Hanya Seorang Pecinta

Aku berada di dalam kelas pada saat jam istirahat. Duduk tertegun menopang dagu menatapi kerumunan anak-anak perempuan yang sedang ngerumpi seperti biasa. Sebenarnya bukan kerumunan itu yang ku lihat, tetapi ada seorang gadis yang sangat menarik perhatian hatiku di sana. Perempuan berambut hitam panjang, berwajah oval yang menjadi lebih cantik lagi dengan alisnya yang indah dan matanya yang cemerlang sempurna. ‘Hanya di sini, di dunia hayalku aku bisa memilikinya. Hanya di dalam lamunanku aku bisa mewujudkan angan-anganku. Inilah aku, hanya bisa berharap sesuatu yang tidak akan tercapai dan hanya bisa menguburnya dalam-dalam di sini’.

“Woy, ngelamunin apaan nich?, pasti lagi ngelamunin yang enggak-enggak ya!”. Tepuk Fira di pundakku. Lamunanku buyar, dan segera ku palingkan pandangan kepadanya. “Eh kamu, enggak kok aku lagi mikirin pelajaran matematika nanti!” kataku menyangkal sambil tergagap. “Oh gitu, aku kira mikirin aku!” kata Fira bercanda sembari mengambil tempat duduk di hadapanku. “Ada apa sih pake ngagetin segala?” kataku sedikit kesal dengan kenarsisannya itu, yang pada kenyataannya benar juga. “hai jangan marah gitu dong, just kidding kok!. Oh iya, nanti pulang sekolah temenin aku ke warnet lagi ya!. Itu warnet high speed yang ternyata lemot abis itu” katanya dengan menunjuk-nunjukan jari telunjuknya ke arah luar. “Emang kenapa mau ke situ lagi, kangen sama mas-mas yang jaga warnet ya!” kataku meledek. “Ah sama mas-mas yang suka ngeliatin gambar gituan itu, sorry aja ya!” kata Fira dengan ekspresi jijik. “Terus” kataku dengan sedikit tertawa. “Ya pengen buka internet aja di sana. Kan yang tempatnya deket dan cukup murah di mana lagi!. Aku pengen mbaca cerpen-cerpennya si Pecinta lagi nih. Dan juga mau kirim e-mail biar saling kenal” kata Fira bersemangat. “Ah ngapain sih cerpen-cerpen cupu gitu di baca. Nanti si siapa tuh namanya, Pecinta , jadi ke G-R an lho!” kataku meremehkan. “Udah, nanti pokoknya kamu temenin aku ke sana ya!. Pasti bisa kan?” Fira berkata sambil berjalan menuju ke mejanya. Aku hanya bisa menganggut kecil menyetujui sambil berkata dalam hati “Andai kamu tahu siapa orang yang kamu maksud…”.

Seperti biasa, di warnet ketika kami baru sampai aku melihat mas-mas yang sedang seru sekali dengan layar komputernya. Aku memilih salah satu komputer di sebelah Fira yang seperti biasa jarang ada yang memakainya karena kecepatannya yang bikin ngantuk. Fira tampak anteng aja dengan komputer yang ada di sebelahku. Sesekali ku intip komputernya sedang membuka apa Dia. Saat ku intip, kulihat Ia sedang membaca cerpen-cerpen dari Pecinta yang edisi berikutnya dan Fira kelihatan sangat serius sekali. Lalu pada saat ku intip berikutnya, ku lihat layar itu memaparkan tampilan ketika mau menulis e-mail. Ia menulis bahwa Ia sangat suka sekali dengan karya-karya dari Pecinta, dan mengajaknya untuk berkenalan lebih jauh.

Setelah dua jam Fira berkutat dengan komputer di depannya, Fira mengajakku untuk pergi dari warnet tersebut. Seperti biasa, Aku menemui mas-mas itu sedang melihat-lihat hasil print out yang baru keluar dari printernya. Kelihatannya di kepalanya tersimpan sejuta pikiran tentang gambar yang sedang dilihatnya. Setelah membayar tagihan internet, Fira langsung keluar warnet meninggalkanku di belakang. “Semakin hari, cewe elu itu makin sexy aja Frans!” komentar mas-mas penjaga warnet itu. Aku tidak memperdulikan komentar tersebut dan langsung keluar menyusul Fira.

*****
Di malam hari, warnet itu masih tetap saja lenggang pengunjung. Ia masuk ke dalam warnet itu dengan penjaga warnet yang sudah agak terkantuk. “Mas jangan tidur, nanti kalau tidur saya enggak mbayar lho!” katanya meledek. “Coba aja kalau berani!” ancam mas itu yang kepalanya masih tertunduk di atas meja.

Dipilihnya salah satu komputer yang tersedia, segera Ia aktifkan browser internet explorer. Lalu dihubungkannya flash disk ke CPU yang di dalamnya terdapat karya-karya terbarunya untuk dipublish di internet. Untuk beberapa saat Ia sibuk mengklak-klik mouse dan memindahkan teks yang ada dalam file ke browser. Setelah semuanya beres, dikliknya ‘Publish button’. Ia sudah mengetahui kecepatan koneksi internet di warnet itu, disandarkannya kepala di atas meja komputer. Mencoba untuk menghilangkan sedikit rasa kantuk yang sudah menyerangnya sedari tadi.

Setelah beberapa menit, Ia terbangun dari tidur ayamnya di atas meja komputer. Ia melihat halaman konfirmasi yang menyatakan bahwa karyanya telah terkirim. Kemudian tanpa ragu ia tutup internet explorer dan segera bangkit dari tempat duduknya. Saat itu, Ia merasa seperti ada sesuatu yang terlupa. Dilihatnya sekeliling, hanya ada dua orang di warnet itu selain dirinya. Mas penjaga warnet yang sedang tertidur di mejanya, dan ada seorang anak remaja yang sedang asyik bermain game on-line. Kemudian Ia duduk kembali dan membuka situs webmail dirinya. Di kotak user name, ia mengetikan alamat e-mail, kemudian memasukan passwordnya. Setelah e-mail itu terbuka, Ia melihat ada satu e-mail baru. Ia buka e-mail tersebut, membaca sekilas, dan menuliskan beberapa kalimat. Setelah selesai, surat itu Ia tutup dengan kata-kata “Nice to meet you, From Sang Pecinta”, kemudian klik ‘send’.

*****

Fira duduk manis di deretan depan kursi-kursi pada sebuah gedung pertemuan. Ia memenuhi undangan dari sang Pecinta untuk hadir di acara peluncuran buku novel perdananya. “Ah enggak enak juga datang sendirian ke sini. Tapi nanti kalau ngajak frans, dia pasti bisa jealous abis. Lagi pula dia kan enggak suka sama karya-karya dari pecinta. Beruntung banget gw bisa dapat special invatation dari Sang Pecinta pujaan gw!” kata Fira dalam hati sambil senyum-senyum simpul.

Kursi-kursi di gedung itu sudah penuh terisi. Hanya beberapa saja yang masih kosong dan satu di antaranya terletak tepat di samping Fira. Hampir semua dari tamu-tamunya adalah remaja. Mereka semua mempunyai tujuan yang sama seperti Fira, penasaran seperti apa sosok penulis muda berbakat yang menggunakan nama Sang Pecinta itu.

“Sesaat lagi kita akan bertemu dengan seorang Penulis Muda berbakat yang telah menulis banyak cerpen sebelumnya” kata-kata itu terdengar dari seorang MC acara tersebut. “Sekarang penulis ini akan meluncurkan novel pertamanya. Novel ini pasti sudah kita tunggu-tunggu. Karena adalah puncak dari semua cerita-cerita menyentuh hati yang telah Ia buat sebelumnya” lanjut MC itu lagi. “Baiklah kalau begitu, tanpa kita tunggu lama lagi. Kita sambut penulis muda berbakat, Sang Pecinta!” kata MC itu diiringi dengan tepuk tangan riuh dari hadirin.

Fira melihat seorang pria sebaya dengannya melangkah di atas panggung tepat dihadapannya. Pria itu menatap, dan tersenyum padanya. Paras pria itu cukup lumayan, prilakunya bersahaja, dan kelihatan sangat simpatik. “Kok sepertinya orang itu mirip sama orang yang aku kenal ya?. Oh iya, dia mirip sekali dengan Frans!” bisik Fira dalam hati.

Sang Pecinta mengambil Microphone yang diberikan oleh MC dan mengucapkan sepatah-dua patah kata.
“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pembaca yang telah membaca karya-karya saya sebelumnya. Semua karya itu berasal dari hati, merupakan ungkapan perasaan mengenai segala sesuatu yang saya alami sebagai manusia”. Sang Pecinta menghentikan kata-katanya sejenak dan tersenyum ke arah fira. Fira merasa semakin tersanjung sehingga Ia melupakan keragu-raguannya tentang Sang Pecinta.

“Sebenarnya buku perdana saya ini saya persembahkan buat seseorang.” Sang Pecinta melanjutkan kata-katanya. “Karya ini saya persembahkan untuk seorang wanita, yang sangat saya kagumi selama ini, yang sangat sempurna, dan menjadi seluruh inspirasi dari karya-karya saya. Oleh karena itu, sebagai bentuk penghormatan saya kepadanya, dengan penuh kerendahan hati, saya mohon perempuan yang sangat saya kasihi itu, untuk bersama saya ada di panggung meluncurkan buku perdana saya ini.” Sang Pecinta kembali menghentikan kata-katanya dan tersenyum ke arah Fira. Fira sudah sangat yakin dan ingin berdiri ketika ia melihat ada seorang perempuan cantik sebaya dengannya melangkah menuju panggung di gang antar kursi di sebelahnya.

Kemudian di tengah rasa kehancurannya itu, Ia mendengar ada suara laki-laki berbicara di kursi sebelahnya. “Ra, kamu di sini rupanya. Aku diberitahu Ibumu bahwa kamu datang ke acara peluncuran buku si Pecinta aneh ini. Kok kamu enggak bilang sebelumnya sih, kan kita sudah janji sebelumnya!” kataku agak tersengal-sengal. Fira menatapku dengan ekspresi yang masih penuh tanda tanya. Aku yang baru datang dipandanginya bergantian dengan Sang Pecinta itu. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang baru saja Ia alami sekarang.

3 komentar untuk “Hanya Seorang Pecinta”

  1. ehh ini si tokoh ‘ia’ cewek apa cowok? di bagian atas namanya Fira keterangannya cewek. tapi kok pas di bawah ada kalimat “Tapi tidak ada wanita yang cukup dekat olehnya dan memang Ia juga tidak berusaha untuk mendekati seorang wanita” ? hehe 😀

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *