Biar Aku Memikirkanmu

Monitor laptop sekarang menampilkan tanda bahwa sedang melakukan proses printing sebanyak 325 halaman untuk dua copy. Hanya tinggal 20 lembar lagi, selesailah semua persiapan. “Mas, Denis udah nunggu di luar tuh!” Ibuku memanggil dari lantai bawah. “Ya ma, lima menit lagi kok” jawabku sambil menutup koper besar yang akan kubawa.

Ini adalah hari terakhirku berada di Jakarta. Besok mungkin aku sudah berada di Amsterdam untuk melanjutkan studi. Aku memutuskan pilihan ini karena orang tua mensupport dan mungkin memang ini pilihan terbaik buatku.

Printer sudah berhenti menguarkan lembaran kertas dari mulutnya yang tak berdaging. Kumasukan semua kertas hasil printing ke dalam tas jinjing dan tak lupa melipat laptop kesayanganku ke dalamnya pula. Setelah berpamitan dengan kedua orang tua, Aku duduk di kursi depan sedan Denis yang mewah. Denis sudah berbaik hati untuk mengantarkanku ke bandara. Tapi sebelumnya, aku memintanya untuk mampir sebentar di tukang Photo Copy.

“Den, terima kasih ya atas bantuan lo selama ini” ucapku saat mencapai batas akhir bagi selain calon penumpang.
“Ya sama-sama. Lo jaga diri baik-baik ya di sana”
“Thanks, By the way lo kenal sama yang namanya Refa kan?” tanyaku sembari mengeluarkan bungkusan berisi buku yang telah dijilid.
“Ini tolong disampaikan buat dia” kataku saat menyerahkan bungkusan itu ke tangan Denis.
“Terus satu pesan lagi, jaga dia baik-baik. Aku tahu, Refa wanita yang baik. Jadi pantas buat kamu Den” lanjutku sebelum menepuk pundak Denis dan berbalik pergi.

Denis kutinggalkan dalam keadaan yang penuh tanda tanya. Ia menatapku tak mengerti sampai sosokku menghilang di kerumunan. Aku terus berjalan menuju ke kehidupan baruku. Tempat yang baru, dan orang-orang yang baru. Ingin ku buka lembaran baru dan melupakan segala yang pernah ku alami di kota ini. Tapi hanya satu yang tak dapat dan ingin kulupakan. Seorang wanita yang sudah mendapat sedikit kapling di ruang hatiku.
“ Refa Sevilla, biarkan aku memikirkanmu”***

Sedan Denis meluncur mulus di jalanan luas bilangan Pondok Indah. Ia menuju ke salah satu rumah yang dua orang satpam menjaga di pintu gerbangnya. Langkahnya cepat di dalam rumah sambil menjinjing sebuah bungkusan. Dinaikinya anak tangga dan menuju ke sebuah pintu kamar yang ada di ujung koridor. Diketuk pintu itu dan terbuka. Seorang perempuan berpakaian casual berdiri di baliknya masih memegang handle pintu.

“Jadi orang yang kamu maksud dan kamu temui di toko buku itu Doni” Ucap Denis sesampainya Ia di dalam kamar. Refa menatap Denis dengan penuh rasa ingin tahu. Pandangan matanya terhenti pada bungkusan yang dipegangnya erat.
“Ini dari Doni”. Denis menyodorkan bungkusan itu Ke arah Refa. Ia menerimanya dan segera membuka bungkusnya. Setelah dibuka, isi dari bungkusan itu adalah sebuah buku. Sebuah novel yang ditulis sendiri oleh Doni selama beberapa tahun ini. Di sampulnya tertulis.
“Biarkan Aku Memikirkanmu. (Untuk seseorang yang telah kutepati janjinya) Doni Andreas”.

12 komentar untuk “Biar Aku Memikirkanmu”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *