Kajian Kesadaran David Chalmers

Buku Conversation on Consciousness yang bila dialih bahasa ke bahasa Indonesia menjadi “percakapan mengenai kesadaran”, merupakan hasil wawancara yang dilakukan oleh Susan Blackmore terhadap . beberapa narasumber. Narasumber tersebut terdiri dari para ahli syaraf, filosof, dan para pembimbing spiritual. Susan blackmore, mengadakan wawancara tersebut pada saat Ia menghadiri konferensi yang dinamakan “toward a science of consciousness”. Konferensi tersebut diadakan pada suatu waktu di musim semi tahun 2000, tepatnya di daerah tucson, negara bagian Arizona, Amerika Serikat. Ada sekitar 20 orang yang diwawancarai oleh Susan Blackmore dalam buku ini. Untuk tokoh yang saya bahas dalam tulisan ini, adalah tokoh pada bab 3 yaitu David Chalmers. Pada awal bab ini, David Chalmers mengeluarkan jargon yang menjadi gambaran pada pemikiran tokoh tersebut. Jargon tersebut adalah “I’m conscious, He’s just a Zombie” atau “Saya sadar, dan dia hanyalah seorang mayat hidup”.

Judul buku : “Conversation on Consciousness 2005”
Penyusun : Susan Blackmore
Bagian : Bab 3, David Chalmers (I’m conscious, He’s just a Zombie).

Biografi singkatDavid Chalmers

Lahir pada tahun 1966 di Australia, pria yang biasa disapa Dave ini pada awalnya berniat untuk menjadi matematikawan, tapi belakangan ini minatnya itu beralih ke masalah yang berhubungan dengan kesadaran. Setelah lulus dari pendidikannya di Oxford, Ia memutuskan untuk bekerja sebagai tim peneliti pada Douglas Hofstadter’s untuk program PhD di bidang philosophy and cognitive science ketika tahun 1983. Minat filsafatnya terletak pada Perhitungan dan kecerdasan buatan, hingga persoalan mengenai makna dan kemungkinan. Ia menciptakan istilah ‘masalah sulit’, dan membandingkannya dengan ‘masalah mudah’ dari persoalan tentang kesadaran. Setelah beberapa tahun menjabat sebagai direktur pusat studi mengenai kesadaran di university of Arizona, dimana ia memprakarsai terselenggaranya konfrensi dua tahunan ‘toward a Science of Consciousness’, Ia kembali ke Australia untuk menjadi Direktur pusat studi mengenai persoalan kesadaran di Australia National University, Canberra.

Pembahasan isi wawancara

Consciousness atau kesadaran, merupakan satu pokok bahasan yang sangat menarik bagi seorang David Chalmers. Inti dari ilmu mengenai kesadaran adalah usaha untuk memahami perspektif yang berasal dari sudut pandang orang pertama. Jika kita melihat sesuatu dari mata ilmu pengetahuan moderen, maka sudut pandang orang ketigalah yang digunakan. Maksud dari sudut pandang orang ketiga ini adalah melihat sesuatu secara objektif. Sehingga tak digunakan opini pribadi, melainkan fakta yang menjadi dasar pengamatan.

Ilmu pengetahuan memandang manusia hanya sebatas badan atau raga dengan otak di dalamnya, serta dengan kebiasaan atau behaviour tertentu. Dengan menggunakan sudut pandang ini, mungkin bisa sangat objektif dalam memandang manusia. Tapi hakikat seseorang sebagai makhluk manusia dalam hal ini jadi diabaikan. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, manusia memiliki perasaan subjektif yang berasal dari dalam dirinya. Kita memiliki sensasi, pemikiran, dan perasaan akan suatu hal. Contoh yang sangat nyata dari perspektif sudut pandang orang pertama ini adalah imaginasi yang dimiliki manusia. Seseorang bisa membayangkan sebuah film atau peristiwa yang berputar di dalam benaknya. Film imaginer itu bisa dikatakan adalah film terbaik yang bisa Ia tonton dan tak akan sebanding dengan yang diputar di bioskop. Tidak hanya gambar dan suara yang dihasilkan, tapi juga emosi, pemikiran, dan sensasi yang bisa datang kebenak manusia dalam bermacam jenis. Maksud dari hal ini adalah imaginasi seseorang tak ada yang sama. Dalam membayangkan sesuatu, tiap orang bisa mengvisualisasikannya dalam bermacam variasi. Contoh lagi kita ambil pada novel populer Harry Potter. Sebelum novel tersebut disajikan pula dalam bentuk film, tiap orang memiliki bayangannya sendiri tentang sosok dari seorang harry Potter itu sendiri. Mereka bisa membuat imaginasi seperti film yang berjalan dalam benaknya sendiri, tanpa perlu menonton film itu sebelumnya. Oleh karena itu, inilah uniknya menjadi seorang manusia. Segala sesuatu bisa diintepretasikan menurut sudut pandang masing-masing. Tapi sayangnya, ilmu pengetahuan cenderung untuk mengabaikan hal ini dalam 50 atau 100 tahun belakangan.

Dalam pandangan umum, sangat sulit menerima kesadaran sebagai bagian dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sangat menekankan pada data yang bersifat objektif, tapi kesadaran itu sendiri merupakan pengalaman subjektif dari seseorang. Apalagi jika disesuaikan dengan studi mengenai syaraf dan otak,. Tapi hal tersebut dibantah oleh David Chalmers. Menurut Ia adalah sebuah kesalahan jika perihal kesadaran tidak bisa diuraikan oleh ilmu pengetahuan.

Fakta membuktikan, pada kurang lebih satu abad yang lalu, ilmu psikologi memulai dirinya sebagai ilmu mengenai kesadaran. Seperti contoh pada waktu itu, para ahli psikologi Jerman menyusun apa yang mereka coba untuk jelaskan dalam sebuah istilah “keadaan sadar internal yang subjektif”. Mereka mengembangkan ilmu ini menggunakan metode introspektif yang terinci, serta mengumpulkan data yang sebagai dasar dari ilmu. Tapi pada masa berikutnya, mereka terbagi dalam dua kubu yang saling berselisih paham yang pada akhirnya juga menghasilkan kesimpulan yang berbeda pula. Orang menjadi muak dengan perselisihan ini, karena perdebatan di antara mereka tak kunjung usai. Hingga pada awal abad ke-20, kelompok yang menamai dirinya kaum behaviorist, mengambil alih masalah ini dan menyatakan bahwa ilmu psikologi adalah ilmu mengenai kebiasaan atau behaviour manusia.

Tindakan tersebut kemungkinan dibuat agar ilmu psikologi menjadi lebih teliti dan mendekati sebagai jenis dari ilmu pengetahuan, tapi sebagian orang menganggap hal tersebut seperti Hamlet tanpa Pangeran Denmark di dalamnya. Sehingga ilmu psikologi seperti kehilangan inti dari persoalan yang dipelajari dalam ilmu itu sendiri.

Pada saat ilmu pengetahuan moderen, hal yang perlu dilakukan adalah mengembalikan persoalan tentang kesadaran itu kembali kepada dunia ilmu pengetahuan. David Chalmers berpendirian bahwa kesadaran di sini dianggap sebagai sebuah data. Ilmu pengetahuan itu sendiri, selalu berkutat pada data dan hasil dari pengukuran tertentu. Data seperti hasil pengukuran kita sebut sebagai data objektif, sedangkan kesadaran itu sendiri merupakan data subjektif. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan di sini tidak hanya mencakup data objektif, tetapi juga data yang bersifat subjektif. Seperti misalnya pada saat kita melihat warna merah, kita mungkin melihatnya dengan sensasi tertentu yang berbeda dengan orang lain. Lalu juga dapat kita melihat bentuk tertentu yang berbeda pula sensasi yang dirasakan dengan orang lain. Selain itu, dapat pula kita mendengar suatu bunyi dengan nada dan tekanan yang disesuaikan dengan pendengaran yang kita miliki masing-masing. Data yang bersifat subjektif di atas, harus diakui kapasitasnya sama dengan data objektif. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan tak mau tidak harus mulai memperhitungkan persoalan tentang kesadaran dalam ruang lingkupnya.

Data pengalaman subjektif dan objektif itu sendiri, nampak sangat berbeda jika hanya dilihat sepintas lalu. Seperti keuniversalan data objektif pada ukuran dan jumlah, dibandingkan dengan kesubjektifitasan data seperti sensasi, pemikiran, dan perasaan. Yang perlu dibuktikan adalah bagaimana sebuah pengalaman subjektif dapat dijelaskan seperti proses objektif yang diakui oleh ilmu pengetahuan. Sejauh ini, yang dapat dilakukan hanya memberikan korelasi, bukan penjelasan. Diketahui bahwa 100 milyar sel otak kita, selalu bekerja dalam memproses semua data yang didapat. Baik data yang berupa pengalaman subjektif atau data objektif, diolah dalam satu organ yang sama yaitu otak. Seperti ketika kita mengalami sensasi akan suatu warna, atau perasaan emosional akan sesuatu, semua hal tersebut diproses pula dalam kelenjar otak. Sehingga dapat diasumsikan data objektif dan subjektif itu sangat berdekatan karena diproses oleh organ yang sama. Tapi menurut David Chalmers, ini hanya berupa korelasi antara pengalaman subjektif dengan otak saja. Hal yang kita inginkan adalah untuk menjelaskan bagaimana otak memperoses data subjektif tersebut. Selain itu, diperlukan pula penjelasan apa yang menyebabkan reaksi dari pengalaman subjektif itu sendiri. Menurut David Chalmers, sampai saat ini belum ada orang yang dapat petunjuk bagaimana itu terjadi dalam otak manusia.

David Chalmers menyatakan bahwa tidak bisa menjelaskan persoalan tentang kesadaran itu dengan hanya mencari reaksi apa yang didapatkan dari suatu hal terhadap pengalaman subjektif. Tidak seperti saat kita analogikan mengenai perihal gen dan kehidupan. Dengan mudah kita dapat jelaskan bahwa dalam gen itu mengandung molekul-molekul DNA, yang molekul tersebutlah sebagai pembawa ciri-ciri khusus kehidupan. DNA ini pula yang pada akhirnya sebagai penentu variasi kebiasaan dan fungsi yang akan diwarisi. Sekali lagi, hal ini tidak berlaku bagi perihal kesadaran. Mungkin jika menggunakan analogi gen di atas, kita bisa menguraikan masalah variasi kebiasaan dan fungsi yang diasosiasikan dengan kesadaran, bagaimana kesadaran dapat dibedakan dalam stimulus sensorik yang beragam, bagaimana otak memproses informasi, dan pengaruhnya terhadap komunikasi verbal. Hal tersebut yang menjadi masalah. Kita tidak bisa menggunakan metode tersebut untuk menjelaskan mengenai perihal kesadaran. Hal-hal tersebut pula bukan inti dari permasalahan mengenai kesadaran. Satu hal yang perlu dibahas adalah mengapa pengalaman subjektif selalu mengikuti di setiap data objektif, sehingga kedua data tersebut selalu beriringan dan tidak dapat dipisahkan.

Analogi David chalmers mengenai gen dan DNA yang mempengaruhi kehidupan coba dipertanyakan oleh Susan Blackmore. Analogi tersebut mengapa tidak dapat digunakan untuk menjelaskan perihal kesadaran. Apakah tidak ada sesuatu yang mendorong secara mekanis untuk menimbulkan kesadaran itu sendiri. Banyak ahli yang berpendapat bahwa jika kita sudah dapat mengetahui mekanisme otak itu bekerja, maka hasil mekanis dari otak itu sendiri yang disebut kesadaran.

Menurut David Chalmers, analogi tersebut tidak dapat digunakan untuk menjelaskan perihal kesadaran. Ketika kita menjelaskan perihal kehidupan, kita membicarakan mengenai fenomena apa saja yang terjadi. Seperti layaknya manusia sebagai makhluk biologis, kita mengetahui adanya reproduksi, mendapatkan metabolisme energi dari lingkungan, menggunakan metabolisme untuk mengatur kebiasaan dan beradaptasi, berkompetisi satu dengan yang lainnya demi sumber penghidupan, dan manusia berkembang pastinya. Semua hal ini adalah hal-hal yang dibutuhkan dalam pertanyaan mengenai kebiasaan dan fungsi. Yang mengacu pula pada hakikat sebagai materi objektif. Di sini berarti bahwa hidup yang dimiliki manusia, terwujud dari sebuah mekanisme tertentu dalam tubuh manusia.

Hal seperti di atas itu sudah dikemukakan oleh kaum Vitalis semenjak 200 tahun yang lalu. Mereka ini adalah orang-orang yang mengagungkan esensi dari kehidupan. Mereka beranggapan ada roh kehidupan yang mengendalikan vitalitas manusia. Karena mana mungkin benda mati dapat bereproduksi, memiliki kebiasaan, berfikir, dan tumbuh. Tapi pada akhirnya, teori kaum Vitalis ini runtuh karena hidup itu sendiri sudah dapat dijelaskan dengan metode biologis. Tapi sesuatu yang menarik pada kaum Vitalis ini, walaupun mereka mencoba untuk menjelaskan hakikat hidup, tapi sudut pandang yang digunakan adalah objektif orang ketiga.

Kini dengan kesadaran semua itu berbeda. Dengan kesadaran, kita bisa memandang sesuatu hal dari sudut pandang manusia sebagai orang pertama. Kita juga telah sepakat, sudut pandang orang pertama ini bertumpu pada kebiasaan, perilaku, respon, dan pengamatan yang kita lakukan. Berdasarkan dengan argumen tersebut, yang bisa kita jelaskan kehidupan dari sudut pandang orang pertama atau ketiga, ilmu pengetahuan sangat mungkin untuk menjelaskan mengenai perihal kesadaran. Yang jadi masalahnya adalah ilmu pengetahuan telah mengabaikan unsur penting yaitu pengalaman subjektif, dan hal itu kelihatan seperti tidak ada anologinya.

Kemudian Susan Blackmore mempertanyakan apakah benar-benar kesadaran itu mempengaruhi tindakan seseorang. Kadang kala kita merasa seperti dengan sadar melakukan sesuatu, tapi sebenarnya keputusan itu telah dibuat, dan tubuh kita yang bertindak. Bahkan menurut sebagian ilmuwan, mengatakan bahwa kesadaran tidak berperan sama sekali dalam menentukan tindakan seseorang, atau kesadaran itu hanya ilusi belaka. Dalam hal ini, David Chalmers menolak bahwa kesadaran itu hanya sekedar ilusi, walaupun Ia mengatakan bahwa tidak mutlak kesadaran yang dirasakan tiap manusia. Misal ketika seseorang berekspektasi bahwa Ia akan merasakan panas dari sebuah korek api di punggungnya, tapi ternyata yang didapatkan adalah semangkuk es krim. Pada saat es krim itu menyentuh punggung orang tersebut, sensasi yang dirasakan adalah sensasi rasa panas. Kemudian setelah beberapa saat, baru sensasi sebenarnya yaitu rasa dingin yang dirasakan. Hal yang dapat disimpulkan adalah seseorang bisa salah dalam merasakan kesadaran tipis yang didapatkan antara iya dan tidak.

Tapi yang mungkin sudah menjadi pemahaman bagi semua orang, apakah bisa kita dianggap salah ketika melihat fakta akan sesuatu warna, bentuk, dan ukuran? Pengalaman visual ini dianggap oleh umum bahwa ketika kita melihat sesuatu, maka itulah fakta yang sebenarnya. Mungkin, kita bisa salah karena pada hakikatnya sesuatu yang kita lihat itu tergantung pula pada apa yang kita fikirkan. Tapi untuk kita dibilang tidak menggunakan kesadaran dalam pengalaman visual ini, maka itu adalah sebuah kesalahan.

Seorang filosof Prancis, Rene Descartes (1596-1650), mengatakan bahwa segala sesuatu yang kita alami itu, tergantung dari apa yang ada dalam fikiran kita. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, dia menyarankan agar kita jangan percaya dengan apa yang kita lihat atau rasakan. Karena bisa saja apa yang kita lihat atau alami itu bukanlah hal yang sebenarnya. Sebab hal yang hakiki itu ada dalam fikiran kita sendiri ‘I’m thinking, therefore I am’ yang jika diartikan secara bebas adalah ‘Saya berfikir, oleh karena itu saya ada’. Hal satu-satunya yang bisa dijadikan tumpuan hanyalah fikiran manusia. Untuk kemudian, menurut Descartes kesadaran itu hanya dimiliki oleh makhluk yang berfikir. Tidak oleh benda atau hewan. Selain itu, salah satu teori dari filosof berpengaruh abad ke-17 ini adalah mengenai realita dualisme. Ia mengemukakan bahwa ada dua realitas, ayitu realitas gagasan atau fikiran, dan ralitas perluasan. Untuk manifestasi pada manusia, dapat dikatakan bahwa fikiran manusia adalah realitas gagasan, dan tubuh materi manusia adalah realitas perluasan. Realitas gagasan ini sifatnya lebih kekal daripada realitas perluasan. Sehingga, kita tidak dapat meragukan lagi bahwa kesadaran atau consciousness itu ada. Selama manusia masih hidup, Ia akan terus berfikir, dan kesadaran itu jelas merupakan data yang falid pada diri manusia.

David chalmers juga menjawab pertanyaan apakah penelitian mengenai kesadaran dan pengalaman subjektif hanya akan tenggelam begitu saja. Untuk kemudian, kita hanya akan melihatnya sebagai ilusi belaka. Ia menganologikan hal ini dengan hidup. Sebenarnya apa yang terjadi setelah binatang atau manusia itu sendiri meninggal. Untuk sesaat, binatang dan manusia setelah mati hanya kelihatan seperti jenazah dari tubuh materi itu sendiri. Tapi para filosof abad ke-19 percaya bahwa ada yang dinamakan roh kehidupan atau vital spirit. Roh ini memberikan kehidupan pada saat binatang dan manusia masih hidup, dan setelah mati, maka roh tersebut akan pergi yang membuat kita mengatakan hewan atau manusia itu telah mati. Tapi pada abad ke-20, para ilmuwan telah membuktikan bagaimana tubuh bekerja dan bereproduksi, oleh karena itu gagasan mengenai roh kehidupan itu ditolak. Hingga orang sekarang percaya tidak ada yang lebih dari kompleksitas jaringan dalam tubuh, saling keterhubungan, dan proses biologis itu sendiri. Hal ini pulang yang akan terjadi pada perihal kesadaran. Setelah kita mengerti bagaimana proses berfikir, merasakan, dan mengingat, maka ilmu pengetahuan akan dapat membuktikan bahwa kesadaran itu ada, dan pada akhirnya tak akan ada yang meragukan lagi perihal kesadaran itu.

David Chalmers dalam menelaah perihal kesadaran, menggunakan metode dari hal yang mudah ke hal yang lebih sulit. Ia menyatakan bahwa hal yang paling jelas dan mudah dari masalah kesadaran harus dimulai dari kebiasaan atau behavior. Hal ini merupakan hal yang paling mudah diteliti karena bisi diamati secara gamblang dan terukur. Lalu seperti yang sudah kita ketahui, hal tersulit dalam perihal kesadaran adalah pengalaman subjektif itu sendiri. Masalah mengenai pengalaman subjektif ini mirip dengan masalah yang dihadapi Rene Descartes pada teori dualismenya. Pada teori Descartes, tidak dikatakan ada hubungan langsung antara fikiran dengan tubuh manusia. Jadi tak ada hubungan langsung pula antara fikiran dengan dunia fisik. Tapi hal tersebut saling berkorelasi dan dapat mempengaruhi satu sama lain. Walaupun fikiran memiliki daya yang lebih kuat dari pada dunia fisik. Pada perihal kesadaran ini, yang jadi pertanyaan adalah bagaimana otak mendukung pengalaman subjektif, atau bagaimana otak dapat mendukung pemikiran, rasio, dan kecerdasan. Jawabannya walaupun tidak ada koneksi langsung, tapi kita semua tahu bahwa semua itu berkaitan atau memiliki korelasi. Pengalaman subjektif itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari proses otak. Ada jembatan yang mengkaitkan antara kesadaran dengan proses dalam otak. Yang perlu dilakukan oleh ilmuwan adalah membuat jembatan itu sistematis sehingga dapat dimasukan dalam kategori ilmu pengetahuan.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, kesadaran pengalaman subjektif tidak dapat dipisahkan dengan proses otak manusia. Hal ini membawa kita pada hal yang paling mendasar pada hukum metafisika. Dalam hukum fisika, hal yang paling mendasari dari dunia ini adalah ruang dan waktu, serta massa dan berat. Jika fisikawan berbicara tentang dasar dari dunia, maka hal itulah yang disebutkan. Dua hal itu adalah dasar, dan tak dapat dibagi lagi. Jika secara konsisten dikaitkan dengan kesadaran, kesadaran itu sendiri bisa dijadikan ciri-ciri dasar dari dunia. Kemudian kita perlu melihat pada hukum yang mengaturnya. Perlu dibuat hukum antara pandangan orang pertama, pengalaman subjektif, dan pandangan orang ketiga. Perpaduan cara pandang orang pertama dan orang ketiga sangat penting dalam menelaah perihal kesadaran itu. Dengan menempatkan kesadaran dalam suatu gambaran, dan kita melihat gambaran itu, maka kita telah menggunakan dua cara sudut pandang tersebut. Sehingga hal ini akan memudahkan kita menjelaskan prinsip yang menjembatani antara pengalaman subjektif dan proses dalam otak.

Penjelasan David Chalmers mengenai kesadaran sebagai dasar ciri dari dunia ini tidak berarti bahwa Ia adalah seorang pantheis. Pantheisme adalah paham yang menganggap bahwa seluruh dunia ini adalah satu kesatuan. Tuhan atau zat yang paling mendasari dunia ini adalah alam raya itu sendiri. Tak terpisah dan tak dapat diganggu gugat. Kesadaran itu sendiri, memang adalah sesuatu yang tak dapat dipisahkan. Tapi tidak berarti kesadaran itu ada di mana-mana tanpa ada batasan. Jika hal itu terjadi, maka kesadaran itu sendiri akan menjadi hal yang statis, tidak dapat dibedakan dengan yang lain, dan pada akhirnya tidak menarik sama sekali untuk ditelaah. Kesadaran itu hanya terdapat pada tubuh yang memiliki konsep akan dirinya sendiri. Kadang tak jelas batasan di mana kesadaran itu berakhir. Mungkin kita mengatakan kesadaran itu ada pada simpanse dan anjing, tapi saat dipertanyakan apakah ikan dan tikus memilikinya, batasan itu mulai kabur. Jadi kesadaran itu tergantung dari kompleksitas pemikiran dari individu. Semakin kompleks pemikiran, maka semakin kompleks kesadaran yang dimiliki, seperti pada manusia. Sebaliknya, semakin sederhana pemikiran, seperti pada ikan, maka akan semakin sederhana pula kesadarannya.

Persyaratan apakah kesadaran ini dimiliki oleh individu terletak pada sistematik pemikiran yang dimiliki. Baik manusia atau hewan, memiliki sistematik pemikiran dengan kompleksitas yang beragam. Tapi tidak segala sesuatu yang memiliki sistem dapat dikatakan memiliki kesadaran pula. David Chalmers memberikan contoh sederhana pada alat pengatur suhu ruangan. Ia memiliki sistem pada saat suhu ruangan menurun, Ia akan menghasilkan panas sehingga menjaga suhu dalam ruangan tersebut. Oleh karena itu dapat dikatakan, kesadaran itu dimiliki oleh sistem yang memiliki korespondensi dengan pemikiran itu sendiri. Ia tidak memiliki korespondensi, kecerdasan, dan konsep atas diri.

Kini hal yang perlu ditegaskan oleh David Chalmers adalah perbedaan antara kecerdasan dan kesadaran itu sendiri. Pandangan umum menyimpulkan bahwa kecerdasan dan kesadaran adalah sesuatu yang dapat dipersamakan. Namun pendapat itu tak benar sama sekali. Ia mengambil contoh dengan menggunakan teori Zombie atau mayat hidup. Mungkin kita menemui orang yang berbicara dan bertingkah laku mirip sekali dengan apa yang dimiripinya, tapi pada hakikatnya Ia hanya seorang zombie. Orang itu hanya seperti salinan dari manusia yang sejati dan hanya kegelapan yang ada di dalam dirinya. Tak ada manusia di sana yang memiliki kemampuan akan pengalaman subjektif sebagai ciri-cirinya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kecerdasan itu tidak sama dengan kesadaran. Karena sudah banyak kecerdasan artivisial/buatan yang terdapat pada robot atau komputer, tapi tetap saja kesadaran itu tidak dimiliki oleh benda-benda tersebut. Mereka hanya bisa melakukan apa yang sudah diprogram atau diperintahkan, bukan pengalaman subjektif yang mereka dapat. Semua berlaku umum dan sudah diatur sebelumnya.

Ada satu hal yang perlu dijelaskan bahwa tidak semua benda yang memiliki fungsi pasti memiliki kesadaran pula. Memang antara kebiasaan, fungsi, dan kesadaran sangat berkaitan erat. Seperti contoh komputer yang berfungsi dan memiliki kecerdasan tertentu. Karena inti permasalahannya benda itu tidak memiliki pengalaman subjektif, maka Ia tidak dapat dikatakan memiliki kesadaran. Inilah teori yang dibuat oleh David Chalmers. Sesuatu bisa dikatakan memiliki kesadaran, jika memiliki pengalaman subjektif.

Selanjutnya, masalah kesadaran ini coba dikaitkan dengan perihal evolusi. Susan Blackmore mempertanyakan apakah kesadaran itu dikembangan untuk alasan tertentu. Sehingga kita memiliki kesadaran yang menjadikan kita bukan zombie atau mayat hidup.

Menurut David Chalmers, evolusi itu adalah proses seleksi fisik yang menghasilkan keadaan fisik yang dapat bertahan. Keadaan fisik ini terus berkembang, dan pada keadaan tertentu, kesadaran itu terdapat dalam fisik tersebut. Setelah itu, baru kesadaran itu sendiri yang berkembang. Tapi untuk apakah kesadaran itu mempengaruhi evolusi, belum ada yang dapat menjelaskannya.

Berkaitan lagi dengan teori Zombie, hal ini menekankan betapa pentingnya kesadaran. Menurut teori Descartes, kesadaran ini dianggap sebagai sesuatu nonfisik yang mempengaruhi dunia fisik. Pengaruh ini tidak statis, karena kita dalam melakukan atau berfikir sesuatu, tidak akan bisa lepas dari pengalaman subjektif selama masih memiliki kesadaran. Apa jadinya individu tanpa pengalaman subjektif. Dia hanya akan menjadi zombie itu sendiri. Semua statis, tak dapat merasakan sensasi atau makna dari suatu hal. Hidup akan menjadi tidak bermakna sama sekali.

Lalu Susan Blackmore juga menanyakan pendapat David Chalmers mengenai free will atau kehendak bebas. Pada awalnya, Ia menyatakan bahwa sebagai manusia, kita bisa melakukan apa saja, selama tidak ada yang menghalangi. Ini berarti kita sebagai manusia tidak memiliki kehendak bebas. Segala sesuatu yang kita lakukan sudah ditentukan sebelumnya. Apakah kita akan dapat atau tidak melakukannya. Tetapi sebagai manusia yang berfikir, saat menemui rintangan, terlintas dalam benak untuk mencari agar bisa melewati rintangan tersebut. Oleh karena itu, kehendak bebas itu tergantung dari diri kita sendiri. Untuk mau menggunakan pengalaman subjektif dalam kehendak yang bebas.

Pada akhir wawancara, Susan Blackmore menanyakan bagaimana latar belakang dan pengaruh bagi seorang David Chalmers menekuni perihal kesadaran ini. Saat mempelajari tentang kesadaran, Dave pernah mencoba menjadi vegetarian. Ia tidak ingin memakan makhluk yang memiliki kesadaran. Tapi hal ini berangsur menghilang seiring timbulnya kesadaran bahwa Ia hanya ingin memakan makhluk yang memiliki tingkat kesadaran yang sederhana seperti ikan dan ayam. Tapi sebelum semua dampak itu mendera Dave, Ia adalah seorang matematikawan yang baik. Hal yang membuat dirinya tertarik untuk mempelajari perihal kesadaran adalah sudut pandang orang pertama dan pengalaman subjektif itu sendiri. Saat kita melihat suatu objek menggunakan mikroskop, kita akan melihat dari sudut pandang orang ketiga. Hal itu pula yang terjadi dalam semua ilmu pengetahuan alam. Semua dipandang melalui sudut pandang orang ketiga. Kemudian pasti akan sangat menarik jika suatu objek dipandang pula dari sudut pandang orang pertama dengan pengalaman subjektif yang dimilikinya.

Di penutup wawancara antara Susan Blackmore dan David Chalmers, ditanyakan pendapat David Chalmers mengenai kesadaran itu setelah manusia mati. Kesadaran seperti yang sudah dikatakan dalam pembahasan ini adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari proses otak. Sehingga setelah kita mati dan otak kita tidak berfungsi serta hancur, maka akan ikut hancurlah kesadaran yang kita miliki. Sehingga tak ada lagi kesadaran, setelah individu pemilik kesadaran itu tidak terjadi proses otak di dalamnya.

Komentar dan Kesimpulan

Inti dari pembahasan yang dikemukan oleh David Chalmers, terdapat tiga poin penting.

Pertama adalah keinginan David Chalmers untuk mengembalikan perihal kesadaran dalam ilmu pengetahuan. Pada awalnya kesadaran ini dipelajari dalam ilmu Psikologi. Tetapi lambat laun, di era moderen ini, kesadaran dilepaskan dari cakupan ilmu psikologi dan ilmu tersebut hanya menelaah soal kebiasaan atau kejiwaan manusia.

Hambatan yang membuat perihal kesadaran ini tidak dapat dimasukan dalam ilmu pengetahuan karena adanya pengalaman subjektif. Pengalaman subjektif ini dikatakan oleh banyak ilmuwan tidak dapat dijadikan data yang falid. Sesungguhnya, kesadaran ini juga merupakan data yang falid. Seperti reaksi traumatis pada manusia. Hal tersebut dapat diamati dan dilakukan perhitungan objektif. Oleh karena itu, kesadaran itu merupakan data yang falid. Data tidak harus melulu objektif, tetapi data subjektif itu juga bisa dijadikan tumpuan.

Kedua adalah perbedaan antara kecerdasan dan kesadaran. Menurut pandangan umum, kedua hal tersebut kadang dipersamakan, padahal berbeda sama sekali. Kita tidak dapat menganggap komputer atau robot yang memiliki kecerdasan artivisial juga memiliki kesadaran. Memang robot atau komputer tersebut dapat berfikir persis dengan orang yang dijadikan sumber informasi, tapi pada dasarnya mereka tidak memiliki pengalaman subjektif yang dimiliki oleh manusia. Segala sesuatunya sudah diatur dan statis. Seperti zombie atau mayat hidup. Mungkin mereka bisa berbicara dan bertingkahlaku seperti orang yang ditirunya, tapi tak ada pengalaman subjektif yang membuta hidup mereka tidak hidup dan bermakna.

Terakhir adalah tentang eksistensi kesadaran itu setelah manusia atau pemilik kesadaran itu mati. Kesadaran atau pengalaman subjektif itu tidak dapat dipisahkan dari proses otak manusia. Pada saat manusia mati, maka otak juga akan terurai. Oleh karena itu, kesadaran itu juga akan musnah dan terurai seperti hancurnya otak manusia. Jika kesadaran itu dianalogikan dengan ruh yang mengendalikan perilaku manusia, dapat diasumsikan bahwa tidak ada kesadaran setelah mati.

6 komentar untuk “Kajian Kesadaran David Chalmers”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *