Langsung ke konten utama

Dimas Prasetyo, PNS Tuna Netra yang Dapat Beasiswa S2 di Australia (Kumparan News)

    









Dimas Prasetyo, PNS Tuna Netra yang Dapat Beasiswa S2 di Australia
kumparanNEWS
verified-round
26 Maret 2021 13:59

Niat untuk memberikan manfaat bagi sesama menjadi tiket seorang penyandang tuna netra Dimas Prasetyo Muharam (32) untuk belajar di Australia. Ia dinyatakan lolos menjadi penerima Australia Awards Scholarship (AAS) pada 2020.

Saat ini, ia tengah mempersiapkan keberangkatannya belajar (PDT) ke Negeri Kanguru tersebut. Rencananya ia mengambil jurusan Master of Education di the University of Adelaide. Jurusan tersebut sesuai dengan profesinya di Kemendikbud sebagai PNS di bidang Pusat Asesmen dan Pembelajaran.
“Saya ingin dapat berkontribusi lebih banyak lagi dalam mewujudkan pendidikan nasional yang lebih inklusif melalui penelitian,” ujar Dimas kepada Indonesia Mengglobal, Februari lalu.
Meski sudah berangkat dengan niat baik, jalan Dimas untuk terbang ke Australia tidak selalu mulus. Salah satunya adalah dalam mempersiapkan tes bahasa Inggris. Sebab, menurutnya hanya IELTS yang memungkinkan bagi tuna netra seperti dirinya.
“Alternatif lainnya yaitu TOEFL, hanya disediakan format braille, sedangkan kecepatan membaca saya kurang baik,” tambahnya.

Alasan melamar AAS
Dimas mengaku mengetahui beasiswa AAS saat mengikuti program kursus di Australia selama tiga bulan pada 2013. Dalam acara itu, ia bertemu dengan seorang tuna netra yang tengah menempuh magister di Flinders University.
“Saat itu yang menyadarkan betapa menariknya dapat melanjutkan kuliah di luar negeri, khususnya di Australia,” kenangnya.

Hanya saja, niat untuk studi lanjut itu baru menguat setelah menjadi PNS di awal 2018. “Jabatan sebagai peneliti ahli pertama mendesak saya untuk memperoleh jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan pengalaman ilmiah lebih luas sehingga pekerjaan dapat lebih optimal,” katanya.
Alasan lain memilih AAS adalah, program ini memiliki kategori dan program studi prioritas. Pekerja PNS baik di kantor pusat maupun daerah menjadi salah satu kategori prioritas AAS.

“Selain itu, program Master of Education yang hendak saya ambil masuk ke dalam Priority Field Areas yang di antaranya ada pendidikan, kesehatan, kebijakan publik, dan bidang lainnya,” tambahnya.
Lalu, menurut Dimas, program AAS lebih sederhana baik dari mulai pendaftaran hingga proses persiapan studi. Mulai dari biaya kuliah, tiket pesawat, hingga pengurusan visa semua ditanggung oleh pemberi beasiswa.
“Sejak proses seleksi, pendampingan selama tahap administrasi dan wawancara, kelas PDT, hingga keberangkatan dan tiba di Australia, sampai kembali ke Indonesia, AAS memberikan dukungannya yang membuat saya yang seorang tunanetra tidak mengalami kendala,” papar Dimas.
Sekilas proses seleksi AAS
Dimas mengatakan, biasanya seleksi beasiswa AAS dibagi menjadi dua tahap, administrasi dan wawancara (Joint Selection Team). Di tahap pertama, kandidat diminta untuk mengisi sejumlah data dan pertanyaan (esai) di OASIS dan juga mengirimkan Additional Information. Kedua form itu wajib diselesaikan sebelum penutupan di tanggal 30 April.

“Empat pertanyaan tersebut seperti alasan memilih jurusan dan kampus, bagaimana sumbangsih jurusan yang dipilih terhadap karier, pengalaman kamu dalam memecahkan masalah dan menerapkan pembaharuan di organisasi atau pekerjaan,” ujar Dimas.
Selain harus ditulis dalam Bahasa Inggris, tantangan bagian ini adalah tiap pertanyaan hanya dapat dijawab dengan maksimal 2.000 karakter," kata Dimas. 
Sekitar satu atau dua bulan, pihak AAS akan mengirimkan surat apakah lolos ke tahap selanjutnya atau tidak. Ada dua hal yang dilakukan di tahap Joint Selection Team yaitu tes IELTS dan wawancara itu sendiri. Dalam kondisi pandemi, proses wawancara dilakukan secara daring.
“Pewawancara hanya ingin menggali lebih dalam lagi topik yang kamu pilih, bagaimana korelasi jurusan yang dipilih dengan kebutuhan kamu, atau jika ada hal-hal menarik misal social project yang pernah kamu kerjakan. Jadi tak perlu panik karena tensi wawancara cukup santai dan menyenangkan,” pungkasnya.

***
Tulisan ini pernah dimuat di Indonesia Mengglobal ditulis oleh Yogis Saputra Mahmud Content Indonesia Mengglobal untuk Australia, New Zealand, dan Pacific Islands.


 

Komentar

Tulisan Lainnya

Tegnologi Membuka Peluang Tunanetra Berkarya dengan Mendongeng

 Pagi ini (15-09-2021) memulai tugas sebagai juri lomba dongeng untuk siswa tunanetra jenjang SMP dan SMPLB nasional dalam rangka Hari Bahasa 2021. Kegiatan yang diadakan oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini dimulai dengan webinar dimana saya menjadi salah satu pematerinya bersama pak Marja (dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ) dan ka Rona Mentari (juru dongeng keliling / pendiri Rumah Dongeng Mentari). Satu topik yang coba saya kemukakan dalam diskusi yaitu bagaimana teknologi membuka peluang untuk tunanetra berkarya dengan dongeng. Dimulai dengan fakta bahwa keterampilan berbicara / olah vokal menjadi salah satu kekuatan yang dapat dieksplorasi oleh seorang dengan hambatan penglihatan. Kegiatan mendongeng yang berfokus pada penyampaian narasi, intonasi, karakter vokal, dan dinamika suara, seyogyanya menjadi potensi besar tunanetra dapat berkarya. Lalu ditambah dengan perkembangan teknologi komputer bicara, memungkinkan tunanetra mempublik

Cara Tunanetra Orientasi Kamar Hotel

Kembali di video series Get Closer with VIP. Kali ini saya berbagi tips bagaimana seorang tunanetra secara mandiri orientasi ketika menginap di kamar hotel. Ada tips sederhana yang dapat dilakukan sehingga meski menginap sendiri di kamar, tunanetra dapat memanfaatkan semua fasilitas dengan optimal dan aman. Hal ini dapat ditiru buat teman-teman netra yang akan menginap di hotel atau penginapan untuk kegiatan tertentu atau liburan. Juga tips di video ini dapat diterapkan oleh teman-teman berpenglihatan / awas yang ingin membantu seorang tunanetra untuk orientasi pertama kali di kamar hotel yang baru didatangi. Beberapa poin dalam video ini untuk bantu orientasi tunanetra di kamar hotel: 1. Keliling isi dalam kamar dengan sentuh dinding dan objek-objek yang ada di dalamnya. 2. Orientasi di kamarmandi, termasuk cara buka kran air, mana kran air panas dan dingin, dll. 3. Sentuh posisi-posisi stop kontak atau sumber listrik. Lebih lengkap lagi tonton video-nya sampai habis ya.Subscribe juga

Ada yang Kamu Suka dari PSBB di Pandemi Covid19 ini?

Tangerang - Bukan ingin menafikan dampak negatif dari musibah Covid ini ya guys. Tapi sebagaimana tiap peristiwa, pasti bisa dilihat dari berbagai perspektif. Musibah pun akan selalu dapat kita temukan sisi positifnya jika memang ingin. Sebab segala sesuatu jika ingin dilihat dulu dari sisi positifnya, Insya Allah akan terasa lebih ringan, meski tidak meniadakan bebannya. Nah, apa hal positif yang kamu rasa dari Covid ini? Kalau saya sih ini. Akhirnya, Diakui Ayah oleh Anak. Putri saya sekarang hampir usia 1 tahun. Ketika masih kerja aktif masuk ke kantor, mungkin dia merasa asing dengan bapaknya. Bagaimana tidak, berangkat kerja sebelum matahari terbit sekitar jam 5.30 karena mengejar bus Trans Jakarta dari Ciledug, lalu pulang mayoritas jam 7 malam dan baru sampai rumah sekitar jam 9 malam kalau ada lemburan RDK / kegiatan. Praktis, putri saya cuma kenal bapaknya pas hari libur saja, yang itu pun kadang masih disita waktunya sebagian dengan herus belajar dan menangani keperluan komun