Skip to main content

Sejarah 30 Tahun Afganistan dari Pedihnya Kisah Dua Wanita Beda Generasi

Cover buku A Thousand Splendid Suns
Tangerang - Sudah lama baca bukunya, tapi baru sempat melanjutkan menulis ulasannya. Kali ini buku menarik dari Khaled Hossaeni dengan judul A Thousand Splendid Suns. Buku kedua dari penulis berkebangsaan Afganistan - Amerika ini setelah sebelumnya The Kite Runner. Buku yang terbit 2007 ini menyajikan drama kehidupan rumah tangga, kesedihan, perjuangan, sekaligus kebahagiaan dalam riuh pergolakan politik Afganistan era pasca 1960.

Khaled Hossaeni menurut saya kembali menunjukan kemampuannya untuk meracik kesedihan mendalam dari para tokohnya dalam sebuah novel yang menarik. Cirikhas di novel sebelumnya The Kite Runner pun masih ada yaitu menyajikan budaya Afganistan dan sejarahnya dalam kisah pribadi para tokohnya. Di buku A Thousand Splendid Suns ini isu yang diangkat adalah seputar kehidupan rumah tangga dua perempuan beda generasi bernama Mariam dan Laila.

Mariam adalah seorang harami atau anak yang lahir di luar nikah dari seorang kaya raya di kota Herat bernama Jalil dengan pembantu rumah tangganya yang kerap dipanggil Mariam Nana. Karena masyarakat Afgan saat itu tidak mengakui adanya harami apalagi Jalil seorang terpandang di masyarakat, maka Mariam kecil dan ibunya diasingkan dan diberi tempat tinggal jauh di luar kota, pada bangunan batu yang mirip kandang hewan. Jalil secara rutin tiap pekan mengunjungi Mariam dan menceritakannya situasi di kota Herat, tentang bioskop miliknya, dan membawakan hadiah-hadiah kecil.

Hingga suatu saat Mariam memberanikan diri untuk datang ke kota Herat dan mencari rumah ayahnya. Karena dia harami, Jalil tak menerimanya ketika Mariam tiba di rumahnya. Hal ini sudah selalu diperaingatkan oleh ibu Mariam bahwa Jalil tidak menyayanginya. Karena hal itu, ibu Mariam bunuh diri dan akhirna Jalil terpaksa mengambil Mariam untuk tinggal di rumah besarnya di Herat.

Saat itu Jalil sudah memiliki 3 orang istri dan beberapa anak. Oleh istri-istrinya, diatur agar mariam meninggalkan rumah yaitu dengan menjodohkannya dengan saudagar asal kota Kabul. Mariam yang masih usia 15 tahun dinikahkan dengan Rasheed usia 45 tahun. Kemudian Mariam tinggal di rumah Rasheed di Kabul, dan dimulailah penderitaan Mariam sebagai seorang istri.

Tak perlu diceritakan secara rinci bagaimana penderitaan yang dimaksud. Karena layaknya cerita di sinetron, lalu di masyarakat dengan budaya patriarki kuat, terlebih di era Taliban dimana hak-hak perempuan seakan dikekang atas nama hukum syariah dari hasil penafsiran sempit sebuah agama, tak terhitung lagi siksaan fisik atau psikologis yang diterima Mariam dari Rasheed. Apalagi setelah Mariam keguguran anak pertamanya dan tak kunjung memiliki anak lagi. Hal tersebut membuat Rasheed makin benci pada Mariam karena tujuan utama dia dinikahi adalah untuk memiliki keturunan, terutama anak laki-laki, setelah pernikahan pertama Rasheed gagal dan anaknya juga meninggal.

Pada akhirnya, splendid sun atau mentari surga itu pun datang di kehidupan Mariam. Berawal dari seseorang yang dibencinya, Laila, seorang perempuan muda yang dinikahi Rasheed karena sudah berputuh tahun tak memiliki anak dari Mariam. Laila sebetulnya adalah tetangga keluarga Rasheed, ia diambil oleh Rasheed setelah rumah dan seluruh keluarganya meninggal akibat terkena rudal akibat perang faksi Mujahidin di Afganistan saat itu. Perasaan benci karena merasa posisinya di rumah terancam dan diambil oleh Laila dan bayinya, lambat-laun jadi kasih karena ketulusan Laila dan tersentuh oleh kehadiran bayi yang selama ini diidamkan Mariam tapi tak pernah lahir dari rahimnya.

Novel ini sangat menarik untuk dibaca. Pemilihan kata dan penulisannya sangat baik, tak sulit perasaan terbawa dengan penderitaan yang dialami tokoh hingga menitikan air mata. Selain itu, ada latar belakang sejarah Afganistan selama 30 tahun mulai 1960 yang selalu bergolak dipengaruhi oleh perang dingin Amerika Serikat dan Uni Sovyet. Sejak era akhir kesultanan di Afganistan, lalu masa republik yang dipengaruhi oleh Uni Sovyet, masuk ke perang antar faksi Mujahidin yang berhasil meruntuhkan kekuasaan pemerintah boneka Uni Sovyet, hingga ke tahun-tahun kekuasaan rezim Taliban, dan infasi Amerika Serikat dan sekutunya ke Afganistan tahun 2003.

Secara umum, novel ini sangat baik dalam memberikan penggambaran kehidupan sosial kulturan masyarakat Afganistan, serta sejarah pergolakan kekuasaan dan pengaruhnya pada bangsa Afganistan. Akan tetapi, mungkin perlu sedikit dicermati mengenai kecenderungan penulis yang tinggal di Amerika mengenai pandangannya terhadap Amerika dan barat. Infasi Amerika ke Afganistan yang menjadi latar terakhir sebelum cerita dalam novel ini berakhir, dinilai sebagai masa pembebasan dari kekuasaan tirani Taliban. Digambarkan bahwa masyarakat menyambut gembira kedatangan tentara sekutu yang telah membebaskan mereka dari aturan-aturan mengekang Taliban, termasuk pemasungan hak-hak perempuan.

Di sisi lain, tiap pergantian rezim dalam cerita ini dan kehidupan nyata sepertinya memang selalu diawali dengan kegembiraan kemudian ditutup dengan kekecewaan setelah rezim yang berkuasa menyalahi janji atau tidak sesuai ekspektasi. Ketika pasukan Muahidin menang dari pemerintah yang didukung Uni Sovyet, rakyat pun menyambut gembira kedatangan mereka di ibukota. Akan tetapi karena tiap faksi dalam pasukan tak dapat berdamai mengenai soal kekuasaan, akhirnya mereka malah saling perang dan memicu perang saudara berkepanjangan. Lalu perang faksi itu diakhiri dengan berkuasanya rezim Taliban yang berhaluan Islam garis keras. Awal kekuasaan mereka pun masyarakat menyambut positif karena akhirnya hukum Islam ditegakkan. Tapi di ujung itu masyarakat pun merasa tidak merdeka karena hak-hak mereka dipasung, apalagi terjadi diskriminasi terhadap hak-hak perempuan. Lantas ketika pasukan sekutu yang dipimpin Amerika masuk, mereka pun gembira karena dianggap membawa perubahan baik. Tapi pada kenyataannya kita tahu bagaimana kondisi di Afganistan hingga saat ini yang masih belum menentu.

Bagaimanapun, tiap hal yang disertai dengan kesabaran dan pengorbanan pasti akan berujung indah. Karena Tuhan selalu menyiapkan hadiah terbaik untuk umatnya yang bersabar. Seperti judul novel ini A Thousand Splendid Suns yang diambil dari sajak penyair Iran abad ke-17.

"One could not count the moons that shimmer on her roofs. And the thousand splendid suns that hide behind her walls"

("Siapapun takkan bisa menghitung bulan-bulan yang berpendar diatas atap, ataupun seribu mentari surga yang bersembunyi di balik dinding.")

Sekian, dan semoga dapat bermanfaat serta menambah pengetahuan kita. Jika ada yang sudah membaca atau ingin berbagai inspirasi, silakan ya di kolom komentar. (DPM)

Comments

Tulisan Lainnya

Tegnologi Membuka Peluang Tunanetra Berkarya dengan Mendongeng

 Pagi ini (15-09-2021) memulai tugas sebagai juri lomba dongeng untuk siswa tunanetra jenjang SMP dan SMPLB nasional dalam rangka Hari Bahasa 2021. Kegiatan yang diadakan oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini dimulai dengan webinar dimana saya menjadi salah satu pematerinya bersama pak Marja (dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ) dan ka Rona Mentari (juru dongeng keliling / pendiri Rumah Dongeng Mentari). Satu topik yang coba saya kemukakan dalam diskusi yaitu bagaimana teknologi membuka peluang untuk tunanetra berkarya dengan dongeng. Dimulai dengan fakta bahwa keterampilan berbicara / olah vokal menjadi salah satu kekuatan yang dapat dieksplorasi oleh seorang dengan hambatan penglihatan. Kegiatan mendongeng yang berfokus pada penyampaian narasi, intonasi, karakter vokal, dan dinamika suara, seyogyanya menjadi potensi besar tunanetra dapat berkarya. Lalu ditambah dengan perkembangan teknologi komputer bicara, memungkinkan tunanetra mempublik

Cara Tunanetra Orientasi Kamar Hotel

Kembali di video series Get Closer with VIP. Kali ini saya berbagi tips bagaimana seorang tunanetra secara mandiri orientasi ketika menginap di kamar hotel. Ada tips sederhana yang dapat dilakukan sehingga meski menginap sendiri di kamar, tunanetra dapat memanfaatkan semua fasilitas dengan optimal dan aman. Hal ini dapat ditiru buat teman-teman netra yang akan menginap di hotel atau penginapan untuk kegiatan tertentu atau liburan. Juga tips di video ini dapat diterapkan oleh teman-teman berpenglihatan / awas yang ingin membantu seorang tunanetra untuk orientasi pertama kali di kamar hotel yang baru didatangi. Beberapa poin dalam video ini untuk bantu orientasi tunanetra di kamar hotel: 1. Keliling isi dalam kamar dengan sentuh dinding dan objek-objek yang ada di dalamnya. 2. Orientasi di kamarmandi, termasuk cara buka kran air, mana kran air panas dan dingin, dll. 3. Sentuh posisi-posisi stop kontak atau sumber listrik. Lebih lengkap lagi tonton video-nya sampai habis ya.Subscribe juga

Ada yang Kamu Suka dari PSBB di Pandemi Covid19 ini?

Tangerang - Bukan ingin menafikan dampak negatif dari musibah Covid ini ya guys. Tapi sebagaimana tiap peristiwa, pasti bisa dilihat dari berbagai perspektif. Musibah pun akan selalu dapat kita temukan sisi positifnya jika memang ingin. Sebab segala sesuatu jika ingin dilihat dulu dari sisi positifnya, Insya Allah akan terasa lebih ringan, meski tidak meniadakan bebannya. Nah, apa hal positif yang kamu rasa dari Covid ini? Kalau saya sih ini. Akhirnya, Diakui Ayah oleh Anak. Putri saya sekarang hampir usia 1 tahun. Ketika masih kerja aktif masuk ke kantor, mungkin dia merasa asing dengan bapaknya. Bagaimana tidak, berangkat kerja sebelum matahari terbit sekitar jam 5.30 karena mengejar bus Trans Jakarta dari Ciledug, lalu pulang mayoritas jam 7 malam dan baru sampai rumah sekitar jam 9 malam kalau ada lemburan RDK / kegiatan. Praktis, putri saya cuma kenal bapaknya pas hari libur saja, yang itu pun kadang masih disita waktunya sebagian dengan herus belajar dan menangani keperluan komun