Di Tengah Kisah

Awal bulan Juni, awan mendung menaungi malasnya kota Jakarta pada hari pertama di minggu ini. “Ini bukan seperti biasanya. Seharusnya ini sudah musim kemarau. Tetapi mengapa awan mendung ini menutupi cerahnya sinar mentari pagi?. Ah…, mudah-mudahan tidak hal buruk yang terjadi pada hari aku menerima hasil ujian nasional ku ini.” Aku bergumam sambil membuka jendela kamarku. Aku menunggu hasil ujianku di rumah dengan perasaan yang gelisah. Aku khawatir jika aku tidak lulus nantinya. Tapi aku harus lulus dan tidak ingin mengecewakan usaha Findia selama ini. Akhirnya, pada saat tengah hari. Pak pos yang ku tunggu-tunggu dengan was-was tiba juga. “Ada yang namanya Prasetyo Anggoro di sini?” tanya pak pos itu dengan ramah ketika aku berjalan cepat menyongsong surat itu. “Iya pak saya sendiri!” “Oh, ini tolong di kasih ke orang tuanya ya dek. Semoga adek lulus!” ucap pak pos sambil menyerahkan selembar amplop putih dengan lambang sekolah di depannya. “Terima kasih pak!” kataku dengan gemetar sambil menerima amplop putih itu. Aku langsung bergegas menuju ruang keluarga yang di sana ada ayah dan ibuku. Pada saat itu kebetulan Ayah dam Ibuku sedang tidak kerja. Aku membuka amplop itu dengan hati-hati sambil mengucap Basmalah dalam suara yang lirih. Ku buka lipat demi lipatan kertas itu dan pada saat aku membuka lipatan terakhir aku melihat kata Tidak lulus di berikan tanda coretan. Aku langsung merasa sangat bahagia dan memeluk kedua orang tuaku yang memang keadaan ini sangat jarang terjadi. Aku berpamitan untuk menuju ke sekolah melihat hasil nemku sebenarnya.

Di sekolah, aku melihat Yofi dan Jhonny yang sedang murung mukanya. “Ada apa Yof, Jhon?. Elu semua lulus kan?” tanyaku ketika baru saja tiba di tempat biasa nongkrong. “Sayangnya tidak Pras!” jawab Yofi dan Jhonny bersamaan. “mana sini ku lihat kertasmu!” aku membaca kertas pemberitahuan mereka berdua dan aku tertawa terbahak-bahak. “Ini sih tandanya kalo elu berdua itu lulus tau!” “Kok bisa, yang di coret kan kata-kata tidak lulus.” Yofi bertanya heran. “maksudnya, kalau ada kata-kata yang dicoret itu berarti kata itu tidak terpakai. Jadi yang dipakai adalah anda telah lulus!” aku masih tertawa sambil menyerahkan kertas itu kepada mereka. “Bener itu Pras!” kata Jhonny yang mulai ada raut kegembiraan di wajahnya. Aku hanya bisa mengangguk dan memandangi ekspresi kegembiraan dari mereka berdua. Kutinggalkan mereka yang sedang yuvoria kelulusan untuk menuju papan pengumaman nilai nem siswa. Di sana kulihat namaku masuk deretan Top Ten nem-nem terbaik. Sehingga pada saat ku lihat Findia di ujung koridor kelas, aku langsung berlari menyongsongnya dan memeluk tanpa sadar tubuh Findia yang indah itu. “Terima kasih Fin, aku lulus dengan nilai yang cukup baik!”, tetapi pada saat yang bersamaan, aku tersadar dan melepaskan pelukanku dan merasa sangat malu sekali pada Findia. “Maaf…, maaf.. Fin, aku tidak bermaksud…” kataku geragapan. “Enggak apa-apa kok, aku tahu kegembiraanmu itu” kata Findia dengan tenang tetapi masih sedikit malu. Tiba-tiba, ekspresi wajah Findia berubah menjadi sedih dan agak bingung. “Aku…, mau bicara sama kamu Pras. Penting!” “Penting?, bagaimana kalau kita bicara di ujung koridur itu!” “Baiklah”. Aku berjalan mengiringi langkah kaki Findia yang berjalan dengan gontai di sampingku. Di ujung koridor ini akan menjadi saksi hal penting apa yang akan dikatakan Findia kepadaku. Aku berharap mudah-mudahan awan mendung bukan pertanda buruk bagiku seperti baiknya nilai ujianku. Findia mulai berkata, “Aku lulus dengan nem yang terbaik Pras, oleh karena itu aku mendapatkan beasiswa untuk meneruskan studi kedokteranku” Findia berbicara sambil terus menatapi awan mendung di langit. “Wah bagus dong, selamat ya Fin kamu memang pantas mendapatkannya!” kataku sambil menyodorkan tangan ingin bersalaman, tapi Findia masih terus memandangi langit yang mendung. “Masalahnya…, aku mendapatkan beasiswa untuk studi di Australia.” Kata Findia dengan suara yang sangat lirih sampai hampir-hampir aku tidak bisa mendengarnya. Mendengar hal tersebut, ada rasa bahagia dan kecewa yang bercampur di hatiku. Bahagia karena orang yang aku Cintai mendapatkan kesempatan untuk studi di luar negeri, dan kecewa karena bila benar ia jadi berangkat, kami akan berpisah selama beberapa tahun. Jadi inikah pertanda dari cuaca buruk pagi ini, hal yang sangat tidak ku inginkan. Berpisah dengan Findia yang sudah seperti separuh dari jiwaku. “Kita mungkin akan berpisah untuk beberapa tahun,” lanjutnya. “Tapi aku yakin, perpisahan kita akan secepat berakhirnya awan mendung itu. Masa depan kita akan kembali cerah pada saat kita bertemu nanti.” Jelas Findia yang sekarang mulai menatap wajahku. Aku mulai bisa berfikir jernih dan berkata setelah sebelumnya dirundung kepenatan, “Aku akan bahagia jika kau pun merasa bahagia. Jarak dan waktu bukanlah penghalang yang dapat merintangi cinta kita berdua. Pergilah adinda, kejarlah cita-citamu. Yang ku harapkan hanyalah kesetian dan kepercayaan dirimu atas diriku yang akan menunggumu sampai kapan pun. Ingatlah, kamu lah cinta sejatiku, satu sampai akhir hidupku.” Aku berbicara sambil menatapi wajah Findia yang mulai basah dengan air mata haru bercampur bahagia dari mata findia yang jernih.

7 komentar untuk “Di Tengah Kisah”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *