Pelanggaran Maxim Grice pada Kisah Abu Nawas

  • Analisis Pelanggaran Bidal Grice dalam wacana Cerita Abu Nawas Berjudul Melarang Ruku dan Sujud.
    Strategi dengan mengeluarkan pernyataan yang bermakna ganda atau ambigu, kerap digunakan seseorang untuk mengelabuhi orang lain. Oleh karenanya, penutur dalam menjelaskan sesuatu, harus jelas hingga tak mengakibatkan makna ganda. Namun, ada pula pelanggaran terhadap bidal cara yang memang disengaja untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam cerita Melarang Ruku dan Sujud, Abu Nawas melakukan pelanggaran bidal cara untuk memberikan efek kritik terhadap sesuatu. Berikut adalah kutipan percakapan yang mengisyaratkan hal tersebut.

    Khalifah berkata dengan ketus, ”Apa maksudmu? Ja-ngan membela diri, kau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya.”

    Abu Nawas beranjak dari duduknya dan menjelaskan dengan tenang, ”Saudaraku, aku memang berkata ruku’ dan sujud tidak perlu dalam salat, tapi dalam salat apa? Waktu itu aku menjelaskan tata cara salat jenazah yang memang tidak perlu ruku’ dan sujud.”

    ”Bagaimana soal aku yang suka fitnah?” tanya Khalifah.

    Abu Nawas menjawab dengan senyuman, ”Kala itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 Surat Al-Anfal, yang berbunyi ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah ujian bagimu. Sebagai seorang khalifah dan seorang ayah, kamu sangat menyukai kekayaan dan anak-anakmu, berarti kamu suka ’fitnah’ (ujian) itu.”(Lihat lampiran 3).

    Terlihat dari kutipan percakapan di atas bahwa ada kesalahpahaman dari pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh Abu Nawas. Raja melihat pernyataan Abu Nawas hanya seperti apa yang dinyatakan saja. Padahal dalam cerita ini, Abu Nawas sengaja atau tanpa sengaja melanggar bidal cara dengan mengeluarkan pernyataan yang kurang jelas. Seperti ketika ia mengatakan bahwa ruku dan sujud dalam sholat itu tidak perlu. Pernyataan ini menjadi amat ambigu dan tidak jelas karena kurangnya informasi di dalamnya. Raja tidak mendapatkan informasi yang memperjelas pernyataan itu. Beda halnya jika pernyataan itu langsung ditambahkan menjadi “melarang ruku dan sujud dalam sholat jenazah”. Jika ada penambahan seperti itu, maka tak akan ada pelanggaran terhadap bidal cara. Namun, pelanggaran ini memang dimaksudkan untuk memberikan efek bahwa kita harus selalu mengklarifikasi segala sesuatu.

    Lebih jauh lagi, kata fitnah yang dilontarkan oleh Abu Nawas bahwa sultan tukang fitnah, benar-benar memiliki makna ambigu. Dalam pernyataan itu, tak ada informasi eksplisif lain selain dari kata sultan yang tukang fitnah. Pelanggaran terhadap bidal cara ini ternyata memang dilakukan oleh Abu Nawas untuk mengejutkan sang sultan. Karena di sini, Abu Nawas mengasosiasikan kata fitnah dengan ujian yang berupa harta dan keturunan. Dengan kata lain, ada maksud kritik sosial yang ingin disampaikan oleh Abu Nawas dengan pelanggaran bidal ini.

  • Kesimpulan

    Pelanggaran bidal-bidal dalam Prinsip Kerja Sama milik Paul Grice sering dilakukan dengan maksud-maksud tertentu. Hal ini bukan dilakukan karena kesalahan dalam berkomunikasi, tapi ada maksud-maksud lebih jauh di luar dari sebuah percakapan. Dalam kisah-kisah Abu Nawas, pelanggaran bidal-bidal Grice pada umumnya menjadi inti dari kisah itu sendiri. Permainan kata-kata dan logika yang dilakukan oleh Abu Nawas, menjadi ruh dari keunikan kisah itu sendiri. Oleh karena itu, analisis terhadap pelanggaran bidal Grice yang ada dalam kisah Abu Nawas, dapat mempermudah pembaca dalam melihat maksud tersembunyi dan motif dari pelanggaran itu.


    [1] Lihat kisah Abu Nawas dengan judul “Abu Nawas Melarang Ruku dan Sujud” (Lampiran 3).
    [2] Lihat http://masnya.wordpress.com/2009/06/22/biografi-dan-kisah-abu-nawas/ diunduh pada 27 Mei 2010 jam 08:00 WIB

    Tinggalkan Komentar

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *