Skip to main content

Percikan Air di Panasnya Medan Perang Pilkada Jakarta

Foto Dimas dengan Rizal Mantovani, sutradara film Bulan Terbelah di Langit Amerika 2

Tangerang - Pertengahan Desember 2016 kembali mengikuti kegiatan Bioskop Bisik dan kali ini film yang diputar adalah Bulan Terbelah di Langit Amerika 2. Jujur saya belum nonton yang bagian pertamanya meski sudah baca buku 99 Cahaya di Langit Eropa. Namun pesan dari film ini bagai percikan air di panasnya medan perang Pilkada Jakarta.

Alhamdulillah Falcon Pictures kembali memberi kesempatan kami nonton film gratis di Bioskop Bisik untuk film terbarunya Bulan Terbelah di Langit Amerika 2. Ada puluhan penyandang disabilitas, terdiri dari tunarungu dan tunanetra,yang ikut menonton launching film ini yang diadakan di studio XXI One Bell Park Mall, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Event ini menjadi istimewa karena juga ada perwakilan pemeran film dan kru yang ikut dalam acara tersebut. Jika tak salah ada Abimana yang berperan sebagai Rangga suami Hanum, dan Rizal Mantovani sebagai sutradara yang memberikan sambutan serta penutup. Saya berkesempatan untuk foto bareng sutradara berbakat ini ketika film berakhir.

Sekilas mengenai Bioskop Bisik. Ini adalah kegiatan yang dilakukan di bioskop biasa, hanya tiap tunanetra yang menonton didampingi oleh satu relawan yang disebut pembisik. Pembisik ini selama berjalannya film akan menjelaskan atau memberikan gambaran visual ke tunanetra khususnya ketika adegan-adegan film yang tanpa dialog. Pembisik juga harus enjoy dan menjelaskan jalannya film seperlunya, jadi keduanya dapat sama-sama menikmati film.

Waktu itu saya mengajak beberapa teman awas untuk jadi relawan pembisik. Ada Dewi Emilia dan Willona yang alumni IPB dan pernah juga saya ajak untuk jadi pembisik di Bioskop Bisik sebelumnya untuk film Sabtu bersama Bapak. Lalu satu teman lagi yaitu Rika Perdana, mahasiswa S3 di FIB UI, yang saya kenal ketika ikut Bioskop Bisik nonton film Filosofi Kopi di Blok M Square kurang lebih setahun lalu. Selama berjalannya film saya "dibisiki" oleh Rika, sedang Dewi dan Wilona jadi relawan untuk peserta tunanetra lain yang tidak membawa relawan.

Saya tidak akan menceritakan jalan kisah film Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 ini secara rinci. Satu hal yang terfikirkan oleh saya waktu itu adalah momentum release-nya film ini tepat sekali dengan kondisi toleransi masyarakat kita yang agak tegang saat itu. Film yang dibintangi oleh Acha Septriasa sebagai Hanum dan Abimana sebagai Rangag ini seakan ingin menjawab bahwa sentimen negatif terhadap etnis Cina dan kafir oleh sekelompok oknum masyarakat tidak speenuhnya dapat dibenarkan.

Kurang lebih film ini menceritakan misi Hanum dan Rangga untuk menelusuri jejak harta karun yang ditinggalkan oleh Laksamana Cheng Ho. Ada teori bahwa jauh sebelum kedatangan Colombus dan orang Eropa di benua Amerika, rombongan pelaut Muslim Cheng Ho, sudah menjejakkan kaki di sana. Pada petualangan itulah Hanum dan Rangga menemui banyak fakta. Termasuk para pengejar harta karun berupa koin Cheng Ho yang dipegang Hanum, adalah keluarga Tionghoa Muslim yang hijrah dari daratan Cina ke Amerika karena diperlakukan tidak adil oleh tentara Komunis China. Mereka merasa bahwa koin Cheng Ho tersebut adalah salah satu warisan leluhur mereka yang merupakan Muslim di daratan Cina.

Di luar ada kisah-kisah pengiring lain yang sifatnya emosional, film ini seakan ingin menyindir sentimen yang sedang berkembang di masyarakat kita. Ada ujaran kebencian yang berkembang bahwa Cina itu identik dengan kafir. Maka sering disebut ketika pemerintah Indonesia dinilai dekat dengan Tiongkok, disebut negara kafir komunis. Menurut saya labeling sepert itu tidak adil karena dalam konteks masyarakt internasional, jangan kait-kaitkan soal kepercayaan dengan hubungan diplomatik dan perdagangan antarnegara. Apalagi Indonesia saat ini sedang membutuhkan investasi untuk pembangunan infrastruktur dan SDM.

Selain itu, perpaduan dua isu sensitif yaitu etnis Tionghoa dan muslim dalam film ini juga sangat menarik. Kita tahu bahwa salah satu kandidat gubernur DKi Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok adalah keturunan Tionghoa dan beragama minoritas Kristen. Ganjaran sebagai Cina kafir kerap ditujukan kepada dirinya. Isu SARA ini terus dipakai selama kontestasi Pilkada untuk menurunkan elektabilitas pak Ahok.

Sebagai penutup saya ingin mengapresiasi karya Rizal Mantovani ini karena berhasil memadukan nilai sejarah, toleransi, dan konflik emosional yang mampu mengaduk-aduk perasaan selama film. Para aktor dan aktris seperti Acha Septriasa, Abimana, Ira Wibowo, Rianti Cartwright, dll semuanya bermain sangat baik. Terima kasih juga buat Rika yang sudah menemani selama nonton film, dan sudah datang jauh-jauh dari Depok. Terima kasih juga sudah mau nugngu bareng rush hour sebelum ulang, sembari menikmati live music di lantai bawah One Bell Park Mall. Semoga ada kesempatan untuk nonton lagi di Bioskop Bisik. (DPM)

Comments

Tulisan Lainnya

Tegnologi Membuka Peluang Tunanetra Berkarya dengan Mendongeng

 Pagi ini (15-09-2021) memulai tugas sebagai juri lomba dongeng untuk siswa tunanetra jenjang SMP dan SMPLB nasional dalam rangka Hari Bahasa 2021. Kegiatan yang diadakan oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini dimulai dengan webinar dimana saya menjadi salah satu pematerinya bersama pak Marja (dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ) dan ka Rona Mentari (juru dongeng keliling / pendiri Rumah Dongeng Mentari). Satu topik yang coba saya kemukakan dalam diskusi yaitu bagaimana teknologi membuka peluang untuk tunanetra berkarya dengan dongeng. Dimulai dengan fakta bahwa keterampilan berbicara / olah vokal menjadi salah satu kekuatan yang dapat dieksplorasi oleh seorang dengan hambatan penglihatan. Kegiatan mendongeng yang berfokus pada penyampaian narasi, intonasi, karakter vokal, dan dinamika suara, seyogyanya menjadi potensi besar tunanetra dapat berkarya. Lalu ditambah dengan perkembangan teknologi komputer bicara, memungkinkan tunanetra mempublik

Cara Tunanetra Orientasi Kamar Hotel

Kembali di video series Get Closer with VIP. Kali ini saya berbagi tips bagaimana seorang tunanetra secara mandiri orientasi ketika menginap di kamar hotel. Ada tips sederhana yang dapat dilakukan sehingga meski menginap sendiri di kamar, tunanetra dapat memanfaatkan semua fasilitas dengan optimal dan aman. Hal ini dapat ditiru buat teman-teman netra yang akan menginap di hotel atau penginapan untuk kegiatan tertentu atau liburan. Juga tips di video ini dapat diterapkan oleh teman-teman berpenglihatan / awas yang ingin membantu seorang tunanetra untuk orientasi pertama kali di kamar hotel yang baru didatangi. Beberapa poin dalam video ini untuk bantu orientasi tunanetra di kamar hotel: 1. Keliling isi dalam kamar dengan sentuh dinding dan objek-objek yang ada di dalamnya. 2. Orientasi di kamarmandi, termasuk cara buka kran air, mana kran air panas dan dingin, dll. 3. Sentuh posisi-posisi stop kontak atau sumber listrik. Lebih lengkap lagi tonton video-nya sampai habis ya.Subscribe juga

Ada yang Kamu Suka dari PSBB di Pandemi Covid19 ini?

Tangerang - Bukan ingin menafikan dampak negatif dari musibah Covid ini ya guys. Tapi sebagaimana tiap peristiwa, pasti bisa dilihat dari berbagai perspektif. Musibah pun akan selalu dapat kita temukan sisi positifnya jika memang ingin. Sebab segala sesuatu jika ingin dilihat dulu dari sisi positifnya, Insya Allah akan terasa lebih ringan, meski tidak meniadakan bebannya. Nah, apa hal positif yang kamu rasa dari Covid ini? Kalau saya sih ini. Akhirnya, Diakui Ayah oleh Anak. Putri saya sekarang hampir usia 1 tahun. Ketika masih kerja aktif masuk ke kantor, mungkin dia merasa asing dengan bapaknya. Bagaimana tidak, berangkat kerja sebelum matahari terbit sekitar jam 5.30 karena mengejar bus Trans Jakarta dari Ciledug, lalu pulang mayoritas jam 7 malam dan baru sampai rumah sekitar jam 9 malam kalau ada lemburan RDK / kegiatan. Praktis, putri saya cuma kenal bapaknya pas hari libur saja, yang itu pun kadang masih disita waktunya sebagian dengan herus belajar dan menangani keperluan komun