Pendidikan yang Tidak Mendidik

Kemudian di bagian ini, saya akan memberikan beberapa solusi yang mungkin dapat menolong sistem pendidikan kita yang sekarang ini. Walaupun saya bukan seorang akedemisi, tapi saya adalah objek yang ada dalam sistem pendidikan itu sendiri.

Mengenai sistem sekolah, Sebaiknya untuk slogan wajib belajar 9 tahun itu tetap dilaksanakan. Tapi lama belajar itu yang harus dibenahi. Maksud saya adalah tetap belajar sampai SMA, tapi waktunya dikurangi menjadi hanya sembilan tahun tidak dua belas tahun. Yaitu dengan memangkas 1 tahun pada setiap jenjang pendidikan. Sehingga SD hanya tinggal menjadi 5 tahun, SMP hanya tinggal menjadi 2 tahun, dan SMA tinggal menjadi 2 tahun. Karena menurut yang sudah saya alami, banyak sekali materi-materi yang hanya diulang-ulang yang pada kelas sebelumnya sudah dipelajari, pada kelas berikutnya ada sebagian yang dipelajari lagi. Jadi benar-benar waktu yang tidak efisien. Jadi jika pelajaran itu dapat dipadatkan dan tidak diulang-ulang, dapat membuat waktu belajar lebih singkat dan pelajar-pelajar Indonesia dapat bersaing dengan orang luar negeri tidak hanya terlalu lama di bangku sekolahan.

Lalu setiap jenjang sekolah itu tidak perlu diadakan. Maksud saya dalah sd, smp, dan sma itu digabung saja dalam satu jenjang. Sehingga tidak perlu memberatkan orang tua murid lagi dengan setiap ganti sekolah harus membayar uang gedung lagi. Tapi bila uang gedung itu dihapuskan, maka sistem yang sebelumnya tidak masalah.

Lalu sebaiknya untuk sekolah kejuruan lebih diperbanyak. Karena dengan sekolah kejuruan itu dapat menciptakan tenaga yang siap kerja tanpa perlu kuliah lagi yang membutuhkan biaya besar. Karena dalam bekerja adalah keterampilan yang profesional yang dibutuhkan, bukannya ijazah yang untuk sekarang ini dapat dibeli dengan mudah.

Soal seragam itu memang harus tetap perlu untuk diadakan, karena dengan seragam itu tidak menyebabkan timbulnya kesenjangan sosial antar pelajar. Lalu untuk sekolah yang gratis, sebaiknya tidak diperlakukan untuk semua pelajar. Karena hanya untuk pelajar yang tidak mampu sajalah hal itu patut untuk dilakukan. Untuk melihat bahwa siswa tersebut tidak mampu, tidak perlu diadakan survey ke rumah langsung. Karena hal tersebut hanya akan membuang-buang waktu dan biaya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran dari masing-masing individu. Yaitu dengan masing-masing yang merasa membutuhkan silakan mendaftar untuk mengajukan permohonan tersebut. Di sini dituntut moralitas dari tiap-tiap orang maka apabila ia ternyata orang yang mampu tetap meminta kompensasi, ia akan merasa malu sendiri dengan perbuatannya itu.

Sekarang untuk masalah buku. Buat saya, masalah buku yang selalu berganti-ganti setiap tahun itu tidak apa-apa. Tapi sebaiknya pemerintah menanggulanginya dengan menyediakan buku-buku diperpustakaan yaitu buku yang benar-benar dipakai dalam proses belajar mengajar. Tidak hanya buku-buku lama yang ketinggalan zaman. Buku-buku baru yang keluar sebaiknya langsung dibeli pemerintah dan disediakan di perpustakaan untuk dapat dipinjam oleh siswa. Dengan begini maka peroses belajar siswa tidak terganggu dengan ketidak adaan buku bagi yang tidak mampu membeli, dan bagi percetakan buku juga tidak rugi karena buku yang keluar tetap dibeli yang sekarang dibeli oleh pemerintah langsung.

Insyaallah dengan semua solusi itu maka seluruh pemuda di negeri ini akan lulus semua dari sma minimal karena hanya berpendidikan selama sembilan tahun. Sehingga tidak terlalu lama dan membung-buang waktu di sekolah yang nantinya malah akan membuat hal-hal yang negatif. Yang tercermin dengan semakin malasnya pelajar saat ini karena pelajaran yang mereka anggap hanya itu-itu saja dan tidak menantang. Lalu sekarang sekolah yang identik dengan ajang untuk berpacaran yang semua itu terjadi karena terlalu banyaknya waktu senggang pada jam-jam belajar. Maka jika waktu itu dapat dipadatkan, mungkin dapat meningkatkan mutu pendidikan dan mengatasi semua itu. Malah pemuda-pemuda kita akan menjadi tanaga yang siap kerja pada usia yang muda sehingga tidak ketinggalan dari negara lain.

Yang saya anjurkan juga dalah untuk kuliah kalau bisa sih gratis juga, tapi kalau tidak ya tidak apa-apa juga. Karena dengan sudah lulus SMK pun sudah mencukupi bekal ilmunya untuk kerja yang cukup layak.

Lalu terakhir yang dapat saya tekankan di sini adalah. Jika sekolah masih bayar dengan mahal, maka moral siswa yang sering melawan dengan guru dan pihak sekolah sekarang ini akan tetap terus terjadi. Karena mereka merasa bahwa mereka membayar di sini dan guru-guru adalah mereka yang menggaji. Sehingga para guru pun tidak akan sampai hati untuk mengeluarkan murid dengan tegas jika seorang murid melakukan pelanggaran. Mereka akan berfikir juga jika mereka tidak mempunyai murid, maka siapa yang akan membayar mereka?.

Pada akhirnya slogan “Wajib belajar sembilan tahun adalah hak anak-anak Indonesia”, akan dapat diubah menjadi “Pemerintah wajib memberikan pendidikan sembilan tahun kepada anak-anak Indonesia yang sudah merupakan haknya!”.

Untuk sementara hanya itu solusi yang dapat saya berikan kepada pemerintah. Saya tidak tahu dengan blog ini apakah ada yang membaca atau malah pemerintah akan membaca dan menanggapinya. Moga-moga aja sih, Pak SBY baca dan mau nolongin kita-kita ya!, amin…. Ini semua hanya berasal dari suara hati seorang pelajar yang peduli dengan nasib bangsanya yang sedang berkembang sekarang ini.

Pesan dari saya adalah, “Jangan takut pada guru jika sekolah masih memungut bayaran!” Merdeka! ! !.

6 komentar untuk “Pendidikan yang Tidak Mendidik”

    1. iya. maka dari itu pemerintah harus bekerja keras memperbanyak sekolah-sekolah negeri. karena kebanyakan yang sekolah di swasta bukan karena dari keluarga berada dan ingin sekolah yang elit, tapi karena kalah persaingan masuk sekolah negeri. akhirnya masuk sekolah swasta yang bukan yang bagus tapi keluar uang terus. padahal dengan pendidikanlah salah satu faktor kita bisa menaikkan kesejahteraan keluarga.

    1. menurut saya sebagai rakyat, itu kurikulum yang berbasis kearifan lokal dan budaya setempat. Karena tiap daerah punya keunggulannya masing-masing. jadi jangan diseragamkan. standarisasi bukan untuk penyeragaman, tapi untuk memajukan semuanya dengan karakter masing-masing.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *