Melampaui Keterbatasan Menggapai Cita-cita

Lulus dari SMP dengan nilai rata-rata 8, Aku meneruskan ke SMA Negeri 66 Jakarta. SMA tersebut juga pernah menerima siswa berkebutuhan khusus. Dalam sekolah ada empat siswa tunanetra dan dua teman tunarungu. Alhamdulilah, kesulitan tidak banyak kami temui di SMA. Aku cukup menyesuaikan diri dengan sistem kurikulum yang baru. dalam teknik belajar pun sama seperti sewaktu di SMP. Hanya di SMA ini, Aku tidak pernah meminta pembaca dari luar saat ulangan harian atau umum. Teman sebangku bersedia dan guru mengizinkan dia untuk membacakan soal untukku. Bersamaan dengan itu, dia mengerjakan soal yang sama. Jika sudah selesai, Aku mendikte jawabanku untuk dituliskan, karena sebelumnya Aku menulisnya dalam format braille.

Tiga tahun di SMA Aku lulus dengan NEM 27.10 dari tiga mata pelajaran jurusan IPS. Mekanisme pelaksanaan UAN untuk kami yang tunanetra hampir sama pada saat SMP. Tapi sekarang satu siswa mendapat satu ruangan dengan dua guru pendamping yang bertugas membaca serta menuliskan jawaban. Mereka sangat sabar dalam membantuku mengerjakan soal. Oleh karena itu, Aku tidak ingin menyia-siakan semua bantuan yang sudah diberikan ini.

***

Selepas SMA, Aku putuskan ikut Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Aku tidak ikut SPMB kolektif seperti teman-teman di SMA, tapi bersama teman-teman tunanetra langsung mendaftar ke UI Salemba. Aku dan lima teman yang tunanetra mengikuti SPMB pada salah satu ruangan khusus di sana. Tiap orang mendapat dua pendamping. Para pendamping itu berasal dari mahasiswa Universitas Indonesia yang bertugas sebagai panitia SPMB. Ada yang menarik di sini. Aku kurang tahu apakah para mahasiswa ini sudah ada pelatihan sebelumnya. Tapi mereka faham bagaimana cara yang baik untuk membacakan soal bagi kami. Walaupun mungkin baru kali ini mereka berinteraksi dengan tunanetra.

Pengumuman hasil SPMB keluar. Alhamdulillah, Aku diterima di Universitas Indonesia jurusan Sastra Inggris. Aku bersyukur karena cita-citaku menjadi seorang translater mendapat jalan dari Allah SWT. Salah satu motivasiku adalah, Aku ingin menghilangkan stigma bahwa tunanetra hanya seorang tukang pijat, peminta-minta, bahkan orang yang harus dikasihani.

Di perguruan tinggi, dosen-dosen UI berfikiran moderen dan akomodatif. Pada awal kuliah, mereka menemuiku dan menanyakan apa yang Aku butuhkan agar bisa mengikuti kuliah dengan baik. Aku dan dosen sering berkonsultasi untuk mereduksi hambatan yang Aku temui. Seperti contoh, Para dosen mengizinkanku membawa laptop ke kelas saat ujian tengah dan akhir semester. Mereka memberiku soal dalam bentuk soft-copy. Lalu Aku mengerjakannya di laptop berscreenreader dan menyerahkan hasilnya dalam bentuk soft-copy pula.

Bergaul di lingkungan lembaga pendidikan bagi seorang tunanetra sebenarnya tidak sulit. Hal yang perlu diperhatikan adalah sikap terbuka dari tunanetra itu sendiri. Jika kita menutup diri, maka masyarakat tidak akan berani mendekati kita. Mereka takut jika menyinggung perasaan. Tapi ketika kita memulai perkenalan terlebih dahulu, maka mereka juga akan menyambut kita dengan hangat. Bahkan hal tersebut mempermudah kita setiap berada di sebuah lingkungan baru. Dari sejak SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi ini semua teman yang kebanyakan belum pernah berinteraksi dengan tunanetra bisa menerimaku menjadi teman mereka. Bahkan di SMA, ada salah seorang teman tunanetra yang aktif berorganisasi di OSIS. Jadi pada intinya, asal kita terbuka dan memiliki itikat untuk berusaha, maka masyarakat akan terbuka pada kita.

Semua ini Ku sadari masih belum cukup. Perjuangan yang harus dilalui masih panjang. Setelah lulus, cita-citaku adalah ingin bekerja untuk meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Selain itu, satu hal yang tidak akan Aku lupakan adalah bisa membantu sesama teman tunanetra. Aku ingin berbuat sesuatu bagi mereka. Karena Aku akan selalu berusaha, melampaui keterbatasan untuk menggapai cita-cita.

1 komentar untuk “Melampaui Keterbatasan Menggapai Cita-cita”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *