Langsung ke konten utama

Resolusi untuk Revolusi Diri di Young Leaders Talk 8

Jakarta - Membuat resolusi adalah ketika individu dengan hati dan tekad memutuskan untuk melakukan perubahan dalam hidupnya. Akan tetapi, satu resolusi saja hanya akan berdampak untuk individu itu sendiri, berbeda halnya jika resolusi dibuat secara kolektif oleh sekelompok anak muda, maka perubahan yang dihasilkan juga akan lebih besar. Kurang lebih itu topik dimana aku menjadi salah satu pembicara di acara bernama Young Leaders Talk 8 pada Selasa, 2 Desember 2014 yang diadakan di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati. Kegiatan ini terselenggara atas prakarsa Forum Indonesia Muda (FIM) regional Bandung bersama BEM jurusan Jurnalistik UIN Bandung.

Akhirnya, kembali mengunjungi Bandung. Itu yang terlintas saat sahabat yang sesama alumni di FIM angkatan 14C, Yuli Setiawan dari STT Telkom, menghubungi dan mengundang untuk berbagi di acara Young Leaders Talk (YLT) ke-78 yang rutin diadakan oleh FIM Bandung. Terakhir mengisi acara di Bandung itu sekitar tahun 2012 yaitu pada acara FK Unpad Fair. Waktu itu ada mas Andromeda Mercury, presenter TV One, sebagai moderator, dan pembicara lainnya ada mas Dik Doank.

Tapi diskusi kali ini tidak kalah keren. Selain aku, ada kang Ucay alias Noor Al-Kautsar yang merupakan vokalis band RocketRockers ikut menjadi pembicara. Sosok beliau ini menurutku luar biasa. Karena terjadi perubahan besar dari hidup sebelumnya yaitu vokalis band rock yang biasa manggung di beberapa kota dan juga cafe atau tempat hiburan malam, jadi sosok yang religius dan meninggalkan dunia gemerlap anak band dengan sekarang menjalankan bisnis sendiri. Resolusi perubahan dalam hidupnya itu terjadi ketika dia menyadari bahwa nama yang diberikan orang tuanya sejak lahir itu tidak cocok dengan kegiatannya sebagai anak band. Merasa galau dan bimbang, akhirnya kang Ucay mengambil keputusan untuk banting stir. Alhamdulillah sekarang beliau menjalani hidupnya yang baru dan sukses dengan usahanya.

Diskusi dimoderatori oleh Muhammad Pramaditya alias Gerry, mahasiswa ITB yang juga alumni FIM. Aku menjelaskan mengenai Kartunet dan keputusan untuk membangun Kartunet ini yang tadinya hanya berupa website, menjadi komunitas dan kini social enterprise. Bahwa segala sesuatunya bermula dari motivasi untuk dapat memberikan manfaat. Beranjak dari pengalaman pribadi yang sudah banyak merepotkan orang lain di sekitar dan mendapat pertolongan dari mana-mana. Oleh karena itu, melalui Kartunet ini jadi satu jalan untukku berusaha untuk memberikan manfaat dan pandangan menuju perubahan. Bahwa dari hal kecil yang kami lakukan di Kartunet, ternyata dapat mengubah jalan hidup teman-teman difabel yang sebelumnya tak tahu bahwa penyandang disabilitas dapat berdaya bahkan sekolah hingga jenjang tertinggi, kini mendapat inspirasi dan pengetahuan bagaimana caranya.

Untuk menutup diskusi, aku menyampaikan kepada para hadirin yang ada di auditorium Fakultas Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati bahwa buatlah resolusi itu dengan tujuan untuk orang banyak, bukan hanya untuk diri sendiri. Jangan hanya buat resolusi misal saya ingin bangun pagi atau ingin dapat lulus dengan IPK Cumlaude. Tapi buatlah resolusi yang manfaatnya untuk orang banyak seperti membuat sebuah gerakan atau aksi bersama. Sebab, saat resolusi itu menyangkut harapan atau manfaat untuk orang lain, Insha Allah ada dorongan ekstra dari Allah untuk mewujudkan resolusi tersebut, sebanyak harapan dari orang-orang yang akan merasakan manfaatnya.

Dimas Prasetyo Muharam bersama Forum Indonesia Muda regional Bandung

Terima kasih kepada UIN Bandung dan teman-teman FIM regional Bandung yang sudah sangat hangat menyambut saya selama berada di kota kembang. Apalagi setelah acara, aku tak langsung pulang ke Jakarta tapi menginap dulu di rumah Coki, alumni FIM15 yang seru banget saat jadi MC. Rumahnya di daerah Kiera Condong atau Kircon, dan ikut menginap juga Yuli Setiawan dan Adil Lukman dari FIM 16. Ngobrol banyak juga dengan orang tua dari Coki yang ternyata ibunya dosen di jurusan PLB di Universitas Pendidikan Indonesia. Beliau juga rekan mengajar pak Didi Tarsidi, ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni).

Besoknya, sebelum pulang aku ditraktir lagi sama teman-teman FIM Bandung untuk makan Batagor Yunus. Kata Coki ini batagor yang original. Ternyata beda dengan Batagor jajanan anak-anak yang dijual di SD dan memang lebih terasa ikannya. Pokoknya, beruntung sekali menjadi bagian dari keluarga Forum Indonesia Muda. Bukan hanya teman, tapi kita memperoleh saudara dan keluarga baru di berbagai daerah di Indonesia. Terima kasih para sahabat, semoga sharing sederhana di UIN Bandung pada Young Leaders Talk 8 dapat bermanfaat.(DPM)

Komentar

  1. resolusi yang aku buat diawal tahun 2015 lalu, ngga berjalan sama sekali. sekarnag aku bikin resolusi yang aku note di laptopku, setiap kali buka laptop selalu terbaca resolusinya, tapi saat ini belum 1 pun tanda2 akan tercapai T_T

    BalasHapus
  2. tetap semangat gan! paling tidak, sudah ada niat baik :)

    BalasHapus
  3. Ratri Anugrah7 April 2016 13.02

    Waduh. Resolusi untuk memperbaiki diri sendiri aja sering nggak terlaksana mas. Gimana mau bikin resolusi yang berdampak ke orang lain. Tapi, emang lebih bagus begitu sih. Semoga secepatnya bisa bikin resolusi seperti itu.

    Aku tunggu kunjungan baliknya ya :)

    BalasHapus
  4. aamiin.. siap. thanks ya sudah berkunjung :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Tulisan Lainnya

Tegnologi Membuka Peluang Tunanetra Berkarya dengan Mendongeng

 Pagi ini (15-09-2021) memulai tugas sebagai juri lomba dongeng untuk siswa tunanetra jenjang SMP dan SMPLB nasional dalam rangka Hari Bahasa 2021. Kegiatan yang diadakan oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini dimulai dengan webinar dimana saya menjadi salah satu pematerinya bersama pak Marja (dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ) dan ka Rona Mentari (juru dongeng keliling / pendiri Rumah Dongeng Mentari). Satu topik yang coba saya kemukakan dalam diskusi yaitu bagaimana teknologi membuka peluang untuk tunanetra berkarya dengan dongeng. Dimulai dengan fakta bahwa keterampilan berbicara / olah vokal menjadi salah satu kekuatan yang dapat dieksplorasi oleh seorang dengan hambatan penglihatan. Kegiatan mendongeng yang berfokus pada penyampaian narasi, intonasi, karakter vokal, dan dinamika suara, seyogyanya menjadi potensi besar tunanetra dapat berkarya. Lalu ditambah dengan perkembangan teknologi komputer bicara, memungkinkan tunanetra mempublik

Cara Tunanetra Orientasi Kamar Hotel

Kembali di video series Get Closer with VIP. Kali ini saya berbagi tips bagaimana seorang tunanetra secara mandiri orientasi ketika menginap di kamar hotel. Ada tips sederhana yang dapat dilakukan sehingga meski menginap sendiri di kamar, tunanetra dapat memanfaatkan semua fasilitas dengan optimal dan aman. Hal ini dapat ditiru buat teman-teman netra yang akan menginap di hotel atau penginapan untuk kegiatan tertentu atau liburan. Juga tips di video ini dapat diterapkan oleh teman-teman berpenglihatan / awas yang ingin membantu seorang tunanetra untuk orientasi pertama kali di kamar hotel yang baru didatangi. Beberapa poin dalam video ini untuk bantu orientasi tunanetra di kamar hotel: 1. Keliling isi dalam kamar dengan sentuh dinding dan objek-objek yang ada di dalamnya. 2. Orientasi di kamarmandi, termasuk cara buka kran air, mana kran air panas dan dingin, dll. 3. Sentuh posisi-posisi stop kontak atau sumber listrik. Lebih lengkap lagi tonton video-nya sampai habis ya.Subscribe juga

Ada yang Kamu Suka dari PSBB di Pandemi Covid19 ini?

Tangerang - Bukan ingin menafikan dampak negatif dari musibah Covid ini ya guys. Tapi sebagaimana tiap peristiwa, pasti bisa dilihat dari berbagai perspektif. Musibah pun akan selalu dapat kita temukan sisi positifnya jika memang ingin. Sebab segala sesuatu jika ingin dilihat dulu dari sisi positifnya, Insya Allah akan terasa lebih ringan, meski tidak meniadakan bebannya. Nah, apa hal positif yang kamu rasa dari Covid ini? Kalau saya sih ini. Akhirnya, Diakui Ayah oleh Anak. Putri saya sekarang hampir usia 1 tahun. Ketika masih kerja aktif masuk ke kantor, mungkin dia merasa asing dengan bapaknya. Bagaimana tidak, berangkat kerja sebelum matahari terbit sekitar jam 5.30 karena mengejar bus Trans Jakarta dari Ciledug, lalu pulang mayoritas jam 7 malam dan baru sampai rumah sekitar jam 9 malam kalau ada lemburan RDK / kegiatan. Praktis, putri saya cuma kenal bapaknya pas hari libur saja, yang itu pun kadang masih disita waktunya sebagian dengan herus belajar dan menangani keperluan komun