Internet, Pendobrak Diskriminasi Disabilitas

Jakarta – Miris rasanya ketika mengamati pemberitaan mengenai tindakan-tindakan kriminal yang dilakukan via internet. Beberapa waktu lalu ada kasus mengenai pengungkapan judi online yang omsetnya hingga trilyunan. Lalu baru kemarin ini ada penangkapan seorang pemuda usia 24 tahun di Surabaya, yang ketahuan sebagai mucikari PSK ke para konsumen dengan media internet. Belum lagi kasus-kasus lainnya seperti pornografi anak, black campaign, dll. Padahal di balik semua itu, internet punya dampak yang sangat besar, minimal bagi kelompok-kelompok marginal seperti penyandang disabilitas.

Tulisan ini akan membahas bagaimana internet sebagai alat pendobrak diskriminasi pada penyandang disabilitas. Satu kelompok dalam masyarakat yang termarginalisasi, yang pada umumnya tanpa sadar, oleh masyarakat itu sendiri. Perbedaan fisik, mental, atau intelektual yang seyogyanya jadi penambah keberagaman umat manusia, malah dijadikan alat pembeda dan dikotomi, sehingga mereka tersisih dari masyarakat pada umumnya.

httpv://www.youtube.com/watch?v=LtqVMOkBMmc

Paling tidak, ada dua hal yang menjadi manfaat bagi penyandang disabilitas dari internet dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada umumnya. Pertama, internet dan TIK menjadi solusi keterbatasan fisik para penyandang disabilitas untuk mengakses informasi. Contoh paling nyata adalah yang dialami oleh para penyandang disabilitas visual atau tunanetra. Dengan adanya aplikasi pembaca layar (screen reader software) pada perangkat komputer dan mobile gadget, tak jadi batasan lagi untuk mereka mengetik dan membaca ebook di komputer, kirim sms atau chatting dan social media di mobile gadget, atau berselancar di internet hingga membuatnya sendiri. Semua itu dimungkinkan karena adanya program pembaca layar sebagai fitur addon accessibility pada komputer dan mobile gadget.

Kedua, internet dan TIK menjadi sarana untuk menyuarakan yang selama ini dianggap tak bersuara. Diskriminasi terselubung yang hampir di semua bidang dari mulai pendidikan, ekonomi, sosial, hingga teknologi, membuat penyandang disabilitas tak memiliki daya tawar yang cukup di masyarakat. Akibat kurangnya informasi dan pendidikan yang cukup, mereka hampir tidak tahu apa hak-hak yang selama ini tidak didapatnya. Hal ini ditambah oleh stigma dalam masyarakat yang memandang mereka dari kaca mata “belas kasihan” yang nyatanya malah semakin membuat terpuruk. Lebih jauh, media massa mainstream selama ini tidak menganggap isu disabilitas sebagai sesuatu yang dianggap “sexy”. Paling hanya sebentar muncul saat momentum hari raya untuk menarik simpati dari kegiatan-kegiatan charity. Akan tetapi, media mainstream belum menyentuh permasalahan sesungguhnya yang dialami langsung oleh penyandang disabilitas.

Tulisan ini dibuat untuk materi diskusi panel pada Indonesia Internet Governance Forum pada Rabu, 20 Agustus 2014 di Hotel Borobudur, Jakarta. Waktu itu moderator ada mas Donny BU dari ICT Watch, dengan pembicara lainnya bu Andi dari Komnas Perempuan, pak Boni dari Kementrian Kominfo, dan pak Onno Purbo sebagai begawan Internet Indonesia.

Download materi ID-IGF-2014-Hotel Borobudur

2 komentar untuk “Internet, Pendobrak Diskriminasi Disabilitas”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *