Menjadikan Huruf Braille Naik Kelas di Era Digital

“Apa benar bahwa huruf Braille akan punah di era digital ini?”

 

Desrupsi menjangkau ke banyak hal di era digital. Orang yang dulu berbelanja di pasar dan toko, kini cukup melalui sentuhan jari di layar smartphone dan barang akan diantar ke rumah oleh kurir dari e-commerce terpercaya. Hal serupa terjadi di literasi. Dulu orang berpenglihatan menulis dan membaca di kertas, kini semuanya dilakukan dalaam format digital dan buku elektronik. Tak ayal perubahan pun terjadi di orang dengan hambatan penglihatan atau disabilitas netra. Jika kemampuan literasi seorang disabilitas netra identik dengan huruf braille, kini kebanyakan lebih akrab dengan buku audio atau buku elektronik. Bahkan tak sedikit yang lebih dulu dapat mengetik di smartphone dengan aplikasi pembaca layar, sebelum mengenal kombinasi enam titik uruf Braille.

 

Lantas, apa benar masa kejayaan huruf Braille telah usai? Penulis meyakini bahwa peranan huruf Braille tidak lagi sedominan dulu, tapi bukan berarti tidak penting sama sekali. Keberadaan huruf Braille tidak akan tergantikan, bahkan dapat “naik kelas” di era digital ini, jikalau kita mampu melihat peluangnya.

 

“Huruf Braille bukan segalanya, tapi segalanya bermula dari Huruf Braille”

 

Huruf Braille sebagai produk peradaban lahir karena adanya kebutuhan dari manusia. Secara historis, Louis Braille mengembangkan sistem Huruf Braille karena para tunanetra di abad ke-19 tersebut belum memeiliki sistem aksara yang nyaman untuk digunakan. Penemuan pria asal Perancis ini kemudian digunakan secara luas karena saat itu Huruf Braille, yang menggunakan metode perabaan, dinilai paling efektif dan mudah dipahami tunanetra. Selain itu, huruf Braille juga bersifat universal karena tiap simbol mewakili satu huruf alfabet, sehingga dapat diterapkan dalam berbagai bahasa. Dengan kata lain, Huruf Braille eksis selama dinilai praktis dan dibutuhkan penggunanya.

 

Sedang di era digital, ketika distribusi informasi makin cepat dan perkembangan gawai serta komputer makin canggih, sisi kepraktisan dari Huruf Braille mulai diragukan. Buku audio saja yang sebelumnya diproduksi dalam pita kaset yang rentan kusut, kini ada dalam format CD Deasy Book atau file MP3 yang dapat didengarkan kapan saja dimana saja melalui gawai. Membaca buku pun sudah dalam format elektronik berformat .epub atau PDF yang jauh lebih praktis dibanding buku Braille. Dalam hardisk laptop, dapat menyimpan ribuan buku-buku elektronik, sedangkan buku braille memerlukan ruang penyimpanan fisik yang tak sedikit.

 

Dari sisi kepraktisan, dapat dikatakan huruf Braille tidak relevan lagi dengan era digital. Akan tetapi, untuk sisi kebutuhan seorang disabilitas netra sebagai media literasi, huruf-huruf yang dicetak dengan Riglet dan Stylus ini masih tak tergantikan. Pertama, Huruf Braille menjadi indikator seorang disabilitas netra dapat dikatakan buta aksara atau tidak. Selayaknya orang berpenglihatan, kemampuan literasinya diukur dengan kemampuan baca dan tulis. Meski dalam praktik sehari-hari akan lebih banyak menggunakan komputer atau smartphone, tapi ketika kanak-kanak tetap diajari menulis dengan pensil dan kertas. Sama halnya dengan disabilitas netra. Meski akan lebih banyak menulis dengan teknik mengetik sepuluh jari di keyboard komputer dan mendengarkan buku audio dan elektronik, keterampilan membaca dan menulis Braille ini menjadi dasar yang perlu dikuasai.

 

Kedua, keterampilan membaca dan menulis huruf Braille akan meningkatkan kemampuan literasi ke tahap lanjut. Penulis yang juga aktif dalam mengembangkan kemampuan literasi para disabilitas netra melalui wadah website Kartunet.com kerap menemui salah ketik atau eja di tulisan para kontributor. Pada umumnya ada kesulitan ketika penggunaan huruf B, D, atau T dalam sebuah kata, seperti “abad” atau “abat”. Sering pula mereka kesulitan dalam pengorganisasian sebuah tulisan, seperti pembagian teks dalam paragraf. Semua hal itu seharusnya tidak menjadi kendala apabila kemampuan literasi disabilitas netra diawali dengan membaca buku-buku braille. Sebab ketika membaca, ada proses meraba huruf demi huruf sehingga menjadi kata, deretan kata lalu jadi kalimat, kalimat ke kalimat  yang merangkai paragraf, dan kumpulan paragraf yang membangun teks. Hal ini tidak didapatkan apabila hanya tergantung pada buku audio dan elektronik yang sesungguhnya kegiatan mendengarkan alih-alih membaca.

 

Lebih jauh, huruf Braille itu adalah identitas untuk seorang disabilitas netra yang berlaku secara universal. Ketidak mampuan membaca dan menulis Braille, akan merugikan ketika berada di banyak tempat. Saat berada di elevator, di negara manapun itu, ada angka Braille yang tercetak di tiap tombol lantai. Akan jadi sebuah kebanggaan ketika dapat menunjukkan ke orang yang penasaran, bahwa itu huruf Braille dan bagaimana membacanya. Akan sangat memalukan apabila ada orang berpenglihatan yang bertanya, lalu kita tidak tahu cara membaca huruf Braille.

 

“Huruf Braille Naik Kelas”

 

Era digital tidak hanya mengikis fungsionalitas huruf Braille dari sisi kepraktisan, tapi juga dapat menawarkan peluang untuk naik kelas. Huruf Braille sebagai bagian dari kekayaan literasi dunia, dapat dipopulerkan melalui internet dan media sosial sebagai aksara yang juga dapat digunakan oleh komunitas di luar disabilitas netra. BLBI Abiyoso Kemensos, sebagai lembaga literasi Braille, dapat membuat kampanye-kampanye digital sehingga huruf Braille ini menjadi tren baru dan pengetahuan yang layak untuk dipelajari masyarakat luas, seperti orang belajar huruf Kanji dan Hiragana dari Jepang.

 

Efek dari kampanye ini tertuju langsung ke para disabilitas netra juga. Sebab jika makin banyak  masyarakat umum yang paham dan dapat menggunakan huruf Braille, maka tak akan sulit seorang disabilitas netra belajar huruf Braille meski tinggal di pelosok nusantara. Selain itu, kemampuan literasi Braille ini pun bermanfaat untuk para lansia yang sudah kesulitan membaca huruf awas, atau untuk seseorang yang mendapat kecelakaan lantas kehilangan penglihatan, tidak merasa runtuh dunianya karena tahu bahwa huruf Braille itu bukan sesuatu aib untuk disabilitas netra. Semoga huruf Braille selalu berada di hati dan fikiran para disabilitas netra, karena sampai kapanpun akan tetap dibutuhkan dan tak tergantikan. (DPM)

Esai ini telah diikut sertakan dan menjadi juara pertama pada lomba esai kategori peserta dewasa yang diselenggarakan oleh BLBI Abiyoso Kementerian Sosial RI dan diumumkan pada tanggal 2 Desember 2020

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *