Friendship

Tahun keduaku di kuliah, ada sesuatu yang mengganggu konsentrasiku. Saat hari pertama masuk kuliah setelah liburan, aku secara tidak sengaja menabarak seorang wanita dan menumpahkan air mineral yang sedang ku bawa di tangan ke pakaiannya. “Maaf, Maaf, enggak sengaja. Boleh saya bantu ngelapnya?”. “Enggak-enggak usah, terima kasih!” jawabannya dengan nada marah sambil meninggalkanku. Aku berkata dalam hati “Ah cantik benar perempuan itu, apa lagi kalau sedang marah”. Di kelas, aku terus membayangkan wajah perempuan itu. Aku berfikir, sepertinya dia itu anak baru di sini. Akan ku cari dia nanti dan ku tanyakan namanya. Sesampainya di kos-kosan, aku langsung mengadakan rapat dengan Soni dan Armand tentang kejadian yang baru saja ku alami.

Aku berkata : “Bagaimana pendapatmu man?. Sepertinya gw suka banget sama tuh cewe!”.
Armand : “Ah hati-hati rul, kamu harus yakin dulu apakah kamu itu cinta benaran sama tuh cewe”.
Aku berkata : “Ah masih enggak jelas sih, tapi kayaknya sih iya, abis tuh cewe cantik banget sih!”.
Armand : “Kalau begitu, kalau kamu mau pacaran sih boleh-boleh saja, tapi jangan sampai melupakan studi kamu di sini. Ingat, kamu di sinikan buat kuliah kan, bukan buat pacaran!”.
Soni : “Ah kamu man, nyantai aja. Hidup ini kalau tanpa wanita kagak lengkap rasanya. Apa lagi tuh cewe cantik, sikat aja Rul!”.
Armand : “Eh aku tidak setuju, kita ini kan sebenarnya di sini untuk belajar bukan?”.
Soni : “Iya sih, tapi….”.
Aku berkata : “Sudah-sudah, jangan ribut dong!. Kebiasaan banget deh. Aku bakalan nerima usul kalian berdua. Tapi besok kayaknya aku mau nyari tuh cewe buat PDKT”.
Armand : “Ya sudah, tapi hati-hati ya!”.
Soni : “Itu baru friend gw!”.

***
Aku terbangun dari tidur pagiku setelah semalam aku memimpikan kejadian bertemu dengan perempuan cantik itu. Aku langsung bergegas dari tempat tidurku untuk mandi kemudian segera melaksanakan Shalat subuh berjamaah. Sesampainya di kampus, aku melihat berkeliling seipa tahu bisa menangkap sekelebat wajah cantik itu. Akhirnya aku menemukannya sedang membaca buku di kursi kantin kampus. Aku ikut memesan makanan dan duduk satu meja dengan perempuan itu. Aku mengajaknya mengobrol tapi sepertinya perempuan itu agak acuh tak acuh entah karena memang begitu atau masih marah karena tidak sengaja aku siram kemarin. Setelah lama bercakap-cakap, akhirnya aku berhasil mengetahui namanya. Namanya Dina. Dia orang asli dan tinggal di Bandung ini. Dia mahasiswi yang baru masuk institut tahun ini. Sehingga ia adalah adik kelasku. Setelah lama mengobrol, akhirnya sikapnya lumer juga dan mulai ramah terhadapku. Kemarahannya kemarin sepertinya sudah mulai hilang dengan obrolan yang kusisipkan lelucon di dalamnya. Sebulan berlalu, hubungan kami semakin dekat. Yang pada akhirnya aku putuskan untuk menembaknya jadi pacarku. Waktu itu dengan banyak trik dan intrik aku menembaknya untuk jadi pacarku. Sehingga penembakan itu berkesan di hatinya. Seperti yang kuharapkan, ia menerimaku untuk jadi pacarnya.

Semakin lama, intensitas pacaranku semakin tinggi. Hampir-hampir studiku terbengkalai karenanya. Dan karena hal itu, cadangan uangku juga sudah mulai menipis. Yang lebih parahnya lagi, hubungan persahabatan aku dengan Soni dan Arman menjadi agak renggang. Sekarang ini Kami jadi jarang ketemuan bareng karena sibuknya aku berpacaran dengan Dina yang maunya jalan-jalan terus. Di saat itu, pernah aku bertemu dengan Soni dan Armand yang pertemuaan itu sangatlah jarang terjadi setelah kedatangan Dina.

Armand : “Rul, sepertinya persahabatan kita sekarang ini sudah tidak seakrab dulu lagi?”.
Soni : “Iya tuh my friend, kita sekarang jarang ketemuan lagi bareng”.
Aku berkata : “Ah massa ah, sorry deh, soalnya aku terlalu sibuk kuliah sih!”.
Armand : “Ah kuliah?, sepertinya yang aku tahu kuliah kamu sekarang ini mulai terbengkalai. Malah aku pernah lihat kamu lagi jalan bareng pas jam kuliah sama cewe di Mall”.
Soni : “Iya tuh, pasti kita sekarang begini gara-gara kamu terlalu sering pacaran deh. Sama si Dina itu!”.
Aku berkata : “Ah kalian ikut campur aja, itukan urusan pribadi gw!”.
Armand : “Iya saya tahu, tapi ingat, kami ini sahabat kamu”.
Soni : “Kami siap membantu elu kapan pun dimana pun”.
Aku berkata : “Gw tahu itu, kita memang sahabat. Tapi tolong jangan campurin urusan pribadi gw, please!”.
Soni : “Aku berharap hubungan persahabatan kita kayak dulu lagi Rul!”.

Tanpa berkata apa-apa lagi, aku langsung pergi meningalkan Soni dan Armand. Langsung kunyalakan sepeda motorku yang ku dapatkan dari hasil kerja sampinganku di kota ini. Ku susuri jalan-jalan di kota Bandung ini, bergegas menuju ke rumah Dina untuk menjemputnya shopping ke mall. Di perjalanan, aku terus terbayang peristiwa pertengkaran antara aku, Soni, dan Armand. Aku mulai menyadarinya bahwa hubungan persahabatan kami mulai renggang selama aku berpacaran dengan Dina. Dulunya kami selalu kemana-mana dan sering bertemu bersama. Aku juga mulai ragu, apakah aku sebenarnya mencintai Dina atau tidak. Karena sejak pertama kali bertemu tidak ada rasa yang istimewa terhadapnya. Yang kurasakan hanyalah aku suka Dina karena dia cantik, menarik, dan sexy. Selama aku berpacaran dengan Dina, aku hanya seperti pelayannya saja. Mengantarnya ke mana pun dia mau, menemaninya belanja, dan tak ada kasih sayang yang ku dapatkan dari Dina. Sepertinya hubungan kami ini tidak di dasari oleh cinta, tetapi hanyalah nafsu belaka. Pikiran-pikiran itu membuatku tidak berkonsentrasi dalam menyetir sepeda motorku. Sehingga hal terakhir yang ku ingat adalah aku melihat mobil dengan kecepatan tinggi tepat berada di hadapanku dan hanya teriakan tak bersuara yang terdengar dalam kepalaku.

2 komentar untuk “Friendship”

  1. Keren nih cerpen akrab dg kehidupan sehari-hari dan bisa nambah wawasan buat siswa-siswi sma yg mau lanjutin kuliah. friendship kupikir ttg sahabat misalnya sahabat seorganisasi selama sekolah atau sahabat beda jurusan. Tp detil cerita bagus dan pesannya dpt banyak dzikir selama perjalanan. Sukses terus buat karya-karyanya

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *