Skip to main content

Belajar jadi Pengusaha dari Chairul Tanjung

"Kesempatan bukan hanya harus dicari, tapi juga dibuat" (CT). Banyak rasa yang membuncah selagi membaca buku Chairul Tanjung si Anak Singkong. Tokoh pengusaha nasional yang saat ini menjadi Menteri Koordinator Perekonomian di penghujung kabinet pak SBY ini benar-benar membuat aku termotivasi, tak sabar inginb eraksi, sekaligus menyesal. Itu juga sebabnya mengapa aku menulis ulasan sederhana ini mengenai buku tersebut, padahal aku belum selesai habis membacanya. Ups, maksudnya mendengarkan versi audiobook yang dibuat oleh perpustakaan Yayasan Mitra Netra :D

Termotivasi. Tiap kisah dalam buku pak CT alias Chairul Tanjung ini mampu memberikan motivasi kepada para pembacanya secara gamblang dan menohok. Terutama menimbang fakta kesuksesan pemilik Bank Mega ini dengan latar belakang mahasiswa FKG UI yang saat masuk kuliah sang ibu harus menjual kain halus miliknya. Bagaimana kesuksesan pak CT saat ini ternyata sudah dibangun sejak masih sekolah di bangku SMP hingga kuliah pun telah memiliki usaha sendiri, bahkan mampu membeli mobil.

Misal saat sekolah SMP, CT kecil sudah berani mengorganisir study tour yang dilakukan angkatan kelasnya. Bermodal pengalaman karena ayahnya pernah memiliki bisnis di bidang transportasi, CT memberanikan diri dan mendapatkan komisi dari pihak perusahaan untuk jasanya. Tapi ironisnya, dia hanya dapat melambaikan tangan kepada rombongan saat bus berangkat karena orang tuanya tak ada biaya. Satu hal lain yang membuatku salut adalah dia tak mau meminta belas kasihan agar dibayari ikut study tour meski banyak temannya yang dari keluarga kaya.

Lalu saat kuliah, pak CT makin menunjukkan bakatnya di bidang wirausaha. Di awal bukunya dia memulai dengan kisah sebagai juragan fotokopi kampus. Bagaimana dia mampu melihat potensi bisnis dari kegiatan fotokopi diktat dan materi kuliah rekan-rekan mahasiswanya. Bermodal dari koneksi dengan percetakan punya kakak temannya semasa SMP, dia dapat menawarkan kepada teman-teman dan dosen fotokopi yang lebih murah beberapa rupiah (dengan nilai rupiah tahun 70-an). Dengan mengambil untung beberapa rupiah dari tiap lembar yang difotokopi, dia mendapat hampir seluruh order fotokopi dari para dosen sebab harganya memang lebih murah dibanding fotokopi di dekat kampus. Luar biasa memang kejelian pak CT melihat peluang bisnis. Bahkan dia menuliskan di bukunya bahwa apapun yang dilihat saat itu di kampus, bisa jadi duit.

Ingin segera bertindak. Tiap kisah dan motivasi dalam buku CT si Anak Singkong ini membuat gemas dan memunculkan banyak lampu ide menyala di atas kepala. Beberapa yang ditekankan oleh pak CT adalah bagaimana kita harus jeli melihat peluang bisnis sebagai solusi dari permasalahan yang ada, bagaimana kita memanfaatkan networking atau jaringan pertemanan, dan juga bagaimana usaha yang kita lakukan harus dapat bermanfaat bagi banyak orang dengan sedekah. Sepertinya bagi pak CT, segala sesuatu berjalan selayaknya sudah ada yang mengatur dan manusia cukup menjalankannya dengan sebaik-baiknya.

Akan tetapi, bukan berarti pak CT tak pernah gagal. Pernah saat dia bekerja sama dengan salah satu investor sebagai kontraktor membangun pabrik sumpit, tiba-tiba calon investornya bangkrut dan tak sanggup meneruskan pembangunan pabrik. Padahal pak CT sudah menggunakan seluruh asetnya untuk modal pembangunan pabrik tersebut. Namun dengan networking yang dia punya, dia dibantu rekanannya untuk membuat pabrik itu menjadi produksi sepatu, dan akhirnya malah membuat sendal yang diekspor ke Eropa. Satu pelajaran lagi dari pak CT adalah pasti ada hikmah di balik tiap peristiwa. Mungkin jika investor pabrik sumpit itu tidak bangkrut, dia hanya akan mendapatkan bayaran untuk pembangunan pabrik. Tapi dengan kejadian itu, dia malah memiliki pabrik sendal yang berhasil.

Menyesal. Satu rasa lagi yang mengiringi sembari membaca buku ini adalah penyesalan mengapa tidak meulai seperti apa yang dilakukan oleh pak CT sejak masa sekolah hingga kampus. Sewaktu sekolah, praktis aku hanya belajar tanpa ikut organisasi apalagi memulai bisnis. Padahal saat ini aku pun mengamininya bahwa mendidik anak untuk mulai berdagang sejak dini sangatlah penting. Seperti yang dialami oleh pak CT, dalam berdagang itu ada skill komunikasi interpersonal yang diasah, kemampuan negosiasi, tidak takut pada orang, dan yang terpenting adalah menghargai proses meraih sesuatu.

Lalu pada saat kuliah, pengembangan diri bukan hanya di tahap skill, tapi lebih ke networking. Pak CT selama kuliah, dia juga aktif di organisasi mahasiswa dan juga usaha. Tapi berbagai kegiatan itu tidak mengganggu akademiknya. Kembali dengan jejaring dan resources yang dia punya, dia bahkan berhasil jadi mahasiswa terbaik nasional di masanya. Sungguh luar biasa.

Tentu kita tak dapat salahkan bunda mengandung. Tak ada gunanya pula apabila kita berandai dan menganggap bahwa kita sudah telat untuk menjadi pengusaha karena baru memulainya. Aku yakin, tak ada sesuatu yang terlambat apabila kita bersungguh-sungguh. Pelajaran penting juga yang aku ambil dari buku pak CT ini adalah untuk berkontribusi pada bangsa, kita dapat lakukan dengan caranya masing-masing. Aku setuju dengan prinsip beliau yang menjauhi politik praktis, tapi tetap kontributif dengan menjadi pengusaha yang dengan kata lain membuka lapangan kerja untuk banyak orang yang membutuhkan.

Tapi ada satu halyang ingin aku berandai di sini. Aku berandai untuk dapat belajar langsung untuk jadi pengusaha sukses seperti pak CT. Beliau adalah orang yang tak sungkan untuk berbagi ilmu dan mendorong anak bangsa untuk jadi pengusaha. Ingin sekai satu waktu dapat bertemu beliau, berkenalan, dan meminta bimbingan langsung untuk jadi pengusaha dari beliau. Semoga saja, dan mari terus berjuang menjadi lebih dari pak Chairul Tanjung. Aamiin. (DPM)

Comments

  1. ada banyak hal positif yang bisa dipelajari dari pak CT,
    saya pun sempat membeli dan membaca bukunya.
    perjuangan beliau memang terbilang... luar biasa.

    ReplyDelete

Post a Comment

Tulisan Lainnya

Tegnologi Membuka Peluang Tunanetra Berkarya dengan Mendongeng

 Pagi ini (15-09-2021) memulai tugas sebagai juri lomba dongeng untuk siswa tunanetra jenjang SMP dan SMPLB nasional dalam rangka Hari Bahasa 2021. Kegiatan yang diadakan oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini dimulai dengan webinar dimana saya menjadi salah satu pematerinya bersama pak Marja (dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ) dan ka Rona Mentari (juru dongeng keliling / pendiri Rumah Dongeng Mentari). Satu topik yang coba saya kemukakan dalam diskusi yaitu bagaimana teknologi membuka peluang untuk tunanetra berkarya dengan dongeng. Dimulai dengan fakta bahwa keterampilan berbicara / olah vokal menjadi salah satu kekuatan yang dapat dieksplorasi oleh seorang dengan hambatan penglihatan. Kegiatan mendongeng yang berfokus pada penyampaian narasi, intonasi, karakter vokal, dan dinamika suara, seyogyanya menjadi potensi besar tunanetra dapat berkarya. Lalu ditambah dengan perkembangan teknologi komputer bicara, memungkinkan tunanetra mempublik

Cara Tunanetra Orientasi Kamar Hotel

Kembali di video series Get Closer with VIP. Kali ini saya berbagi tips bagaimana seorang tunanetra secara mandiri orientasi ketika menginap di kamar hotel. Ada tips sederhana yang dapat dilakukan sehingga meski menginap sendiri di kamar, tunanetra dapat memanfaatkan semua fasilitas dengan optimal dan aman. Hal ini dapat ditiru buat teman-teman netra yang akan menginap di hotel atau penginapan untuk kegiatan tertentu atau liburan. Juga tips di video ini dapat diterapkan oleh teman-teman berpenglihatan / awas yang ingin membantu seorang tunanetra untuk orientasi pertama kali di kamar hotel yang baru didatangi. Beberapa poin dalam video ini untuk bantu orientasi tunanetra di kamar hotel: 1. Keliling isi dalam kamar dengan sentuh dinding dan objek-objek yang ada di dalamnya. 2. Orientasi di kamarmandi, termasuk cara buka kran air, mana kran air panas dan dingin, dll. 3. Sentuh posisi-posisi stop kontak atau sumber listrik. Lebih lengkap lagi tonton video-nya sampai habis ya.Subscribe juga

Ada yang Kamu Suka dari PSBB di Pandemi Covid19 ini?

Tangerang - Bukan ingin menafikan dampak negatif dari musibah Covid ini ya guys. Tapi sebagaimana tiap peristiwa, pasti bisa dilihat dari berbagai perspektif. Musibah pun akan selalu dapat kita temukan sisi positifnya jika memang ingin. Sebab segala sesuatu jika ingin dilihat dulu dari sisi positifnya, Insya Allah akan terasa lebih ringan, meski tidak meniadakan bebannya. Nah, apa hal positif yang kamu rasa dari Covid ini? Kalau saya sih ini. Akhirnya, Diakui Ayah oleh Anak. Putri saya sekarang hampir usia 1 tahun. Ketika masih kerja aktif masuk ke kantor, mungkin dia merasa asing dengan bapaknya. Bagaimana tidak, berangkat kerja sebelum matahari terbit sekitar jam 5.30 karena mengejar bus Trans Jakarta dari Ciledug, lalu pulang mayoritas jam 7 malam dan baru sampai rumah sekitar jam 9 malam kalau ada lemburan RDK / kegiatan. Praktis, putri saya cuma kenal bapaknya pas hari libur saja, yang itu pun kadang masih disita waktunya sebagian dengan herus belajar dan menangani keperluan komun