juru dongeng keliling / pendiri Rumah Dongeng Mentari). Satu topik yang coba saya kemukakan dalam diskusi yaitu bagaimana teknologi membuka peluang untuk tunanetra berkarya dengan dongeng. Dimulai dengan fakta bahwa keterampilan berbicara / olah vokal menjadi salah satu kekuatan yang dapat dieksplorasi oleh seorang dengan hambatan penglihatan. Kegiatan mendongeng yang berfokus pada penyampaian narasi, intonasi, karakter vokal, dan dinamika suara, seyogyanya menjadi potensi besar tunanetra dapat berkarya. Lalu ditambah dengan perkembangan teknologi komputer bicara, memungkinkan tunanetra mempublik

Cara Tunanetra Orientasi Kamar Hotel

Kembali di video series Get Closer with VIP. Kali ini saya berbagi tips bagaimana seorang tunanetra secara mandiri orientasi ketika menginap di kamar hotel. Ada tips sederhana yang dapat dilakukan sehingga meski menginap sendiri di kamar, tunanetra dapat memanfaatkan semua fasilitas dengan optimal dan aman. Hal ini dapat ditiru buat teman-teman netra yang akan menginap di hotel atau penginapan untuk kegiatan tertentu atau liburan. Juga tips di video ini dapat diterapkan oleh teman-teman berpenglihatan / awas yang ingin membantu seorang tunanetra untuk orientasi pertama kali di kamar hotel yang baru didatangi. Beberapa poin dalam video ini untuk bantu orientasi tunanetra di kamar hotel: 1. Keliling isi dalam kamar dengan sentuh dinding dan objek-objek yang ada di dalamnya. 2. Orientasi di kamarmandi, termasuk cara buka kran air, mana kran air panas dan dingin, dll. 3. Sentuh posisi-posisi stop kontak atau sumber listrik. Lebih lengkap lagi tonton video-nya sampai habis ya.Subscribe juga

Ada yang Kamu Suka dari PSBB di Pandemi Covid19 ini?

Tangerang - Bukan ingin menafikan dampak negatif dari musibah Covid ini ya guys. Tapi sebagaimana tiap peristiwa, pasti bisa dilihat dari berbagai perspektif. Musibah pun akan selalu dapat kita temukan sisi positifnya jika memang ingin. Sebab segala sesuatu jika ingin dilihat dulu dari sisi positifnya, Insya Allah akan terasa lebih ringan, meski tidak meniadakan bebannya. Nah, apa hal positif yang kamu rasa dari Covid ini? Kalau saya sih ini. Akhirnya, Diakui Ayah oleh Anak. Putri saya sekarang hampir usia 1 tahun. Ketika masih kerja aktif masuk ke kantor, mungkin dia merasa asing dengan bapaknya. Bagaimana tidak, berangkat kerja sebelum matahari terbit sekitar jam 5.30 karena mengejar bus Trans Jakarta dari Ciledug, lalu pulang mayoritas jam 7 malam dan baru sampai rumah sekitar jam 9 malam kalau ada lemburan RDK / kegiatan. Praktis, putri saya cuma kenal bapaknya pas hari libur saja, yang itu pun kadang masih disita waktunya sebagian dengan herus belajar dan menangani keperluan komun