PERANG KEPENTINGAN METRO TV- TV ONE

Hegemoni Media dan Kekuasaan

Dalam pandangan mazhab kritis, terutama dalam studi-studi yang dikembangkan oleh Centre for Contemporary Cultural studies, Birmingham University, media massa selalu dirasakan sebagai alat yang “powerfull” dan ada ideologi dominan di dalamnya. Hal ini yang disebut oleh para penggiat Cultural studies sebagai hegemoni media. Teori hegemoni ini dicetuskan oleh Gramsci yang merujuk pada kekuasaan dan praktis. Hegemoni merujuk pada upaya pelanggengan kekuasaan yang dilakukan oleh kelompok yang berkuasa. Di sini, institusi media memberikan sebuah fungsi hegemoni yang secara terus menerus memproduksi sebuah ideologi yang kohesif (ideologi yang meresap), satu perangkat nilai-nilai common-sense dan norma norma yang memproduksi dan mengesahkan dominasi struktur sosial tertentu yang mana kelas–kelas sub-ordinasi berpartisipasi di dalam dominasi mereka itu. Bahkan lebih lanjut, Gitlin mendefenisikan hegemoni sebagai “rekayasa sistematik” kepatuhan massa untuk memapankan kekuasaan kelompok yang berkuasa.

Stuart Hall berpendapat Media massa cenderung mengukuhkan ideologi dominan untuk menancapkan kuku kekuasaannya melaui Hegemoni. Melalui media massa juga menyediakan frame work bagi berkembangnya budaya massa. Melalui media massa pula kelompok dominan terus-menerus menggerogoti, melemahkan dan meniadakan potensi tanding dari pihak-pihak yang dikuasainya. Sedangkan menurut Mc. Luhan seorang pengkritik media ia mengatakan Media massa bukan hanya sebagai media pengirim pesan tapi juga mempengaruhi nilai-nilai budaya dan membuat stereotype mengenai gender, ras dan etnik, memiliki kontribusi terhadap pengalaman komunikasi dan bisa saja memonopoli dunia pemikiran seseorang.

Oleh karena itu, selama media masih dikuasai oleh ideologi dominan, mereka akan menggambarkan kelompok oposisi sebagai kaum marginal. bagi Hall dan koleganya, interpretasi teks media selalu muncul di dalam suatu pertarungan dari kontrol ideologis. Ronald Lembo dan Kenneth Tucker menggambarkan proses tersebut sebagai “arena kompetisi di mana individu atau kelompok mengekspresikan kepentingan yang berlawanan.[1]

Hegemoni media ini di Indonesia pernah dipraktikan semasa pemerintahan orde baru. Oleh pemerintah, media massa dijadikan sebagai alat propaganda dan pencitraan pemerintah. Sebelum tahun 1990-an, televisi di Indonesia hanya ada satu. Yaitu Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang dikelola oleh pemerintah. Seluruh pemberitaan yang ada diawasi oleh pemerintah. Tak ada kritik atau pemberitaan yang menyudutkan pemerintah saat itu. Semua dianggap baik-baik saja demi itikat untuk menjaga stabilitas dan keamanan nasional.

Sebaliknya, untuk media swasta, seperti koran dan majalah, memerlukan izin yang amat ketat untuk dapat terbit di Indonesia. Tiap ada media yang isi pemberitaannya dianggap suversif atau membahayakan posisi pemerintah, segera media itu akan dibredel, dan pemimpin atau pengurusnya terancam dijebloskan ke penjara. Oleh karena itu, meski media swasta, saat itu mayoritas media massa hanya memberitakan hal-hal yang disetujui saja oleh pemerintah.

Dari sini, terlihat bagaimana media massa benar-benar dimanfaatkan sebagai alat hegemoni rezim yang sedang berkuasa. Dengan isi pemberitaan yang diawasi ketat, masyarakat dibuat percaya bahwa keadaan di Indonesia adalah benar-benar stabil. Tak ada korupsi, penyelewengan, atau hal-hal yang mendiskreditkan pemerintah. Pemerintah, khususnya eksekutif, benar-benar memiliki posisi yang kuat. Sehingga di era reformasi ini, masih kerap ditemui ada masyarakat yang selalu beranggapan bahwa masa orde baru itu lebih baik dari era reformasi. Harga-harga murah, keamanan terjamin, dan sebagainya. Tak lain, konsepsi yang tertanam di mayoritas masyarakat ini adalah hasil dari hegemoni media yang berhasil dilancarkan eksekutif orde baru.

14 komentar untuk “PERANG KEPENTINGAN METRO TV- TV ONE”

  1. Terimakasih artikelnya sangat bagus sekali.
    Jangan lupa untuk mengunjungi website kami di http://www.agungdrumband.com/ . Kami menyediakan semua perlengkapan dan atribut drumband, serta seragam kerja yang berkualitas dan terpercaya.
    Untuk Pemesanan dan Konsultasi anda dapat menghubungi Kami di : 081915520051. Atau Konsultasi Langsung dengan Kami di TOYO KONVEKSI di : Jl. Godean Km 8,5 No. 127 Godean, Sleman Yogyakarta.

  2. Pada dasarnya semua media pasti mempunyai kepentingan, entah kepentingan baik atau kepentingan buruk, yang pasti mereka punya visi, kita sebagai penonton emang harus jeli melihat itu.

    Ada juga yang menarik pernah dikatakan PemRed TEMPO, mas Arif. Beliau bilang media gak boleh netral, bisa dibayangkan jika media bersikap netral untuk semua pemberitaan, kasus -kasus seperti nenek yang mencuri beberapa potong kayu pasti tidak akan mendapat simpati, karena dengan pemberitaan netral mencuri adalah salah. Media tidak boleh netral dan harus menjadi pengawas, melihat kebenaran dan memberitakannya.

    1. Jika menurut saya, fokus ada pada edukasi ke masyarakat. Tak apa jika media-media bertindak partisan, asal masyarakat memiliki tingkat melek media yang baik. apabila media dibuat netral semua, maka perspektif akan homogen. Persaingan perspektif yang dilakukan antar media membuat wawasan publik makin terbuka. Tinggal bagaimana publik yang cerdas dapat memilah dan memilih informasi yang diperlukan dan membiarkan yang tidak diperlukan.

  3. Metro TV dan TV One adalah 2 media tv yg saya sukai dan menjadi referensi saya dlm menonton berita2 terbaru, tp cukup miris jg melihat jika media mereka terlalu didominasi oleh kampanya politik. untuk itu Saya berkeyakinan untuk tidak memilih capres yg punya media TV.

  4. baik disadari atau tidak, semua hal itu ujung-ujungnya adalah kepentingan ekonomis. Media hidup dari iklan dan iklan ada karena adanya pemirsa tetap. UNtuk mendapatkan pemirsa, kontroversi harus sering dibuat

  5. Mungkin bisa benar yang anda katakan Ibu. Namun pendapat-pendapat Ibu jika boleh saya katakan masih bersifat spekulasi. Hal-hal tersebut sudah seperti rahasia umum di kalangan masyarakat kita. Apa yang dapat kita lakukan adalah berbuah yang terbaik daripada mempersoalkan masalah rasial atau etnis. 🙂

  6. Tak sepenuhnya perang juga, anda bolehs etuju dan boleh tidak, tapi hanya untuk bersaing memenangkan lebih banyak iklan mengeruk untung sebsar-besarnya, melalui permainan perasaan rakyat, agar kupa lapar, serta semakin bodoh dan tolol. Pemanang itu adalah bangsa “kulit putih”. Semua telah dikuasasi mereka sejak lama. Maka pejabat-pejabat hanya mainan mereka, KKN mereka, inilah yang berujung pada mafia kekuasaan. Belanda dulu pun memanfaatkan “kulit putih” negeri ini. Tapi di zaman Wiranto dan Prabowo masih aktif, “etnis putih” dijarah dan dibakar dimana-maa, dan di bawah SBY etnis ulet tapi mayoritas mereka curang dan licik dalam permainan hidup ini, kini aman karena SBY. TV-TV itu pun milik mereka. TV-TV itu seolah-olah membela rakyat dan hendak mengajak menjatuhkan rezim saat ini, pemerintah SBY, tapi ternyata tidak juga. Jadi tv-tv itu tidak jelas membela kejuangan rakyat tetapi cari untung belaka. Maklum di balik itu adalah orang “kulit putih”, dengan kuli-kuli kaum intelektual kita yang susah hidup dan akhirnya terbeli dengan beberapa juta rupiah, dan tidak punya nyali dalam mengungkap kebenaran, malas, dan tidak jelas. Kalau kebakaran tangki Pertamina Cilacap jelas bukan pengalihan isu, tapi kecerobohan. Tapi kalau berbagai berita mulai sidang pengadilan fitnah teroris terhadap tersangka teroris ustaz Abu Bakar Ba’asyir, bom-bom buku, perebutan ketua PSSI yang dibesar-besarkan, hingga tersangka penipu Selli dan tersangka karyawati korup Citibank, Melinda, juga bukan hanya pengalihan isu, tetapi dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya mengalihkan banyak isu. Utamanya soal skandal bank century, yang sebagian uangnya digunakan jelas untuk pemenangan SBY pada pemilu 2009. Tujuannya agar perhatian masyarakat tidak terpaku pada masalah-masalah yang tidak dilaksanakan pemerintah dalam membangun bangsa, dan agar dua media besar negeri ini, MetroTv adn TVOne, utamanya, sibuk memberitakan tetek-bengek itu. Sebab Indonesia diperkirakan akan mengalami seperti Tunisia, Mesir dan Libia, karena tidak mampu menciptakan harga-harga murah dan lapangan kerja buat rakyat. Juga isu santer bahwa SBY mungkin tidak bisa bertahan hingga 2014. Pola-pola seperti ini biasa dilakukan di masa lalu. Satu contoh bahkan di masa Sukarno saja, kelompok musik mengklaim dibayar Sukarno agar mau masuk penjara dengan isu musik ngak-ngik-ngoknya, akibat tekanan publik. Di masa Pak Harto lebih banyak dan lagi kejam. Tak perlu dirinci di sini. SBY juga melakukan hal sama meskipun terlihat seolah-olah tidak kejam terhadap rakyat. Tapi menyengsarakan rakyat banyak apa tidak kejam? Tapi pesaing-pesaing atau komponen-komponen SBY yang kini di luar kekuasaan juga sepertinya pengecut, dan beraninya hanya bicara atau sedikit memprovokasi dan tidak berani bertindak terang dan sistematis melengserkan SBY, meski situasi negeri ini sudah parah begini. Padahal oposisi-oposisi di Tunisia, Mesir dan Libia sangat canggih dalam menggerakkan dan memicu unjuk rasa besar efektif melengserkan. Ini bukan soal 2 tahun, 30 tahun, 40 tahun orang berkuasa, tetapi soal rakyat yang semakin dibuat lapar dan ketidak adilan serta korupsi semakin bebas lepas.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *