Di akhir Cerita

Di sana aku berniat hanya untuk membeli dua batang coklat. Setelah membayar sejum lah uang, aku memasukan dua batang coklat itu di dalam saku dan hendak untuk kembali ke ruang inap sebelum pada saat itu ada yang menepuk bahuku dari belakang. “Hallo bos, apa kabar….”. Terdengar suara yang sudah sangat akrab sekali dengan telingaku sejak aku SMA. Saat aku melihat siapa yang menepuk bahuku, aku melihat wajah ceria Yofi temanku yang agak feminim itu sejak SMA. Tapi sekarang rupanya pembawaannya lebih maskulin dan apa yang ada di sampingnya, seorang perempuan cantik sedang menggandeng siku Yofi.
“Hai yof, sudah lama enggak ketemu. Ada apa kamu di sini”, “Oh, ini habis ngejenguk saudara yang sakit.” “Sepagi ini?” tanyaku heran. “Ya sekalian aja sebelum berangkat kuliah. Lah terus, kamu sendiri ngapain?” tanya Yofi lebih heran yang melihat tampangku begitu kusut. “Oh aku, wah ceritanya panjang, nanti aku ceritakan. By the way, cewe capek di samping lo siapa nih?” ucapku mengalihkan arah pembicaraan. “Ini Sifa temen kuliah gue” “Temen apa temen?, eh ada waktu enggak, kita ngobrol-ngobrol dulu ya di situ!” ajakku sambil mengarahkan dagu ke arah kursi kosong di salah satu sudut kantin.

Setelah memesan tiga piring nasi goreng yang ternyata kami sama-sama belum sarapan, kami banyak mengobrol ringan terutama aku yang ngecengin Yofi yang ternyata bisa punya cewe juga. Aku tidak menyangka hal tersebut jika diingat sifat Yofi yang rada-rada aneh selama ini. Sebenarnya hal tersebut hanya untuk mengalihkan perhatian dari pertanyaan mengapa aku bisa berada di sini. Sampai saat aku sudah kehabisan ide sebagai bahan obrolan, Yofi kembali menanyakan perihal yang sedari tadi Ia ingin tahu.
“Terus, lo di sini ngapain pras, nungguin seseorang?” tanya Yofi pada akhirnya. Aku menghembuskan nafas panjang yang sepertinya sudah sedari tadi ingin aku keluarkan. “Iya” jawabku singkat. “Siapa, keluargamu?” Tanya Yofi lagi semakin penasaran. “Bukan, aku menunggu. Rindia” ku tundukan kepalaku tidak berani menatap pandangan tajam dan menyelidik dari Yofi. Yofi menghela nafas kecewa “Ahh, ternyata benar apa kata jhonny selama ini”. Aku semakin merasa tidak enak dengan Yofi yang terdengar nada kecewa dalam suaranya. “Jadi kamu masih menjalin hubungan dengan Rindia. Lalu bagaimana dengan….” “Ia sudah pulang kemarin”. Terlihat Yofi sangat terkejut dengan apa yang baru saja aku ucapkan. Sepertinya Ia sudah tahu apa yang terjadi antara aku dan Findia setelah melihat keadaanku yang sangat memperihatinkan. “Hal ini sudah ku katakan sebelumnya, pasti akan terjadi. Ya, mau bagaimana lagi. Kalau sudah begini kamu harus menjelaskan segalanya pada Findia.” Saran Yofi dengan nada suara yang sudah tenang sekarang. Aku mengangkat bahu tidak yakin “Akan aku coba, Thanks”. Yofi terlihat melirik jam tangannya dan kemudian mengamati pacarnya yang sudah selesai makan sedari tadi. “Sorry Pras, gue sama Siva harus berangkat sekarang nih.” “Oh iya, enggak apa-apa kok” jawabku sambil menjabat tangan Siva yang sudah bangkit dari kursinya. Saat sudah bangkit dari tempat duduknya, Yofi berjalan di sebelahku dan meletakan tangannya di bahuku. “Sabar ya Pras, gue tahu lo pasti akan memilih yang terbaik untuk masa depan lo!” katanya sebelum ia menepuk-nepukan tangannya di bahuku dan pergi menyusul Siva.

Aku masih duduk memikirkan apa yang dikatakan oleh Yofi barusan. Ku pandangi piring di hadapanku yang sekarang isinya tinggal setengah. Tanganku memegang sendok dan terus mengaduk-aduk isinya layaknya fikiranku yang sedang teraduk-aduk sekarang. Keadaan di kantin ini sudah mulai ramai oleh orang-orang yang hampir dari kesemuanya bertampang lesu dan kurang tidur. Semua keadaan itu tidak mempengaruhiku bahkan aku tidak menyadari ada seorang pelayan yang sedang membereskan piring bekas dipakai Yofi dan Siva tepat di depanku. Aku masih terus berfikir tentang keputusan apa yang harus aku ambil setelah ini. Hingga tanpa ku sadari aku tersenyum dan mendadak wajahku menjadi cerah kembali dan bersemangat. Segera aku berdiri dan membuat pelayan yang sedang membereskan piring di hadapanku terkejut. “Oh sorry-sorry mbak, aaa… berapa semuanya?”.
*****

Orang ramai hilir mudik di pusat perbelanjaan itu. Aku dan Rindia sekarang duduk berhadapan di meja sebuah restoran masakan Jepang pavoritku. Bertolak belakang dengan suasana di luar, di dalam restoran ini suasananya agak lenggang jadi jika berbicara sedikit agak keras saja pasti seluruh ruangan dapat mendengarnya. Udara sejuk dari Air Conditioner menyapu halus kepalaku yang rambutnya sekarang agak sedikit gondrong tidak terurus. Bergantian ku pandangi antara sukiyaki yang sudah berkurang seperempatnya dengan wajah Rindia yang semakin hari semakin pucat pasi. Nafsu makannya tidak lagi bahkan tempura yang sedari tadi di hadapannya hanya dipandangi saja tanpa disentuh. Sudah 30 menit keheningan di antara kami sejak masuk ke dalam resto ini. Ku raih cangkir teh yang ada di sebelahku dan menghirup sedikit isinya. Ku dongakkan kepalaku menatap lurus ke wajah Rindia yang kelihatannya sedang berfikir dan kucoba tersenyum seperti tidak ada apa-apa.

“Kamu baik-baik saja rin?” tanyaku membuka percakapan. “Ya, aku baik-baik saja kok”. Aku tahu Ia pasti bohong. Terlihat sekali di matanya yang sekarang beradu pandang denganku bahwa ada hal yang sedang ia fikirkan. “hmm, Pras, ada yang ingin aku bicarakan”. Ahirnya Ia akan mengutarakan apa yang Ia fikirkan sedari tadi. Aku sudah tahu apa yang Ia fikirkan sedari tadi, pasti tentang kejadian yang barusan ini di luar mall. “hmmm, perempuan yang di luar tadi pasti yang selama ini kamu bilang Findia.” Aku tak berreaksi, hanya memandangnya dalam-dalam berusaha untuk menenangkannya. “Kulihat tatapannya tajam kepadamu dan . penuh emosi”, “Sepertinya Ia memang sangat mencintaimu”. Kalimat yang diucapkannya belakangannya terdengar sangat lirih di telingaku. Tapi aku sangat jelas sekali mendengarnya dan dalam hati mengiayakan bahwa aku juga sangat mencintainya. “Sudahlah rin, tak usah masalah antara aku dan Findi membebani fikiranmu. Sekarang satu yang aku ingin hanya melihatmu sehat dan ceria kembali. Ayo dong, makan makanannya!”. Rindia mengatupkan jari-jari mungilnya di depan wajahnya seakan-akan ia tidak mendengarkan perkataanku yang tadi. Lama kembali hening menyelimuti kami. Tak ada yang dapat ku katakan barusan dan aku disibukan dengan bayangan yang melintas saat di luar mall aku keluar dari mobil bersama Rindia dan berjalan memapahnya yang masih belum menemukan keseimbangan. Selalu pada saat yang tidak menguntungkan, ku lihat Findia yang baru keluar dari mall dan menatapku tajam. Serasa menghukumku dengan apa yang terlihat olehnya. Aku hanya terdiam dan tidak berkata apa-apa melainkan pasrah dengan apa saja yang akan terjadi kemudian.

Setelah kesadaranku kembali di ruangan itu, ku rasakan udaranya masih sejuk dan keheningan masih tetap mengelilingi kami. Setelah beberapa saat, aku terkesiap dengan pa yang dilakukan oleh Rindia. Aku fikir Ia akan semakin sedih setelah tahu bahwa Findia sangat mencintaiku dan begitu pula aku. Tapi Ia meletakkan kedua tangannya di meja dan mulai menegakan kepalanya. Terlihat senyum manis yang sudah sebulan ini tidak pernah kulihat lagi. Matanya berbinar-binar dan dengan tangannya yang lembut mengambil tempura yang sedari tadi tidak disentuhnya untuk dimasukan ke dalam mulutnya yang indah. “Ternyata, Findia benar-benar mirip dengan ku ya?. By the way, tempura ini enak juga, kenapa sedari tadi enggak ku makan ya!”. Rindia pun tertawa kecil sambil mengunyah dengan lahap seakan-akan 30 menit waktu yang hilang sebelumnya tidak ada. Aku pun tersenyum lebar tanpa sadar. Seperti udara sejuk AC dapat menembus batok kepalaku dan menyapu panas yang ada di dalamnya.
*****

1 komentar untuk “Di akhir Cerita”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *