Pengganti Hidup

2 Bulan kemudian

“Busyet, elu kenal di mana nih cewe secakep ini pras!” Leo menatap foto Nadia dengan kagum hingga mengangkat-angkat kaca matanya seperti tidak percaya dengan kaca matanya itu. “Ah mau tahu aja lho, rahasia perusahaan dong!” Pras dengan nada kemenangan yang meyakinkan. “Ah ini pasti elu dapetin dari messanger kan?” terka Agus yang sudah sadar setelah kekagumannya terhadap kecantikan Nadia. “Ah enggak kok,” Pras mencoba menutupi. “Udah lah, ngaku aja. Terus, ini kan foto digital, jadi bisa aja kan fotonya dipercantik pake photo soft,” Leo sambil menyerahkan foto itu kembali kepada Pras. “Iya juga sih, tapi misalnya nih foto alami, elu bakalan kita-kita angkat jadi raja playboy kota ini kalau bisa ndapetin si cantik ini!” Agus coba merebut foto itu lagi, seakan belum puas memelototi wajah itu. “Ah elu, enggak mungkin kale. Dia ini ada di Yogya, sedangkan gua, masih berkutat di Jakarta. Oh iya, pengumuman SPMB kapan?”, “Hari ini, kita lihat yuk pengumumannya di internet!” kata Leo yang segera bergegas ke pinggir jalan raya tempat warnet terdekat, Pras dan Agus mengikutinya di belakang.

Hari itu sangat cerah dan terik, udara sangat panas sekali sehingga ketika masuk ke ruang warnet yang berpendingin ruangan, perbedaan suhu itu sangat terasa. Di antara sepuluh unit komputer dalam warnet itu, sembilan di antaranya penuh dipakai oleh para calon mahasiswa yang sibuk mencari-cari nama mereka dalam daftar siswa yang lulus SPMB. “Pras, kenapa sih elu enggak pasang aja internet di rumah elu?, ortu luh kan tajir!” sindir Leo ketika mulai membuka browser internet explorer. “Ah elu yo, kalau pasang di rumah, enggak bisa bebas tahu. Gua bakalan diawasin terus mbuka apaan aja di komputer,” Pras dan Agus duduk di sebelah leo yang sedang sibuk menekan dan menggeser mouse komputer itu. Pertama kali, Leo memeriksa nomor ujiannya dan di universitas manakah Ia akan diterima. Leo diterima di ITB Bandung, Kemudian Agus diterima di Universitas Diponegoro Semarang, dan Pras yang paling jauh. Ia diterima di Universitas gajah Mada Yogyakarta. Mereka merasa senang karena telah berhasil lulus SPMB dan diterima di universitas-universitas bergengsi di republik ini. Tapi mereka sedih pula, karena harus berpisah untuk waktu yang agak lama karena berlainan kota.

Saat Leo sudah ingin mematikan browsernya, Pras mendapatkan suatu ide yang cemerlang menurutnya. “Jangan ditutup yo, pinjem sebentar!” Pras sambil mendorong Leo agar menyingkir. Leo yang agak sedikit kaget menyingkir dengan terpaksa, “Mau ngapain sih!”. Pras tidak memperdulikannya, Ia mengetikan beberapa kata sebagai key word di form. Ia mencoba mencari nama Nadia yang diterima di universitas di Yogyakarta. Memang cara yang agak bodoh setelah Ia sadari. Di sana keluar banyak sekali nama Nadia, yang di berbagai universitas. Lagi pula Ia tidak tahu nama belakang dari Nadia yang lebih menyulitkan lagi.
*

Sesampainya di rumah, Pras menyampaikan kelulusannya itu kepada orang tuanya. “Baiklah, Papa akan urus semuanya”. Hanya itu yang diucapkan oleh ayahnya dengan tanpa ada ekspresi gembira sedikitpun. Mereka kelihatannya biasa-biasa saja mendengar berita itu. Soalnya dua orang kakak-nya yang telah bekerja sebelumnya juga kuliah di universitas negeri terkenal di negara ini. Jadi hal tersebut tidak terlalu istemewa, karena Pras seharusnya juga harus mendapatkannya. Pras juga tidak merasa sedih melihat respons dari orang tuanya itu. Karena hal itu memang sudah hal yang biasa di keluarganya. Suasana di sana memang statis, penuh dengan keseriusan dan harus dapat mandiri. Ayahnya yang tegas dan Ibunya yang seorang wanita karir, membuat hubungan antara orang tua dan anak di antara mereka tidak terlalu dekat.

Pras tidak terlalu memperdulikan sikap kedua orang tuanya itu, Ia langsung saja menaiki tangga dan masuk ke kamarnya yang seperti biasa selalu berantakan. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur yang di sana berserakan pakaian-pakaian baik yang sudah bersih atau yang kotor. “Yogya, I’ll be there!”, mengucapkan kata Yogya, Pras seperti teringat akan suatu hal yang amat menyenangkan. Bukan karena Ia akan kuliah di sana atau dapat jauh dari orang tuanya, tapi Ia teringat bahwa Nadia tinggal dan kuliah di Yogya, Sehingga kemungkinan Ia dapat bertemu atau yang lebih beruntung lagi, satu kampus dengan si cantik itu.

Satu bulan telah berlalu sejak pengumuman hasil SPMB. Ayah Pras telah mengurus semua administrasi untuk masuk ke universitas itu. Kamar yang selama ini biasanya seperti kapal pecah, sekarang sudah rapi dan agak lengang. Semua buku-buku dan pakaian sudah tersimpan rapi dalam rak dan lemari. Poster-poster sepakbola dan gambar artis-artis sexy sudah dilipat dan disimpannya dalam lemari. Barang-barang kecil yang dapat dibawa dimasukan ke dalam tas bawaannya untuk kenang-kenangan dan pajangan di kamar kostnya nanti, sedangkan yang tidak terbawa Ia sembunyikan di tempat yang aman agar tidak diambil oleh para keponakannya yang nakal-nakal itu. Komputer juga telah Ia proteksi dengan password-password di setiap usernya dan untuk perlindungan lebih canggih, kabel data yang ke hardisk Ia cabut agar tidak ada orang yang mengacak-acak file-filenya. “Ah semuanya sudah beres, enggak ada seorang pun yang boleh nikmatin nih kamar selain gua!” bisiknya sembari melangkah keluar kamar menuju ke ruang keluarga.

Di sana orang tuanya sudah menunggu. Tapi sebenarnya Ia juga tidak yakin apakah mereka akan sedih melepaskan dirinya, atau malah senang karena tidak harus mengurusi dirinya lagi. Ia rasa adalah opsi kedua yang tepat. “Pa, Ma, saya berangkat dulu ya,” kata Pras memeluk Ayahnya. “Iya, papa dan mama akan selalu mendo’akan mu”, “Hati-hati ya nak di sana” kata Ibu memeluknya. Tak ada tangisan perpisahan atau kehangatan pada adegan itu seperti yang di sinetron. Semuanya terasa hambar dan biasa saja. Pras mempercepat langkahnya untuk keluar rumah dan menuju ke jalan raya terdekat. Tak ada lagi orang yang harus dia pamiti di kota ini. Sobat karibnya Leo dan Agus, sudah berangkat satu minggu yang lalu. Ia dan mereka sama, harus ke stasiun untuk naik kereta. Sebenarnya Ia ditawari ayahnya untuk lewat jalur udara saja, tapi Ia menolaknya dengan dalih jika naik pesawat terlalu cepat sampainya dan tidak bisa menikmati perjalanan. Sebagai kompensasinya, uang tersebut Ia minta sebagai penambah uang saku selama di sana. “Kan lumayan bisa buat senang-senang!” soraknya dalam hati.

Di dalam kereta, Ia mengambil salah satu tempat duduk di posisi belakang gerbong. Ia langsung tertidur di kursinya, karena semalaman Ia tidak tidur untuk membereskan kamarnya yang sudah sangat parah itu. Ia tidak mengkhawatirkan akan barang-barangnya, dengan bawaannya yang hanya satu tas jinjing dan tas punggung, serta tampangnya yang tidak meyakinkan dengan hanya pakai kaos serta sepatu sendal, Ia tidak perlu khawatir akan copet yang biasanya banyak di kereta. Pras walau orang-tuanya kaya, tapi Ia tidak suka memperlihatkannya kepada orang lain dan Ia menganggap bahwa kekayaan itu adalah milik orang tuanya, bukan dari hasil jirih payah dirinya sendiri.

Tidak terasa setengah hari perjalanan mengantarkannya pada tujuannya. Seorang Ibu-ibu yang membawa anak kecil membangunkannya bahwa kereta sudah tiba. “Wah gila, gua tidur pasti pulas banget. Itu anak pasti sedari tadi nangis, tapi gua enggak terbangun sedikit pun!” fikirnya sambil mengumpulkan kesadaran. Ia melangkahkan kakinya di Stasiun Solo Balapan pada kira-kira pukul 05:00 Pagi. Ini memang bukan stasiun di Yogya, Ia bermaksud untuk transit dan main dulu di rumah kakek neneknya yang letaknya tidak jauh dari stasiun ini. Suasana di sekitar stasiun itu sudah mulai ramai. Ini memang ukuran waktu yang cukup siang untuk para pedagang yang belum melakukan aktifitasnya. Ia naik becak menuju rumah mbahnya, dan sedikit memberikan surprise pada dua orang di keluarganya yang paling dekat dan Ia sayangi itu.

Dua minggu Ia menginap di rumah yang masih sangat tradisional itu. Dengan menggunakan bus Ia langsung menuju ke kota Yogyakarta sekarang. Masih ada waktu satu minggu lagi sebelum tahun ajaran baru dimulai. Setelah satu jam perjalanan, bis itu mengerem mendadak di daerah ingin mendekati pusat kota Yogya. Pras yang sudah mengantuk, kepalanya terantuk kursi di depannya dan mengumpat-umpat dengan suara yang tidak dikeraskan. Mata Pras dan mungkin seluruh penumpang yang kaget langsung mengarah ke pintu bis. Sesaat kemudian, seorang perempuan berkerudung cantik yang membawa tas jinjing berjalan di dalam bis mencari-cari kursi yang masih kosong. Ia berhenti ketika melangkah di sebelah kursi yang sedang diduduki Pras. Ia berharap perempuan cantik itu mau duduk disebelahnya. Tapi seperti yang sudah diterkanya, Perempuan itu lebih memilih duduk di seberang kursinya di sebelah seorang Ibu tua. Tidak ada orang-orang yang marah-marah atas kejadian tadi. Mereka seperti terbius dengan kecantikan perempuan itu. Atau mungkin karena adat orang Jawa yang selalu menyimpan kemarahan yang mereka rasakan, sehingga menumpuk menjadi sesuatu yang tidak terkontrol nantinya.

4 komentar untuk “Pengganti Hidup”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *