Hanya Seorang Pecinta

Setelah melaksanakan shalat Isya, Ia kembali mengikuti langkah kakinya yang akan membawanya ke suatu tempat. Ia terus melangkahkan kakinya dan tibalah Ia di taman dengan banyak kursi-kursi di dalamnya. Ia mendudukan dirinya di salah satu kursi dan memandangi sekeliling yang pada waktu itu suasananya remang-remang karena hanya diterangi oleh lampu penerangan yang kecil-kecil serta berjauhan. Samar-samar pandangannya menangkap beberapa pasangan muda yang tengah memadu kasih di kursi-kursi taman tersebut. Di taman itu semuanya duduk berpasang-pasangan, kecuali dirinya sendiri. “I love you Honey”, “I love you too”, “We’ll life together forever”. Terdengar sayup-sayup kata-kata tersebut dari belakang kursi yang tengah didudukinya. Ia memalingkan pandang dari hal-hal di sekitarnya, dan tangannya refleks mengeluarkan buku catatan untuk menulis sebuah cerita lagi tentang sebuah kisah cinta suci tanpa di nodai oleh hal-hal yang tidak pantas. Ia menulis tentang kebalikan daripada keadaannya pada saat ini. Ia membenci orang-orang yang sedang berpacaran dan kata-kata cinta yang keluar dari mulut mereka. Ia benci dengan kesepiannya ini sehingga Ia menulis tentang seorang pria yang sangat sempurna dan memiliki banyak pacar. Dengan cara itu Ia dapat melupakan kekesalahnya untuk sementara. Setelah selesai menulis, ia segera bangkit dari kursinya. Ia melewati pasangan yang sedang berjalan sambil bergandengan tangan mesra. “Aku mencintaimu sepenuh hidupku sayang!”, “Kita akan saling mencintai sehidup semati!”. Kata-kata itu membuat telinganya panas dan Ia mempercepat langkah meninggalkan tempat tersebut, sehingga berakhirlah tugas Sang Pecinta.

*****
“Sudah selesai kan tugasnya?, Jadi sekarang kita pulang…” kataku setelah membantu Fira mensave cerpen-cerpen dari internet ke disket. “Nanti dulu dong, aku masih mau mbaca cerpen-cerpen Pecinta yang lainnya nih!”, “Udah aja, nanti mbayarnya mahal lho!”, “Enggak apa-apa, ceritanya lagi seru nih!”. Aku melihat Fira membaca cerpen-cerpen itu di internet sepertinya seru sekali. Bola matanya yang indah bergerak dari kiri ke kanan dengan cepat. “Sudahlah, memangnya apa sih istimewanya dari cerita-cerita itu. Biasa-biasa saja kok!” kataku berusaha membuatnya selesai. “Sudahlah kamu tidak tahu, nanti dulu aku mau catat dulu alamat e-mail dari si Pecinta ini” Fira mulai mengeluarkan secarik kertas dari tasnya. “ pecinta_sejati@yahoo.com “ ucapnya lirih sambil menulis alamat e-mail itu dengan jari-jarinya yang lentik. “buat apa kamu catat alamat e-mail itu?” kataku memancing. “Aku ingin memberinya tanggapan dan juga kenalan. Sepertinya dia seumuran dengan kita deh kalau dilihat dari ruang lingkup ceritanya. Tapi kamu jangan cemburu ya!, nanti jealous lagi!”, “Enak saja, memangnya aku siapanya kamu!, pake jealous-jealous segala!” kataku berlagak sedikit tersinggung. “Sorry deh, cuman bercanda lagi kok. Segitu aja marah. Oh iya, kamu enggak ikut ngambil cerpen-cerpen itu? Aku kan tahu kamu enggak bisa sastra sama sekali!” kata Fira sedikit mencibir. “Sudah ada kok!” kataku menyakinkan. Aku memandangi Fira yang sedang memasukan kertas bertuliskan alamat e-mail tersebut ke dalam tasnya. Saat itu aku berfikir bahwa ia akan sangat terkejut jika tahu Siapakah Pecinta yang dikaguminya itu!. Kami berjalan ke arah mas-mas yang tadi sedang konsentrasi sekali dengan komputernya. Sekarang Ia tengah memandangi gambar-gambar hasil print outnya. “berapa mas semuanya?” tanya Fira kepada orang itu. “15.000 rupiah” kata Mas itu cuek. “Kok mahal banget sih!” Fira kaget. “Tuh apa kan aku bilang, makanya jangan lama-lama!” kataku menyalahkan. Kemudian Fira membayar tagihan tersebut dan bergegas menuju keluar. Sebelum pergi aku bicara dengan mas-mas tersebut. “Mas, ngeliatin apaan sih kayaknya seru banget?” tanyaku meledek. “Ah kamu anak kecil, mau tahu aja urusan orang dewasa!. Tuh cewenya udah keluar nanti ditinggal lho. Eh ngomong-ngomong, cewe kamu itu cantik juga, sexy lagi!” kata mas itu sambil memandangi Fira yang sudah berada di luar warnet. “Ah mas bisa saja, besok saya ke sini lagi ya!” kataku sambil lalu menuju keluar. Ku rasakan cuaca yang sudah mulai sejuk ketika aku keluar warnet kira-kira pukul 4 sore. “Kita mau naik atau jalan nih?” tanya Fira padaku ketika aku sampai di luar. “Jalan aja dulu ya, sambil nungguin ada angkot yang lewat”.

*****
Ia berjalan-jalan di suasana sore hari pada trotoar jalan yang sedang ramai. Langkah kakinya menyuruhnya untuk menuju ke rumah dengan cepat. Tapi tiba-tiba langkah kaki itu berhenti dan Ia menoleh ke seberang jalan. Di sana pandangannya menangkap ada seorang tunanetra yang kira-kira sebaya dengannya berdiri di pinggir jalan sambil mengacung-acungkan benda putih panjang yang dipegangnya. Nurani menyuruhnya untuk menyeberang jalan dan menghampiri tunanetra tersebut. “Kamu mau nyeberang atau nyegat angkot?” katanya ketika dekat dengan tunanetra tersebut. Ia melihat bahwa tunanetra tersebut masih mengenakan seragam sekolah dan menggendong tas punggung yang sepertinya baru pulang sekolah. “Mau nyeberang!” kata tunanetra tersebut dengan nada kelegaan. “Kalau begitu bareng saya saja ya!” katanya sambil mengandeng tangan tunanetra tersebut.

Setelah menyeberang, Ia berjalan beriringan bersama tunanetra tersebut karena ternyata tujuannya sama. Dalam perjalanan Ia berkenalan dengan tunanetra tersebut yang bernama Fatir. Lalu Ia teringat dengan temannya Riza. Riza juga seorang tunanetra dan tinggal dekat dengan rumahnya serta satu sekolah pula. Riza sering bercerita padanya tentang bagaimana perasaannya sebagai seorang tunanetra. Katanya bahwa Ia sebenarnya pada saat menyeberang atau berjalan misalnya, Sebenarnya Ia dapat melakukannya sendiri. Tetapi Ia akan sangat merasa lega jika ada seseorang yang membantunya dalam berjalan. Ia juga ingin mengetahui seberapa kepedulian orang-orang di sekitarnya terhadap kekurangan yang dimilikinya. Ia sudah sangat menerima dengan kekurangan yang diberikan Tuhan terhadapnya. Karena di balik kekurangan tersebut, pasti terdapat hikmah dan kelebihan yang tidak semua orang memilikinya. Tapi Ia tidak menyerah dengan kekurangan yang dimilikinya sekarang ini, Ia malah terus bersemangat untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, agar mendapatkan keterampilan dan pekerjaan yang layak di kemudian hari. Lalu Ia bilang bahwa pasti ada orang yang mengatakan tentang dirinya ‘buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh nanti tunanetra akan jadi tukang pijat juga!’. Hal itulah yang ingin dia rubah, bahwa seorang tunanetra tidak hanya bisa jadi tukang pijat saja, tetapi dapat menjadi transleter, jurnalis, ahli komputer, programming, ekonom, sejarawan, dan lain-lain yang dapat dilakukan orang yang tidak memiliki kekurangan. Kemudian bila ada orang yang mencela dirinya pada saat dirinya lewat secara terang-terangan atau bisik-bisik, Ia hanya berkata dalam hati agar Tuhan tidak membuat orang yang telah mencemoohnya itu seperti dirinya. Karena belum tentu orang itu dapat menjalani cobaan yang sekarang Ia jalani ini. Semangat, kebesaran hatinya, dan ikhtiarnyalah yang sangat mengagumkan.

“Mas, terima kasih ya udah mau nolongin saya. Jarang-jarang lho ada orang yang mau nolongin kami” ucap Fatir. Kata-kata Fatir memecah ingatannya tentang Riza, dengan terkesiap Ia menjawab. “Kita sebagai manusia kan harus saling tolong menolong, apa lagi saya yang diberi sedikit kelebihan oleh Tuhan” katanya kepada Fatir. Ia jadi teringat lagi dengan kata-kata Riza, Bahwa misalnya di sekolah jarang banget ada orang yang nolongin buat jalan nyeberang gitu misalnya. Banyak alasannya ada yang takut merusak image lah, gengsi, dan alasan lainnya yang sebenernya tidak rasional. “Terima kasih ya mas, rumah saya di situ!” kata Fatir ketika Ia tiba-tiba berhenti di depan rumah yang berpagar besi. “Benar di sini rumahnya?”, “Ia bener kok mas, saya tidak salah lagi. Sudah biasa kok. Terima kasih ya sekali lagi” kata Fatir sambil masuk ke dalam rumah. “Iya sama-sama, saya juga ingin menjadi golongan orang-orang yang sedikit itu kok!” katanya masih memperhatikan Fatir yang sedang melangkah ke dalam rumahnya. Kemudian Ia berjalan meninggalkan tempat tersebut sambil berfikir dalam perjalanan. Ia sebetulnya tidak perlu lagi meragukan kemampuan tunanetra tersebut untuk mendeteksi sesuatu. Karena mereka memang diberi kekurangan tidak bisa melihat dengan mata, tetapi mata hati mereka terbuka yang dapat merasakan sesuatu di sekitarnya dengan lebih peka.

Sudah mendekati jalan dekat rumahnya, tiba-tiba kakinya menyuruhnya untuk berhenti di samping pohon yang rindang. Ia menuju ke bawah pohon tersebut dan duduk di kursi bersantai yang tersedia. Sambil menikmati sejuknya udara sore dan melihat sunset, dikeluarkannya buku catatannya seperti biasa dengan pensil yang selalu setia menggores lembar demi lembarnya, dan kembali menjadi seorang Pecinta.
*****

3 komentar untuk “Hanya Seorang Pecinta”

  1. ehh ini si tokoh ‘ia’ cewek apa cowok? di bagian atas namanya Fira keterangannya cewek. tapi kok pas di bawah ada kalimat “Tapi tidak ada wanita yang cukup dekat olehnya dan memang Ia juga tidak berusaha untuk mendekati seorang wanita” ? hehe 😀

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *