Jangan Sekolah jika tak Punya Uang

Sistem pendidikan di negara kita ini, sudah banyak mengadopsi dari berbagai negara. Tiap tahun, system kurikulum terus diperbaiki. Terlihat dalam waktu dua tahun, kurikulum bisa berubah. Seperti pada tahun 2004, kurikulum dinamakan kurikulum berbasis kompetensi atau yang sering disebut KBK. Maksudnya adalah, kurikulum yang mengharapkan siswa mampu untuk kompeten di salah satu atau berbagai mata pelajaran. Lalu pada tahun 2006, dikenalkan system kurikulum baru yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau KTSP. Satuan pendidikan di sini adalah sekolah itu sendiri. Sekolah oleh Departemen Pendidikan diberi standar dasar kompetensi yang harus diajarkan, kemudian untuk silabus dan model pengajaran, diserahkan kepada sekolah untuk pengembangannya .

Lalu system yang berlaku di Indonesia ini, akan kita bandingkan dengan yang ada di Inggris. Tahun ajaran berlangsung dari akhir September sampai akhir Juli dengan 2 bulan libur selama musim panas. Pendidikan wajib di Inggris terdiri dari Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah. Setelah itu, ada pendidikan pilihan yang terdiri dari Sekolah Menengah Atas, Universitas, dan Program Pasca Sarjana. Pendidikan wajib di Inggris dimulai dari usia 5 tahun dengan sekolah dasar. Siswa naik dari kelas 1 sampai 6 tanpa ujian, meskipun kemampuan mereka diuji di usia 7 tahun. Penekanan ada pada belajar secara praktikal dibandingkan menghafal. Siswa belajar mata pelajaran inti seperti Inggris, matematika dan sains, juga pelajaran dasar seperti sejarah, geografi, musik, seni dan olahraga. Setelah itu, siswa memulai sekolah menengah pada usia 11 tahun, dimana menjadi kewajiban untuk lima tahun berikutnya. Di setiap jenjangnya, siswa memperdalam pengetahuan mereka pada mata pelajaran inti dan ditambah setidaknya 1 bahasa asing. Di tahun ke-4, mereka mulai bersiap untuk mengikuti ujian-ujian yang disebut General Certificate of Secondary Education atau GCSE. Siswa akan diuji di 9 atau 10 topik GCSE yang mereka pilih. Setelah menyelesaikan ujian GCSE, siswa sekolah menengah dapat meninggalkan sekolah untuk bekerja, mengikuti program training di sekolah kejuruan atau teknik, atau melanjutkan 2 tahun lagi untuk menyiapkan diri bagi ujian masuk universitas, yang dikenal dengan “A-Levels.” Secara umum, siswa yang ingin masuk ke universitas akan belajar 3-4 subyek untuk ujian A-Levels. Ini kerap dilakukan di sekolah yang dinamakan Sixth Form Colleges. Makin tinggi nilai ujian A-Levels, makin baik peluang siswa untuk masuk ke universitas pilihannya. Ditingkat sarjana, siswa di Inggris dapat memilih jurusan “art” dan “sciences”. Program biasanya berlangsung selama tiga tahun dimana selama itu siswa menyelesaikan pelajaran dan tutorial di bidang masing-masing. Siswa yang akan lulus biasanya harus mengikuti ujian akhir. Syarat penerimaan bagi siswa internasional termasuk kefasihan bahasa Inggris (min IELTS 6.0), tambahan 1 tahun sekolah menengah, dikenal dengan University Foundation Year atau nilai A-Level. Pelajaran universitas dapat diteruskan ke tingkat pasca sarjana. Gelar pasca sarjana tradisional biasanya dibidang “Arts” (MA) atau “Sciences” (MSc). Gelar pasca sarjana yang makin populer adalah Masters in Business Administraion (MBA). Program Master berlangsung selama satu sampai dua tahun dan mengharuskan ujian dan tesis untuk syarat kelulusan. Bagi program tertentu, pengalaman dibidang riset dan bekerja dibutuhkan untuk mengikuti program doktoral, atau
PhD, yang dapat berlangsung selama empat atau lima tahun di sekoalh dan riset serta disertasi .

Dari system anggaran, Indonesia sudah “bercita-cita” untuk merealisasikan anggaran minimal 20% untuk biaya pendidikan di APBN. Anggaran ini dipergunakan untuk membiayai fasilitas dan infrastruktur yang bermanfaat bagi berjalan dan peningkatan mutu pendidikan. Mulai tahun 2004, anggaran untuk pendidikan dialokasikan sebesar 3,49%, persentase ini akan terus ditingkatkan hingga mencapai 20% pada tahun 2009 . Banyak pihak yang kecewa dengan berjalannya rencana ini. Realisasi anggaran 20% untuk pendidikan dinilai sangat lamban. Mutu pendidikan kita masih belum ada peningkatan yang siknifikan. Masih dikeluhkan banyak sekolah-sekolah baik negeri atau swasta dalam keadaan yang tidak layak. Keadaan ini pada akhirnya hanya akan merugikan siswa yang sedang belajar. Karena mereka merasa was-was jika sewaktu-waktu sekolah mereka runtuh. Hal ini sangat berbeda keadaannya di Inggris. PM Tony Blair dan counsellor Gordon Brown, pada tahun 2006 mengganggarkan 2002 Budget atau APBN-nya Inggris dengan banyak sorotan. Seperti layaknya hal yangserupa di berbagai negara, semua media massa menyoroti masalah kenaikan anggaran buat mereformasi NHS scheme (program Askes-nyaInggris) yang dianggarkan sampai 40-an billion pounds hingga 2007 . Anggaran tersebut, sebagian besar dialokasikan untuk biaya pendidikan di Inggris. Hal ini mengisyaratkan betapa perhatian pemerintah terhadap pendidikan. SDM adalah inti pemecah masalah suatu negara. Jika SDM di sana baik, maka semakin tinggi taraf hidup masyarakat dengan pendapatan perkapita yang semakin tinggi pula.

Di Indonesia, inti permasalahannya adalah kebocoran anggaran yang disebabkan oleh korupsi. Anggaran tersebut tidak sepenuhnya sampai kepada masyarakat. Biaya pendidikan terus dirasakan kurang, sehingga sekolah-sekolah tetap meminta iuran kepada orang tua murid. Pemerintah harus melaksanakan amanat anggaran 20% dengan konsekuen. Semua harus memiliki target, dan pada tahun 2009, pendidikan diharapkan sudah bisa gratis bagi semua warga negara tanpa terkecuali. Tak boleh ada pembedaan antara si kaya dan si miskin. Jangan seperti mengolok-olok si miskin dengan memberi bantuan dan beasiswa karena miskin. Tidak perlu pula memberikan bantuan langsung tunai. Setiap orang memiliki kemampuan intelektual masing-masing, jadi hargai itu dan berikan semua hak yang sama yaitu pendidikan gratis.

Bagi para guru dan pengajar, tengok lagi gelar anda sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Dedikasikan semua kemampuan dan ilmu untuk kemajuan bangsa. Jangan terpengaruh dengan besar kecilnya gaji, karena tugas anda adalah tugas mulia, dan pekerjaan yang dijalani dengan sepenuh hati dan penuh semangat, akan menghasilkan sesuatu yang maksimal pula. Para siswa dan orang tua murid, perjuangkan terus hak kita dalam memperoleh pendidikan. Setelah biaya pendidikan dibebaskan, manfaatkan itu sebaik-baiknya. Pergunakan semua untuk aktualisasi diri dan kegimalangan bangsa Indonesia di masa depan. Persaingan makin berat, dan tak ada kata terlambat untuk terus belajar. Jangan takut tidak sekolah jika tak ada uang, semua ada jalan, asal ada usaha yang disertai do’a.

6 komentar untuk “Jangan Sekolah jika tak Punya Uang”

  1. Bayu Setya Romansyah

    Pendidikan di Indonesia itu salah satu ranahnya politisasi, “no free lunch”

    Katanya gratis, wajib belajar 9 tahun, tapi tetep aja pungutan mencekik, yang uang lks lah, uang bajulah, uang terobosanlah, uang tetek bengeklah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *