Pelanggaran Maxim Grice pada Kisah Abu Nawas

Prinsip Kerja Sama

Menurut Paul Grice, ada empat bidal yang menjadi prinsip kerja sama dalam komunikasi, meliputi bidal kualitas, kuantitas, relevansi, dan cara.

  1. Bidal Kualitas.
    Dalam bidal pertama Grice ini, Grice memberikan prinsip bahwa dalam berkomunakasi pihak penutur dan petutur harus melakukannya jujur. Seseorang tidak boleh mengatakan sesuatu yang diyakininya bahwa al itu salah, atau berkata sesuatu yang tidak ada cukup bukti pendukung.

    Seperti contoh ketika ada percakapan antara dua orang A dan B. Si A adalah mahasiswa UI yang telah kuliah di sana selama beberapa semester. Sedangkan si B adalah adik si A yang baru berusia 5 tahun. Berikut disajikan percakapan yang sesuai bidal kualitas dan contoh lain yang melanggarnya.

    B: Ka, dimana kampus UI tempat Kakak kuliah?
    A: Oh, UI itu ada di Depok.

    Coba bandingkan dengan percakapan berikut.

    B: Ka, ada dimana kampus UI tempat kakak kuliah?
    A: Jauh dek, UI itu ada di Amerika sana.

    Dari contoh dua percakapan di atas, terlihat bahwa percakapan pertama memenuhi syarat prinsip bidal kualitas. Penutur A dengan jujur mengatakan fakta bahwa kampus UI itu memang berada di daerah Depok. Sedangkan pada percakapan kedua, ada pelanggaran bidal kualitas dengan berbohong bahwa kampus UI itu ada di Amerika. Pelanggaran bidal ini mungkin bukan tanpa alasan. Penutur A di depan adiknya, ingin terlihat hebat dengan bilang bahwa UI itu ada di Amerika yang sebenarnya dia amat paham bahwa UI itu ada di Depok. Di sini ada tujuan tertentu yang ingin dicapai petutur A terhadap penutur B yang tidak mengetahui fakta sebenarnya.

  2. Bidal Kuantitas.
    Dalam prinsip kedua ini, Grice memberi ketentuan bahwa sebuah tuturan dalam percakapan harus diberikan seinformatif mungkin. Tidak diperkenankan informasi itu terlalu singkat, atau terlalu banyak. Seperti yang dapat kita lihat dalam contoh berikut.

    Contoh kasus berikut mengisahkan seseorang yang sedang mencari telepon umum.

    A: Maaf, dimana ada telepon umum?
    B: Dari sini berjalan lurus sampai di lampu lalu lintas itu belok kiri, dan sekitar 10 meter dari sana,box telepon umum ada di sebelah kiri jalan.

    Coba bandingkan dengan percakapan berikut.

    A: Maaf, dimana ada telepon umum?
    B: Tidak jauh lagi.

    Dari contoh percakapan pertama, terlihat bahwa petutur B memberikan informasi yang sesuai dengan harapan penutur A. Informasi yang diberikan jelas dan langsung mengarah pada pertanyaan. Sedangkan pada contoh percakapan kedua, ada informasi yang kurang diberikan oleh petutur B. Jawaban tersebut tidaklah memenuhi harapan dari pertanyaan penutur A. Namun demikian, ada maksud tersendiri dari petutur B atas jawabannya yang kurang informatif itu. Secara implisif, petutur B ingin memberitahukan bahwa ia sedang tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Mungkin salah satu alasannya adalah ia sedang dalam keadaan terburu-buru dan tak ada waktu untuk menjelaskan.

  3. Bidal Relevansi.
    Bidal ini mengacu pada prinsip untuk saling terjalinnya pemahaman semantis ketika berkomunikasi. Ketika ada share knowledge yang sama-sama dimiliki oleh pihak penutur dan petutur, maka akan tercipta sebuah relevansi percakapan. Berikut adalah contoh yang dapat memperlihatkan penerapan bidal relevansi.

    A: Bagaimana menurutmu film tadi malam?
    B: Tidak bagus. Aku tidak suka dengan jalan ceritanya yang berputar-putar.

    Bandingkan dengan contoh berikut.

    A: Bagaimana menurutmu film tadi malam?
    B: Sutradaranya itu si Stephen Speilberg.

    Dalam contoh percakapan pertama, terlihat bahwa petutur B memenuhi bidal relevansi dengan memberikan jawaban yang relevan. Ada kesamaan pengetahuan tentang topik yang sedang dibicarakan. Sedangkan pada percakapan kedua, petutur B tidak memberikan jawaban yang diharapkan penutur A. Pertanyaan penutur A bersifat yes no question yang seharusnya cukup dijawab dengan iya atau tidak. Namun, di sini ada pelanggaran bidal relevansi oleh petutur B. Fakta ini bukan tanpa alasan oleh petutur B. Karena tidak ada share knowledge yang dimiliki pula oleh penutur A bahwa Stephen Speilberg adalah sutradara favorit petutur B, maka tidak terjalin relevansi atas pertanyaan dan jawaban yang dikemukakan petutur B.

  4. Bidal Cara
    Bidal terakhir yang dikemukakan Grice ini menekankan pada ketentuan untuk membuat ujaran sejelas mungkin. Penutur harus menghindari adanya ambiguitas atau makna ganda pada ujarannya. Selain itu, Grice juga menyatakan bahwa ujaran harus dikemukakan secara terurut, tidak serampangan. Penerapan bidal cara ini dapat dilihat dalam contoh berikut.

    A: Bagaimana cara memasak mie instant?
    B: Pertama rebus dulu air secukupnya. Setelah air mendidih, masukan mie instant beserta bumbu. Aduk dan tunggu sampai mie matang. Setelah matang, mie bisa dihidangkan di mangkuk atau piring.

    Bandingkan dengancontoh berikut.

    A: Bagaimana cara memasak mie instant?
    B: Langsung dimasukan ke panci mie instantnya. Tapi sebelumnya, rebus air dulu pastinya. Jika sudah, bisa diangkat dan dihidangkan di mangkuk. Oia, bumbunya jangan lupa ya.

    Dalam contoh percakapan pertama, terlihat petutur B memberikan jawaban yang jelas dan berurutan. Penutur A tidak merasa bingung dengan jawaban tersebut. Namun, pada percakapan kedua, ada alur maju mundur pada jawaban petutur B. Hal ini membuat jawaban agak sulit dicerna, atau mungkin bisa terjadi salah persepsi dalam hal urutan.

    Ada contoh lain dalam masalah pelanggran bidal cara. Dapat dilihat pada contoh berikut.

    Contoh kasus adalah seorang anak perempuan yang sedang menelpon ibunya. Tapi karena biaya telpon mahal, ia hanya berbicara sepintas lalu ditutup.

    A: Ma, aku telat.
    B: Telat? Kamu hamil? Halo.. halo..

    Dalam contoh di atas, ada makna ambigu yang diutarakan oleh penutur A. Ia hanya mengatakan jika ia telat, lalu menutup sambungan telpon. Akibat dari ketidakjelasan itu, petutur B langsung berasumsi bahwa kata telat itu diartikan sebagai anak gadisnya telat datang bulan, yang mengisyaratkan hamil. Padahal kata telat itu dimaksudkan oleh penutur A untuk memberitahukan bahwa ia datang telat ke sekolah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *