Di Tengah Kisah

Bel tanda berakhirnya waktu untuk mengerjakan soal berbunyi. “Baiklah, tinggalkan soal dan lembar jawaban di meja masing-masing, dan kalian dipersilakan pulang.” Kata pengawas ujian kami dengan ramah. Saat bel itu berbunyi, terdengar suara-suara seperti lengus kekecewaan mungkin karena mereka belum selesai mengerjakan soal-soalnya, dan ada juga yang berdecak gembira menyambut bel itu mungkin karena sukses dalam menjawab soal-soal, atau karena sudah bosan mengerjakan soal yang tidak mereka temukan jawabannya. Aku bergegas keluar ruangan dan sempat sedikit tersenyum kepada pengawas kami yang ramah itu. Di luar kelas, aku melihat Jhonny dan Yofi yang sepertinya terdapat ekspresi kekecewaan di wajah mereka. “Gimana Yof, Jhon?” tanyaku ketika menghampiri mereka yang sedang berkeluh kesah. “Ah pahit, contekanku banyak yang tidak keluar di ujian, dan ditambah pula susah banget buat ngintip contekan, soalnya tuh si pengawas yang udah mirip banget sama Oliver Kant ngeliatin gua terus!” cetus Jhonny sambil meremas-remas kertas contekannya dan melemparkannya ke tong sampah. “Lah kalau elu Yof?” “Kalau gua sih selesai semua tuh soal. Tapi enggak tahu deh bisa 50% benernya apa enggak. Abis kalau gua ngeliatin muka tuh pengawas, gua bawaannya pengen cepet-cepet aja nyelesaiin tuh soal!” jawab Yofi sambil mengguyurkan sedikit air mineral yang ada di tangannya ke kepalanya mungkin untuk mendinginkan otaknya yang sudah mendidih. “Lah kalau elu sendiri gimana Pras, kayaknya elu tenang-tenang aja!” “Kalau gua sih yakin kalau bisa lulus dengan nilai yang tidak terlalu mengecewakan, ya semua ini berkat gua sering belajar bareng sama tuh cewe” jawabku sambil menunjuk ke arah Findia yang berjalan menghampiri kami. “Hayo ngapain, ngomongin gua ya?” kata Findia dengan gaya bicara yang agak sedikit manja. “Ya gitu deh kurang lebihnya” jawab Yofi yang langsung memalingkan pandangannya ke arah Findia. “Oh iya, bagaimana kamu ujiannya Pras?” tanya Findia kepadaku. “Ah tidak terlalu buruk kok, aku bisa menyelesaikan semua soal dengan baik” “Ah…, syukurlah kalau begitu. Any way, kita hari ini belajar bareng lagi enggak?” “Oh of course, Jhon Yof, gua balik dulu ya!” kataku sambil melakukan tos khas gank kami sebelum berpisah.

Di dalam angkot, aku duduk berhadap-hadapan dengan Findia. Persis saat aku bertemu pertama kali dengan perempuan cantik itu. Dalam perjalanan menuju kost-kostan Findia, kami bercakap-cakap ringan di dalam angkot tentang mata pelajaran berikutnya yang akan diujian keesokan harinya. Matahari Jakarta panas menyinari kepalaku saat aku turun dari angkot dan membayar ongkos untuk dua orang. Saat kami berjalan, tiba-tiba aku melontarkan sebuah pertanyaan kepada Findia. “Fin, kamu masih ingat enggak ketika aku membantu kamu memasukan buku-buku yang tumpah dari tasmu?” “Oh iya masih, mana bisa ku lupakan pertemuan pertama yang sangat berkesan untuk diriku itu” Jawab Findia agak sedikit terkejut. “Waktu itu aku tidak bisa berkata apa-apa dan hanya tercengang seperti orang bego gitu kan!” “Ya gitu deh, aku waktu itu hanya terkesan akan kebaikan dari kamu” Findia agak sedikit mempercepat langkah mungkin karena matahari yang sangatlah terik. Lalu pada saat aku mau melanjutkan perkataanku, tanpa ku sadari kami telah tiba di tempat kos-kosan Findia. Aku dipersilakan untuk masuk dan mengambil kursi di bagian depan ruangan itu. Findia sengaja kost dengan alasan agar lebih dekat dari sekolah, dan ia ingin mandiri terpisah dari orang tuanya. Kostan ini terdiri dari dua ruangan, ruang depan dan belakang. Ruang depan digunakan sebagai ruang tamu dan ruang bagian belakang dipergunakan untuk kamar tidur. Ruang depan ini terlihat sangat rapi dan bersih, terlihat sekali bahwa ada sentuhan wanita di sini. Sedangkan untuk ruang belakangnya, aku tidak mengetahuinya karena aku tak pernah melihat-lihat terlalu jauh sampai ke kamar tidurnya. Setelah berganti pakaian dengan pakaian rumah, Findia keluar dari kamarnya dengan membawa dua gelas minuman dan makanan kecil. Findia terlihat tetap cantik dan menarik walaupun memakai pakaian berjenis apapun. Kami mulai belajar dengan materi yang akan diujikan esok hari yaitu Bahasa Inggris. Ini sebenarnya bukan materi yang terlalu berat bagiku, karena aku sudah mahir dalam bahasa Inggris baik itu speaking, listening, dan writingnya. Kami belajar dengan mengerjakan contoh-contoh soal yang ada di buku latihan yang mudah-mudahan soal yang keluar di ujian model-modelnya seperti ini. Di tengah belajar yang penuh dengan canda itu, tiba-tiba gairahku meningkat mungkin karena tekanan akibat ujian tadi pagi. Aku menggenggam tangan Findia yang lembut, dan ku pandangi wajahnya yang mempesona. Rasanya aku ingin segera memeluk dan mencumbui dirinya. Tapi aku dapat menahan gejolak itu. Aku sudah berjanji dengan diriku sendiri bahwa aku tidak akan menodai cinta yang suci ini. Aku tidak ingin mengulangi kisah cintaku seperti gadis-gadisku selama ini yang hanya berdasarkan nafsu. Tapi yang ini beda, aku sangat mencintainya dan tetap ingin menjaga kehormatannya sampai kita nanti dipersatukan dalam indahnya mahligai pernikahan. Ku lepaskan tangan Findia berusaha untuk menahan keinginan itu. Lalu aku mulai memusatkan konsentrasi kembali agar terfokus pada materi yang akan kami hadapi esok hari.

***
Sinar mentari cerah pagi hari membangunkan diriku di hari kedua ujian akhir nasionalku ini. Aku bangun dengan rasa optimis bahwa aku akan lulus ujian dengan nilai yang baik. Di sekolah, pada saat aku mengerjakan ujian, tidak ada hal yang menghambat dalam pekerjaan ku itu. Semuanya berjalan dengan lancar dan aku dapat menyelesaikan soal-soalnya dengan tepat waktu. Setelah ujian, Jhonny yang memang lemah dalam Bahasa Inggris merasa sangat tegang. Ia takut jika nilai bahasa Inggrisnya tidak lulus. Lalu seperti biasa, aku dan Findia belajar bersama dulu setelah pulang sekolah. Hari esoknya kembali berjalan dengan lancar setelah aku tidak menemukan kesulitan yang cukup berarti dalam pengerjaan soal-soalnya. Bel tanda berakhirnya ujian hari ketiga. Sorak sorai dari anak-anak yang bahagia karena akhirnya mereka dapat menyelesaikan ujian yang akan mengantarkan mereka lulus dari sekolah ini. Tapi di sela-sela sorak sorai itu, ada sebagian siswa yang bersedih tentah karena mereka takut tidak lulus atau apalah. Aku bertemu Findia pada saat keluar dari kelas ujian. Ku lihat ada ekspresi kegembiraan di wajahnya. Aku bermaksud untuk mentraktirnya makan malam di restoran sebagai tanda terima kasihku atas bantuan dan kasih sayangnya selama ini padaku. Pada saat kami makan di restoran, aku melihat ada ekspresi bingung dan sedikit di raut wajah Findia. Hal yang sangat berbeda sekali pada saat kami bertemu tadi siang.
”Fin, ada apa?. Kamu tidak suka makan di sini!” aku mencoba tuk mengetahui apa penyebabnya. “Ah enggak kok, aku suka kok di sini” terlihat ada hal yang disembunyikan oleh Findia. “Terus terang aja ada apa?” “Bener kok enggak ada apa-apa”. Akhirnya aku menyerah dan membiarkan semua itu. Tiba-tiba Findia berkata “Hmmm, tapi ada yang mau kuberitahukan sama kamu Pras.” “Apa itu?” “mmmm, tidak lah. Mudah-mudahan semua ini tidak akan terjadi. Lupakanlah yuk terusin makannya!” kata Findia berusaha merubah ekspresi wajahnya menjadi ceria kembali. Sejak saat itu aku menjadi gelisah. Apakah yang sebenarnya disembunyikan oleh Findia?. Tapi aku yakin, Fibndia itu perempuan yang jujur. Jadi ia tidak akan menyakiti hatiku. Aku percaya itu.

7 komentar untuk “Di Tengah Kisah”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *