Biar Aku Memikirkanmu

Kini aku duduk di kelas 12 SMA. Sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional dan sedang mencari universitas yang cocok. Ada salah satu tawaran yang sangat bagus. Karena prestasiku sangat baik di sekolah, aku ditawari untuk kuliah hukum di Belanda dengan beasiswa. Tapi sekarang konsentrasi kupusatkan untuk menghadapi Ujian yang hanya tinggal dua bulan lagi.

Teman yang berada di kursi sebelahku bernama Denis. Ia sangat baik dan sudah membantuku sejak Aku masih belum melihat satu tahun lalu. Dengannya, aku sering mendiskusikan novel yang sedang kugarap. Aku butuh komentarnya agar paling tidak enak untuk dibaca. Dengannya pula aku sering curhat masa laluku tentang Refa. Walaupun tak pernah ku katakan siapa orang yang selama ini aku ceritakan. Tapi cara itu cukup efektif untuk mengembangkan ide cerita dan mengurangi beban hati.

“Kayaknya gue tahu nih siapa orangnya!” Tanggapan denis pada suatu hari.
“Maksud loh?”
“Gak jadi deh, cuman perasaan doank kok. Hehaheha!”

Itulah Denis. Sering banget bikin orang sport jantung. Tadinya Aku sudah takut sekali jika ternyata selama ini Denis tahu siapa yang kami bicarakan. “Kan tengsin banget kalo dia tahu siapa yang gue maksud!”. Gayanya yang suka humor, bikin orang banyak senyum jika berada di sisinya. Kalau soal tampangnya, aku tak mau komentar. Nanti dikira suka lagi. Tapi kata cewe-cewe di kelas, dia itu keren banget. Di sekolah ini, Denis yang kutahu tidak punya pacar. Jadi banyak cewe yang masih penasaran dibuatnya. Walaupun kelihatannya orangnya gak bisa serius gitu, ternyata Denis punya cita rasa seni yang cukup tinggi. Dia bisa kasih komentar jika cerita dalam novelku agak tidak nyambung atau kata-katanya tidak serasi.

Bantuan Denis kini dalam pengerjaan novelku sudah selesai. Buku ini hanya tinggal finishing touch dan sedikit editing dariku. Akhirnya buku itu pun jadi tepat satu minggu menjelang Ujian. Hanya tinggal diprint dan dibuat satu buku copy yang sudah kujanjikan pada Refa. Meskipun aku tak tahu di mana keberadaannya sekarang. Tapi aku punya firasat bahwa akan dapat bertemu dengannya.

Ujian pun selesai. Di masa-masa kosong menunggu hasil ujian, aku mempersiapkan diri untuk tes SPMB. Aku memutuskan untuk membeli buku latihan soal SPMB di toko buku favoritku. Setibanya di toko buku itu, kenangan beberapa tahun lalu datang kembali. Ini adalah toko buku di mana Aku dan Refa sering mengunjunginya. Refa menemaniku untuk membeli buku-buku sastra untuk kemudian membantu untuk membacakannya. Aku memandang ke salah satu meja baca dalam toko itu. Masih dapat kurasakan suara Refa di sebelahku membacakan buku dengan penuh penghayatan.

segera kutepiskan bayangan itu. Aku mengambil salah satu buku latihan soal SPMB yang tersusun rapi di salah satu rak. Tapi lagi-lagi aku tergoda untuk bernostalgia. Di sampingku kini berdiri rak buku-buku sastra yang dulu selalu jadi target utamaku datang ke sini. Kuletakan kembali buku SPMB dan beralih melihat deretan buku-buku sastra dari pengarang dalam dan luar negeri. Aku berjalan menyamping untuk melihat semua judul dalam rak itu. Tanpa kusengaja, aku menabrak seseorang yang sedang melihat-lihat buku juga. Orang yang ku tabrak itu menjatuhkan buku yang sedang dibacanya.
“Sorry gak sengaja”
Aku mengambilkan buku itu dari lantai. Kuserahkan lagi pada orang yang tadi kutabrak. Kemudian ingin ku ucapkan maaf sekali lagi kepada orang itu yang ternyata seorang wanita.

12 komentar untuk “Biar Aku Memikirkanmu”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *