Alamku Meradang, Jiwaku Terluka

Pada zaman di mana orang tua kita masih memegang nilai-nilai adat budaya, ikatan psikologis antara manusia dengan alam sangatlah kuat. Mereka memiliki tanggung jawab moral dalam ikut memelihara lingkungan alam. Lingkungan alam sudah seperti bagian dalam diri mereka sendiri. Jika alam terganggu, maka mereka pula yang akan merugi. Pada saat itu, kehidupan manusia masih bergantung pada alam, jadi sumber penghidupan mereka berasal pula dari alam. Mereka tak kan berani merusak alam yang merupakan sumber kehidupan mereka. Oleh karena itu, kita masih samar-samar mengetahui adanya mitos atau cerita-cerita yang berbau mistis tentang alam ini. Seperti adanya penunggu roh halus pada pohon-pohon besar yang sudah berumur tua. Jika difikirkan secara logis, orang tua kita mungkin sengaja membuat mitos tersebut agar pohon besar yang sudah berumur tua tidak ditebang. Pohon sangat penting bagi kebersihan udara dan pencegah terjadinya erosi. Selain itu, juga kita sering dengar larangan dari orang tua kita untuk tidak memakan buah atau tumbuhan tertentu. Hal ini mungkin disebabkan tumbuhan tersebut relatif jarang ditemukan, sehingga jika dikonsumsi secara masal oleh manusia, dikhawatirkan akan mengganggu kelestarian dari spesies tersebut. Contoh yang paling kongkrit dan masih dilakukan sekarang adalah upacara ritual pelestarian laut yang disebut Sasi di Maluku dan Papua.
Secara psikologis, ancaman dan mitos-mitos tersebut telah diakui efektif dalam menjaga kelestarian lingkungan alam. Dengan rasa takut yang ditanamkan, manusia akan mengimaginasikan hal-hal mistik, padahal maksud dari ancaman itu sangatlah logis. Seperti adanya ancaman untuk masuk hutan yang dianggap terlarang. Hutan terlarang itu biasanya adalah hutan yang sangat lebat. Dalam hutan tersebut, pasti terdapat berbagai jenis spesies tumbuhan dan hewan. Penduduk sekitar dilarang untuk mendekatinya agar keseimbangan ekosistem di dalam hutan tersebut tetap terjaga. Tapi semakin majunya ilmu pengetahuan, manusia moderen semakin melupakan pengaruh psikologis tersebut. Manusia menganggap mitos-mitos tersebut hanyalah omong kosong. Pada kenyataannya, pembenaran yang mereka anggap secara logis itu, hanyalah sebagai alasan untuk mengeksploitasi alam demi kepentingan individu dan golongan.

Dalam teori ekologi, di definisikan bahwa perilaku manusia adalah bagian dari kompleksitas ekosistem yang ada (Hawley dalam Himmam & Faturachman, 1994). Manusia dalam ekosistem, merupakan salah satu bagian atau elemen yang mendukung sistem lingkungan tersebut. Selain manusia, terdapat element biotik seperti tumbuhan atau hewan, dan ada pula element abiotik seperti tanah, udara, air, dan bebatuan. Oleh karena itu, sudah seharusnya manusia tidak mendominasi dalam suatu sistem kelingkungan. Sebagai pengelola yang berada di muka bumi, manusia harus melestarikan element ekosistem lainnya baik biotik atau abiotik. Jika suatu element sampai rusak, maka ekosistem itu akan terguncang dan pada akhirnya merusak keseluruhan dari ekosistem. Seperti contoh jika salah satu elemen biotik yaitu tumbuhan rusak atau punah. Rantai makanan, yang menjadi komponen dalam ekosistem, akan ikut terganggu. Hewan pemakan tumbuhan atau herbivora, akan tidak mendapatkan makanan. Sudah dapat dipastikan bahwa keberadaan herbivora itu akan musnah. Lalu dampak ini akan merambat ke hewan pemakan daging atau karnivora. Mungkin hewan ini pada awalnya dapat bertahan hidup dengan memakan hewan sesama karnivora, tapi hal ini tidak akan bertahan lama. Hinga pada akhirnya, semua dampak tersebut akan mengenai manusia, dan berakibat musnahnya kehidupan dalam ekosistem.

Sudah banyak cara yang ditempuh untuk menyelamatkan lingkungan alam, tapi menurut saya cara yang paling efektif jika melalui pendekatan kejiwaan atau psikologis. Tiap individu, harus memiliki ikatan jiwa dan pemahaman akan pentingnya lingkungan bagi mereka. Mitos-mitos yang menakut-nakuti masyarakat sebelumnya, yang bertujuan untuk melindungi alam, perlu dijelaskan lebih jauh berdasarkan logika. Secara psikologis, manusia akan takut untuk merusak alam, bukan karena hal-hal mistis, tapi disebabkan oleh dampak negatif yang juga akan dialami oleh manusia dari kerusakan alam. Sosialisasi kampanye pelindungan alam, yang paling efektif jika dilakukan secara dini. Di sekolah-sekolah, harus dilakukan penyuluhan dengan pendekatan psikologis kepada siswa akan pentingnya lingkungan. Apalagi dengan adanya isu global warming akhir-akhir ini, minat seseorang untuk melindungi alam akan lebih baik jika ditunjukan cara yang benar. Selain itu, para orang tua juga harus diberikan penyuluhan tentang pentingnya lingkungan ini. Seperti contoh, di kantor-kantor atau pusat kegiatan masyarakat, dapat dibagikan buku-buku tentang perlindungan alam. Mengapa sosialisasi ke orang tua ini penting? Jika hanya generasi muda tau anak-anak yang diberi sosialisasi, dikhawatirkan kampanye peduli lingkungan ini tidak sampai ke orang tua. Budaya kita di Indonesia masih menganggap bahwa orang tua itu selalu benar dan tidak bisa didikte oleh anak. Jadi tak akan bisa berjalan kampanye perlingdungan alam tanpa sinergi dari generasi muda dan tua.

Gerakan untuk melindungi alam ini harus dimulai dari kesadaran tiap manusia. Tiap manusia harus memiliki tanggung jawab moral mengenai hal ini. Tidak bisa kita menunggu kebijakan pemerintah untuk melindungi alam. Suatu kebijakan pun, tidak akan bisa berjalan efektif, jika masyarakat itu sendiri tidak memiliki kesadaran dalam hal tersebut. Oleh karena itu, mari kita pupuk terus kesadaran untuk melindungi kelestarian alam. Mulailah semua dari diri sendiri, karena kita adalah bagian dari alam, dan tanggung jawab kita pula untuk melindungi alam.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *