Pelanggaran Maxim Grice pada Kisah Abu Nawas

Pelanggaran Bidal Grice dalam Kisah-kisah Abu Nawas

Di dalam tiap kisah Abu Nawas, hampir selalu ditemui pelanggaran bidal Prinsip Kerja Sama Grice. Bahkan, terkadang pelanggaran bidal ini menjadi inti dari cerita yang membuatnya jenaka dan terkesan cerdas. Permainan bahasa dan logika Abu Nawas secara tidak langsung, memanfaatkan proses pelanggaran bidal Grice untuk mencapai tujuan tersembunyinya. Oleh karena itu, cerita Abu Nawas menjadi amat menarik dan disukai mereka yang gemar berfikir.

  1. Analisis Pelanggaran Bidal Grice dalam wacana Cerita Abu Nawas Berjudul Ibu Sejati.
    Berkata dusta atau bohong ternyata tidak selamanya membawa keburukan. Pelanggaran bidal kualitas yang dilakukan oleh tokoh Abu Nawas dalam cerita ini, ternyata membawa keberkahan dan kebajikan tersendiri. Abu Nawas dalam cerita ini sengaja berkata sebaliknya untuk bisa mengetahui hal yang berkebalikan tersebut. Seperti dapat dilihat pada kutipan dialog di bawah ini.

    “Sebelum saya mengambil tindakan apakah salah satu dari kalian bersedia mengalah dan menyerahkan bayi itu kepada yang memang berhak memilikinya?”

    “Tidak, bayi itu adalah anakku.” kata kedua perempuan itu serentak.

    “Baiklah, kalau kalian memang sungguh-sungguh sama menginginkan bayi itu dan tidak ada yang mau mengalah maka saya terpaksa membelah bayi itu menjadi dua sama rata.” kata Abu Nawas mengancam.

    Perempuan pertama girang bukan kepalang, sedangkan perempuan kedua menjerit-jerit histeris.

    “Jangan, tolongjangan dibelah bayi itu. Biarlah aku rela bayi itu seutuhnya diserahkan kepada perempuan itu.” kata perempuan kedua. Abu Nawas tersenyum lega. Sekarang topeng mereka sudah terbuka. Abu Nawas segera mengambil bayi itu dan langsung menyerahkan kepada perempuan kedua.(Lihat lampiran 1).

    Terlihat dari kutipan tersebut, Abu Nawas mengeluarkan kalimat demi menyembunyikan maksud sebenarnya. Ada strategi untuk mengancam kedua perempuan itu dengan berkata bahwa ia ingin membelah bayi dengan pedang. Padahal hal itu tak mungkin dilakukan karena ia hanya ingin melihat reaksi dari kedua perempuan tersebut. Jika harus mengikuti bidal kualitas, maka ia harus berkata jujur kepada kedua perempuan tersebut. Dapat diasumsikan bahwa tujuan dalam percakapan tersebut yang ingin mengungkap ibu sejati dari bayi tak akan dapat terungkap. Sehingga demikian, dapat disimpulkan dari percakapan ini bahwa kata pelanggaran bidal kualitas dilakukan oleh Abu Nawas menjadi sebuah strategi untuk mengungkap hal yang sebaliknya.

  2. Analisis Pelanggaran Bidal Grice dalam wacana Cerita Abu Nawas Berjudul Pekerjaan yang Mustahil.
    Permainan kata-kata kembali menjadi strategi ampuh untuk memutar balikan fakta. Kali ini, Abu Nawas memanfaatkan pelanggaran bidal kuantitas yang dilakukan oleh orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Pelanggaran bidal ini dilakukan oleh raja yang memberikan perintah kepada Abu Nawas. Berikut kutipan dari percakapan yang menjadi inti dalam cerita “Pekerjaan yang Mustahil”.

    “Abu Nawas, mengapa engkau belum juga mengangkat istanaku?” tanya Baginda Raja.

    “Hamba sudah siap sejak tadi Baginda.” kata Abu Nawas.

    “Apa maksudmu engkau sudah siap sejak tadi? Kalau engkau sudah siap. Lalu apa yang engkau tunggu?” tanya Baginda masih diliputi perasaan heran.

    “Hamba menunggu istana Paduka yang mulia diangkat oleh seluruh rakyat yang hadir untuk diletakkan di atas pundak hamba. Setelah itu hamba tentu akan memindahkan istana Paduka yang mulia ke atas gunung sesuai dengan titah Paduka.”(Lihat lampiran2).

    Dalam percakapan tersebut, terlihat ada pemanfaatan dari pelanggaran bidal kuantitas yang dilakukan oleh sang sultan. Abu Nawas memanfaatkan pernyataan yang kurang informatif dari raja untuk memukul balik persepsi semantis yang dimiliki oleh raja. Abu Nawas seakan-akan memiliki share knowledge yang tidak sama dengan sultan. Pelanggaran bidal kuantitas yang dilakukan oleh sultan yakni dalam kalimat “’Sanggupkah engkau memindahkan istanaku ke atas gunung agar aku lebih leluasa melihat negeriku?’ tanya Baginda.”(Lihat lampiran 2). Dari pemilihan kata yang digunakan oleh sultan, Abu Nawas melihat ada peluang dari kurang lengkapnya informasi yang diberikan oleh sultan. Walaupun secara semantis kalimat sultan telah mengisyaratkan bahwa ia ingin Abu Nawas membuat kedudukan istana berpindah dari tempat asal ke tempat yang baru, ia kemudian membuat seakan pernyataan sultan melanggar bidal kuantitas. Di sini Abu Nawas mengebiri makna kata “memindahkan” yang dilontarkan oleh sultan dengan berarti hanya memindahkan saja. Sedangkan untuk memindahkan itu, istana perlu diangkat terlebih dahulu. Dalam hal ini, pekerjaan mengangkat istana dianggap oleh Abu Nawas bukan menjadi bagian dari titah sultan.

    Dapat disimpulkan dari cerita ini bahwa ada usaha Abu Nawas untuk membuat pernyataan sultan menjadi sebuah pelanggaran bidal kuantitas. Jika secara semantis (dengan share knowledge yang sama) kalimat tersebut sudah cukup, tapi ada peluang untuk membuatnya jadi melanggar bidal kuantitas. Di sini Abu Nawas memanfaatkan itu agar terhindar dari tugas memindahkan istana yang pastinya harus diangkat terlebih dahulu sebelum dipindahkan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *