Di Tengah Kisah

Di kamarku, sambil merebahkan diri dan melihat layar komputerku yang masih menyala yang di wallpaper-nya terpampang wajah cantik Findia, aku berjanji bahwa aku akan menjaga jarak dengan Rindia mulai saat ini. Tapi aku sangat sulit sekali melakukannya, karena aku tidak tega terhadap perempuan yang hidup sebatang kara di kota ini dan membutuhkan kasih sayang dari orang terdekatnya. Aku tidak bisa, aku tidak tega jika melihat perempuan yang sedang bersedih. Tapi aku berjanji padamu Findia, aku tidak akan menghianati dan menyakiti hatimu lagi. Saat aku ingin mengklik tombol Turn Off di komputerku, terlihat di e-mail notifier ada e-mail yang baru saja masuk. Pada awalnya aku tidak ingin memperdulikan e-mail tersebut, tapi pada saat itu tanganku refleks mengklik pesan tersebut dan tertulislah ‘From : Findia Anggari’. Ku baca e-mail itu kata demi kata. Di sana tertulis:

Dear Pras,
Saat aku menulis e-mail ini, aku sedang dalam perasaan yang sangat gundah. Di sini pukul 2 malam sekarang, dan aku baru saja terbangun dari mimpi buruk yang mendatangiku.
Di mimpi itu aku melihat kamu bersama wanita lain di sana dan kamu telah melupakanku saat aku datang nanti. Apakah ini firasat buruk bagiku?, ku harap tidak. Aku tidak mau hal itu terjadi karena aku sangat cinta dan merindumu di sini. Apakah kamu masih mengingat janji kita sebelum kita berpisah pras?. Aku akan menepati janji itu dan kita akan kembali bersama dengan masa depan yang lebih cerah.
Jika kamu membaca surat ini sekarang, tolong reply dan yakinkanlah aku bahwa semua itu tidak benar dan kita akan bersama lagi seperti dulu.

Salam rindu
From Findia.

***
Aku menerawang kosong memandangi tulisan-tulisan yang ada pada e-mail itu sambil mengingat-ingat percakapan kami sebelum kami berpisah dulu. Apakah ia tahu semua apa yang aku lakukan di sini?. Ah, tapi itu hal yang tidak mungkin. Aku kemudian langsung mengklik link reply dan menulis:

Dear Findia,
Aku di sini selalu merindumu dan selalu berusaha untuk tidak mengecewakanmu. Aku masih ingat bagaimana janji kita ketika sebelum kita berpisah dulu. Yakinlah bahwa mimpi itu hanya bunga tidur dan yakinlah pula, bahwa aku akan selalu setia menunggumu sampai kapanpun.
Do’a dan cintaku akan selalu mengiringimu di manapun engkau berada, percayalah itu.

Salam kasih,
From Pras.

***
Hari-hari berikutnya, aku mulai menghindar dari tatap muka secara langsung dengan Rindia. Aku tidak ingin memberinya angin yang terkesan bahwa aku juga mencintainya. Aku tidak ingin menyakiti hatinya sebelum hubungan kami menjadi lebih jauh. Tapi sekali lagi, aku tetap tidak tega terhadap seorang perempuan, apalagi perempuan itu sangat menawan. Suatu hari pada saat aku sedang latihan bola di sore hari, aku melihat Rindia berdiri menunggu di sisi lapangan. Aku berkata dalam hati, “Ada apa Rindia datang ke tempat ini?”. Akhirnya peluit tanda berakhirnya jam latihan dibunyikan, dan aku berjalan ke tempat Rindia menunggu. Saat aku mulai mendekati di mana Rindia berdiri menunggu, ia berkata “Capek ya latihannya?, ini ku bawakan air!” kata Rindia sambil menyodorkan botol air mineral yang tidak kuperhatikan sebelumnya. Tiba-tiba teman-teman satu clubku bersorak, “Wah enak ya, punya pacar yang nungguin pas latihan. Sambil mbawain air lagi!” kata mereka sambil tertawa menyindir. Aku biarkan saja sindiran mereka tetapi Rindia hanya tersenyum-senyum simpul saja menanggapinya. Aku mulai berkata, “Ada apa kamu datang kemari?, sepertinya kita tidak ada janji apa-apa!” aku berkata sambil menghabiskan sisa air mineral di botol itu. “Tidak ada apa-apa kok, aku hanya ingin melihat bagaimana kamu saat latihan dan pulang bareng nanti. Soalnya aku merasa sedikit enggak enak badang, boleh kan?”, aku mengamati wajahnya, memang sedikit pucat. Tetapi tidak mengurangi daya pesona pada wajah itu. “Oh tentu saja boleh!”. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian di ruang ganti, aku bersama Rindia masuk ke mobil dan segera meluncur ke arah Kebon Jeruk. “Mukamu pucat sekali, apa tidak sebaiknya kita ke dokter saja?”, “Ah tidak usah, ini sudah biasa kok, nanti juga hilang sendiri”. Tidak terasa tiga puluh menit berlalu setelah kami menyusuri jalan-jalan di kota Jakarta yang tidak pernah lepas dari yang namanya macet itu. Kami berpisah ketika sudah mendekati depan pintu kost rindia. Saat aku baru brjalan beberapa langkah menuju mobilku lagi, terdengar seperti suara orang yang rubuh ke tanah. Saat ku alihkan pandanganku ke arah datangnya suara, ternyata Rindia yang tergeletak tak berdaya di depan pintu kostnya yang masih belum terbuka. Aku segera berlari menghampirinya dan menanyakan apakah ia tidak apa-apa, tetapi ku lihat seperti antara keadaan sadar dan tidak sadar Rindia pada saat itu. Aku segera mengambil kunci pintu yang sudah ada di genggaman Rindia dan membukanya untuk membaringkannya di atas ranjang. Aku menunggui Rindia di samping ranjangnya sampai ia siuman. Karena peristiwa ini, aku merasa lebih tidak tega untuk menjauhinya. Apalagi ia hidup sendiri di sini dan sering sekali pingsan. Setelah beberapa menit, terdengar suara “Pras, pras!” “Ya, aku di sini. Aku akan menjagamu”, “Pras, terima kasih ya telah menolongku untuk yang kesekian kalinya!” kata Rindia lirih sambil memegangi tanganku. Saat yang bersamaan, aku melihat sedikit pakaian Rindia tersingkap, dan timbullah lagi dorongan itu. Tapi sebelum aku melakukan hal yang lebih jauh, aku melihat sekelebat bayangan wajah Findia di hadapanku dan terdengar suara yang sangat jauh sekali, “Yakinkanlah aku Pras, bahwa hal buruk itu hanya mimpi dan tidak akan terjadi!”. Aku sadar dan menyesal sekali karena hampir saja melakukan perbuatan yang menghianati cinta suci Findia padaku. Segera ku lepaskan tanganku dari tangannya untuk menghindari hal-hal yang tidak kami inginkan. Setelah beberapa lama aku menemaninya dan memastikan bahwa keadaannya sudah mulai membaik, aku berpamitan untuk pulang.

7 komentar untuk “Di Tengah Kisah”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *