Di Tengah Kisah

Setelah mengantarkan Findia ke bandara untuk penerbangan pertama dengan tujuan ke Perth Australia, aku mulai membuat planning untuk hal apa saja yang akan aku kerjakan ke depan. Aku mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) untuk dapat masuk ke universitas negeri terkemuka di kota ini. Aku memilih urusan ilmu Ekonomi yang memang aku berminat pada bidang itu, dan untuk melanjutkan perusahaan Ayahku kelak. Hari-hari di tinggal Findia sangatlah terasa. Biasanya kami selalu belajar dan memccahkan masalah bersama, sekarang aku harus berusaha untuk dapat memecahkan suatu masalah sendirian. Sekali lagi tanpa ada Findia di sisiku. Ditambah pula aku belum bisa berkomunikasi dengan Findia baik itu telephone atau surat karena Findia belum menghubungiku sejak ia berangkat ke Australia. Tapi aku masih ingat kata-kata Findia, “Masa depan kita akan cerah ketika kita bertemu nanti.” Hal itu memberikanku motifasi untuk dapat sukses pada saat kami bertemu nanti. Akhirnya dengan usahaku yang sangat keras tanpa bantuan Findia, aku dapat lulus SPMB dan masuk ke Universitas Nusantara yang merupakan universitas negeri paforit dan terbaik di negara ini. Di sana seperti yang telah aku cita-citakan, aku mengambil ilmu Ekonomi yang sangat aku sukai. Dari awal semester aku belajar dengan rajin dan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di kampus. Di sini aku mendapatkan teman-teman yang baru dan berlatar belakang berbeda-beda. Semuanya belajar sangat antusias untuk tidak ketinggalan dalam persaingan yang sangat ketat di Universitas ini. Sementara itu, Yofi dan Jhonny teman karibku itu tidak masuk ke Universitas negeri karena mareka gagal dalam ujian SPMB. Mereka berdua masuk di universitas swasta yang sama dan berada tepat di seberang gedung kampusku. Yofi mengambil jurusan sastra Inggris dan Jhonny mengambil jurusan ilmu politik. Walaupun kami terpisah kampus, tapi kami masih sering menjalin kontak dan bertemu satu dengan yang lainnya. Anehnya, sampai kira-kira ada sebulan Findia berada di Perth, aku belum pernah mendapatkan kontak sedikitpun dari Findia. Tapi aku di sini hanya bisa mendo’akannya agar tidak terjadi hal yang tidak kuinginkan pada Findia di sana. Aku ingin kami kembali bersama seperti dulu.

Di kelas saat aku sedang membereskan buku-buku usai pelajaran, ada seorang perempuan teman sekelasku yang sudah ku kenal menghampiriku. “Pras, ada yang mau kenalan tuh!” katanya sambil menarik-narik lengan pakaianku menyuruh untuk lebih cepat. “Siapa sih?, sabar dong!. Sebentar lagi juga selesai.” Kataku dengan sedikit kesal. Sambil mengumpulkan keseimbanganku dalam berjalan, aku berjalan cepat mengikuti temanku itu menuju keluar kelas. Di ujung koridor kelas, aku melihat ada seorang perempuan cantik yang jika kulihat sekilas wajahnya mirip dengan Findia. Perasaanku sangat bahagia sekali karena menyangka Findia sudah kembali kepadaku. Tapi tidak mungkin, Findia ada di Australia untuk beberapa tahun. “Eh tin, jangan kasar-kasar gitu dong!” kata-kata lembut keluar dari perempuan cantik itu memperingatkan temanku itu yang memang berbadan agak seperti laki-laki. “Sorry deh!” kata Tina sambil berlalu pergi. “Findia?” “Bukan-bukan, saya Rindia” “Oh maaf…, maaf…, saya kira orang yang saya kenal sebelumnya” kataku dengan rasa sedikit malu dan kecewa karena ia bukanlah Findia yang selama ini aku kenal. “Aku Prasetyo, kamu bisa panggil aku Pras aja. Oh iya by the way, untuk apa kamu memanggil saya ke sini?” kataku sambil menjabat tangan Rindia. “Oh, aku di sini hanya ingin berkenalan dan mengucapkan terima kasih lagi atas bantuan kamu pada waktu itu”, “Bantuan yang mana?”, “Itu loh bantuan yang kamu berikan pada saat sedang ospek. Yang waktu itu kamu nolong aku saat sedang terperosok ke lumpur.” Kata Rindia dengan gaya bicara yang hampir mirip dengan Findia. “Oh…, yang itu ya!”, aku mencoba mengingat-ingat. Aku ingat bahwa dia itu gadis yang sama-sama ospek denganku dan terperosok ke dalam lumpur pada saat di suruh mengerjakan tugas-tugas yang aneh-aneh oleh senior. Pada saat ku tolong dia, aku tidak memperhatikan wajah dari perempuan itu, karena wajah dan badannya penuh lumpur yang menutupi kecantikan menawan yang kulihat sekarang ini. “Kamu mau langsung pulang setelah ini?” “Iya, sudah tidak ada apa-apa lagi yang mau aku kerjakan di sini” “Rumah kamu di mana?” “Di sekitar kebon Jeruk” “Oh kalau begitu, bareng saja denganku!” “Ah tidak usah, kita kan baru kenalan nanti merepotkan” “”Sudahlah, enggak apa-apa kok. Abis daripada aku pulang sendirian!”, “Tak usah aku biasa pulang naik kendaraan umum sendiri kok, terima kasih” “Baiklah kalau maumu begitu” kataku sambil menunjukan sedikit ekspresi kecewa. Kami berjalan beriringan menuju keluar kampus sambil mengobrol-ngobrol kecil. Pada saat kami berjalan menyusuri tangga dan sudah tiba di dua anak tangga terakhir, aku melihat Rindia tiba-tiba memagangi kepalanya dan terjatuh tak berdaya. Aku segera menolongnya dan berkata, “Kamu tidak apa-apa Rin?” “Tidak terlalu buruk, tapi ku rasa kakiku terkilir” kata Rindia sambil memegangi pergelangan kakinya. Aku membantu Rindia berdiri dan memapahnya dalam berjalan. Aku berkata dalam hati, “Syukurlah Findia tidak ada di sini, aku tidak mau ada kesalahpahaman dengan melihatku bersama wanita lain”. Lalu aku berkata “Kalau begini kamu aku antarkan ke klinik ya!” “Ah tidak usah, tolong antarkan aku ke rumah saja”. Aku menuju ke lapangan parkir dan menemukan mobil Mersi sport dua pintuku itu siap menunggu di sana. Ku bukakan pintu mobil dan membantu Rindia untuk duduk di sana. Aku mengamati wajah Rindia, tidak ada kesan keterkesanan yang biasa jika perempuan-perempuan biasa melihat mobil Mersiku yang mentereng ini. “Persis seperti Findia” aku berkata dalam hati. Laju mobilku yang menyusuri jalan-jalan macet jam pulang kerja menghantarkan kami pada obrolan ringan untuk mengetahui tentang diri masing-masing lebih jauh. Kami tiba di tempat tinggal Rindia pada saat matahari mulai memerah. Ternyata Rindia tinggal di tempat kost yang kehidupannya hampir mirip dengan Findia. Ia menginginkan kehidupan yang mandiri tidak membebankan kerabatnya karena orang tuanya yang sudah meninggal. Ia anak semata wayang dari orang tuanya dan kerabatnya tinggal jauh di luar kota Jakarta ini. Merupakan perempuan yang sangt tegar dalam menghadapi hidup yang keras ini apalagi di kota Jakarta yang penuh dengan rintangan. Saat aku membukakan pintu mobil untuk Rindia, tiba-tiba handphone ku berdering. Ku lihat di screen tertera nomor yang tidak kukenal dan menggunakan kode negara Australia. Aku mengangkat panggilan itu dengan harap bahwa itu adalah kabar baik dari Findia. Terdengar suara yang sangat jernih di telingaku “Hallo assalamualaikum!” “Wa alaikum salam” Aku mendengar suara yang sudah sangat ku kenal selama ini. “Hallo Pras, ini aku Findia dari Perth” “Iya sayang, aku tahu itu pasti kamu. Aku sangat merindukan kamu. Bagaimana kabarmu di sana?” Aku berjalan agak menjauh dari Rindia tapi masih dalam jangkauan dengarnya. “Aku baik-baik saja. Semua berjalan lancar di sini. Aku juga sangat merindukan mu Pras. Bagaimana kabarmu di sana?” Terdengar suara lembut dari ujung telephone. “Aku di sini baik-baik saja, tapi sepertinya ada separuh dari jiwaku yang hilang. Karena kita tidak bisa berkomunikasi satu dengan yang lain.” “Sekarang kamu bisa add nomor ini, dan catat ya alamatku tinggal di sini.” Aku segera bergegas menuju ke mobilku dan mengambil kertas serta pulpen di dalamnya. “Tapi aku tidak bisa lama-lama berbicara di sini, karena masih ada studi lagi yang harus aku lakukan” terdengar suara Findia lagi setelah memberitahukan alamatnya. “Baiklah sayang, aku akan menghubungimu pada saat malam hari di sana nanti” kataku sebelum kami saling mengucapkan salam dan memutus hubungan telephone. Kemudian, aku teringat pada Rindia yang masih terduduk di kursi mobilku yang agak kesusahan untuk berjalan. “Maaf ya, tadi aku harus berbicara dulu di telephone” kataku dengan nada suara yang sangat ceria. “Kelihatannya kamu sangat bahagia sekali setelah dapat telephone tadi?” “Oh iya, itu tadi telephone dari pacarku yang sekarang sedang studi di Australia. Ini adalah calling pertamanya sejak kami berpisah satu bulan lalu!” “Oh…, begitu..”, aku melihat ada ekspresi kekecewaan di wajah Rindia. Kami berpisah di muka pintu kost Rindia setelah saling mengucapkan salam dan aku menuju ke rumah dengan perasaan yang sangat bahagia di suasana senja mentari yang sudah sangat merah.

7 komentar untuk “Di Tengah Kisah”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *