PERANG KEPENTINGAN METRO TV- TV ONE

Persaingan antara Metro TV dan TV One

Saat ini, Metro TV dan TV One adalah dua stasiun TV terdepan di Indonesia dalam penyajian berita. Dua stasiun tersebut menitikberatkan publikasinya pada konten berita. Meski Metro TV sudah berdiri sejak tahun 2000 dan secara konsisten menayangkan konten berita, TV One yang sejak tahun 2008 berubah nama dari La TV, merupakan pesaing yang cukup kuat. Dengan sajian acara yang cukup kreatif, TV One mendapatkan porsi tersendiri di hati masyarakat. Ketika ingin melihat berita terkini, jika bukan Metro TV, ya TV One jadi pilihannya.

Selama masa kampanye 2009, antara Metro TV dan TV One terjalin hubungan yang baik. Mengingat bahwa Surya Paloh dan Abu Rizal Bakrie sama-sama kader partai Golkar, mereka sepakat untuk saling mendukung agar partai mereka mendapat suara sebanyak-banyaknya di Pemilu 2009. Namun, sejak pemilihan ketua umum Partai Golkar yang baru untuk menggantikan Jusuf Kala Oktober 2009, mulai terjadi persaingan antar kedua pengusaha tersebut.

Terpilihnya Abu Rizal Bakrie atau Ical sebagai ketua umum Partai Golkar, seakan menabuh genderang perang antar Surya Paloh dan dirinya. Pertarungan antar media milik mereka berdua pun dimulai. Hal ini terlihat di antaranya pada kasus Lapindo. Pada pemberitaan yang diterbitkan Media Group (termasuk di dalamnya Metro TV dan harian Media Indonesia), kasus tersebut selalu disebutkan dengan istilah “lumpur Lapindo”. Penggunaan kata tersebut tak lain adalah untuk memberikan penekanan bahwa bencana itu tertitik berat pada human error perusahaan Lapindo Brantas milik Bakrie Group. Gencar sekali pemberitaan mengenai ini dan terus menonjolkan peran perusahaan Lapindo sebagai “penyebab bencana”.

Sedangkan di TV One, pemberitaan masalah ini dilakukan dengan lebih hati-hati. Media ini seakan-akan ingin mati-matian membela pemiliknya. Seperti dalam penggunaan istilah. Pada kasus yang sama, TV One menyebutnya sebagai “lumpur Sidoharjo”. Bukannya mengangkat nama Lapindo yang merupakan salah satu anak perusahaan Bakrie Group. Mereka ingin memberikan kesan bahwa itu adalah bencana alam dan bukan karena kesalahan sebuah perusahaan yang bernama Lapindo tersebut. Lebih jauh, TV One pun acap kali menggunakan pandangan seorang ahli yang mengungkapkan hubungan antar gempa di Yogyakarta tahun 2005 dengan semburan lumpur di Sidoharjo tersebut.

Dalam kasus foto mirip Gayus yang tertangkap kamera sedang menonton pertandingan Tennis di Bali akhir tahun 2010 kemarin pun kedua media tersebut memiliki sudut pandang yang berbeda. Pada kasus tersebut, disebut-sebut Gayus hendak menemui Abu Rizal Bakrie yang kebetulan sedang berada di Bali hari itu. Oleh Metro TV, selalu diungkapkan istilah foto mirip Gayus dan dugaan-dugaan bahwa pada saat yang sama, Ical berada pula untuk menonton pertandingan itu di sana. Sedangkan oleh TV One, kekuataan berita bahwa foto tersebut benarlah Gayus coba dilemahkan dengan menyebutkan bahwa fotografer Kompas yang mengambil gambar-gambar tersebut bukanlah wartawan yang biasa meliput berita-berita politik. Oleh TV One, hal tersebut dijadikan strategi agar pemirsa tidak terbawa opininya bahwa orang yang ada di foto tersebut benar-benar Gayus Tambunan. Selain itu, TV One pun tak mau menduga-duga apakah benar Gayus bermaksud untuk menemui Abu Rizal Bakrie di sana. Oleh Vinsencius Sitepu (2010)[2], diangkat bagaimana TV One malah mempertanyakan mengapa untuk menemui Ical, Gayus perlu jauh-jauh ke Bali? Sedangkan percakapan bisa dilakukan di Jakarta atau telepon.

Penutup

Hegemoni media pada media massa di Indonesia tak terlepas dari tujuan politik dan kepentingan tertentu. Apabila semasa Orde Baru media massa digunakan sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan pemerintah, di era reformasi ini media massa dipegang oleh konglomerasi swasta yang memiliki tujuan yang lebih kompleks. Selain didasari oleh faktor ekonomis, untuk efisiensi dan keuntungan yang maksimal, media massa digunakan pula sebagai pemulus kendaraan politik ke posisi tertentu.

Dalam maksud ini, ada usaha melalui media massa yang dimiliki, untuk membangun opini di masyarakat, yang kemudian akan berdampak balik pada pemenuhan kebutuhan politisnya. Seperti bias dalam pemberitaan sebuah peristiwa, hal tersebut riskan disisipi kepentingan tertentu yang kemudian mendapatkan tanggapan dari masyarakat apakah pro atau kontra.

Seperti apa yang terjadi antara Metro TV dan TV One dalam pemberitaannya. Sesama televisi yang titik utama program-programnya adalah news atau berita, kedua media tersebut memiliki tendensitas berbeda yang disesuaikan dengan kepemilikan masing-masing. Tiap media berusaha melindungi dan mengedepankan tokoh yang berada di belakangnya melalui pemberitaan-pemberitaan yang diatur sedemikian rupa sudut pandangnya untuk kemudian  disajikan ke masyarakat.

Oleh karena itu, sebagai masyarakat, perlu jeli dalam melihat berita atau wacana yang disajikan oleh media massa. Mengingat fakta bahwa media – media massa nasional Indonesia tengah dikuasai oleh para konglomerat media, konten berita yang disajikan tak dapat ditelan mentah-mentah begitu saja.

Daftar Referensi

“Kepemilikan Media dan Bias Berita”. http://vinsensius.info/?p=255 [Senin, 27 Desember 2010 pukul 08:00 WIB]

“Konglomerasi Media Massa sebagai Ajang Hegemoni Pembentukan Opini Publik”. http://pangerankatak.blogspot.com/2008/04/konglomerasi-media-massa-sebagai-ajang.html [Senin, 27 Desember 2010 pukul 09:00 WIB]

“Komunikasi Politik” http://setabasri01.blogspot.com/2009/02/komunikasi-politik.html [Senin, 27 Desember 2010 pukul 09:30 WIB]

“Perang Representasi di Isu Gayus-Ical”. http://vinsensius.info/?p=56 [Senin, 27 Desember 2010 pukul 09:45 WIB]

“Mengerucutnya Kepemilikan Media Televisi di Indonesia”. http://nurulwibawacahya.blogspot.com/2007/01/mengerucutnya-kepemilikan-media.html [Senin, 27 Desember 2010 pukul 10:00 WIB]

“Konsep Hegemoni”. http://veggy.wetpaint.com/page/Konsep+Hegemoni [Senin, 27 Desember 2010 pukul 10:15 WIB]

“Media di Indonesia, Intervensi Modal, Kepemilikan, dan Regulasi dalam Pemberitaannya”. http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2010/06/16/media-di-indonesia-intervensi-modal-dan-kepemilikan-dalam-regulasi-dan-pemberitaannya/ [Senin, 27 Desember 2010 pukul 11:00 WIB]

“Konglomerasi Media, Kepemilikan Silang, Pemicu Monopoli Pemberitaan”. http://qnoyzone.blogdetik.com/index.php/2010/09/22/opini-konglomerasi-media-kepemilikan-silang-pemicu-monopoli-pemberitaan/ [Senin, 27 Desember 2010 pukul 11:30 WIB]

“Pentingnya Regulasi terhadap Monopoli dan Konglomerasi Media”. http://bincangmedia.wordpress.com/2010/05/31/pentingnya-regulasi-atas-konglomerasi-dan-monopoli-kepemilikian-media/ [Senin, 27 Desember 2010 pukul 12:00 WIB]

“TV One”. http://id.wikipedia.org/wiki/TvOne [Senin, 27 Desember 2010 pukul 13:00 WIB]

“Metro TV”. http://id.wikipedia.org/wiki/MetroTV [Senin, 27 Desember 2010 pukul 13:00 WIB]

“Globalisasi 3.0”. https://rahard.wordpress.com/2005/12/27/globalisasi-30/ [Senin, 27 Desember 2010 pukul 15:00 WIB]


[1] Teori dan konsep ini dikutip dari http://pangerankatak.blogspot.com/2008/04/konglomerasi-media-massa-sebagai-ajang.html [Senin, 27 Desember 2010 pukul 08:00 WIB]

[2] Lihat blog pribadinya di http://vinsensius.info/?p=56

14 komentar untuk “PERANG KEPENTINGAN METRO TV- TV ONE”

  1. Terimakasih artikelnya sangat bagus sekali.
    Jangan lupa untuk mengunjungi website kami di http://www.agungdrumband.com/ . Kami menyediakan semua perlengkapan dan atribut drumband, serta seragam kerja yang berkualitas dan terpercaya.
    Untuk Pemesanan dan Konsultasi anda dapat menghubungi Kami di : 081915520051. Atau Konsultasi Langsung dengan Kami di TOYO KONVEKSI di : Jl. Godean Km 8,5 No. 127 Godean, Sleman Yogyakarta.

  2. Pada dasarnya semua media pasti mempunyai kepentingan, entah kepentingan baik atau kepentingan buruk, yang pasti mereka punya visi, kita sebagai penonton emang harus jeli melihat itu.

    Ada juga yang menarik pernah dikatakan PemRed TEMPO, mas Arif. Beliau bilang media gak boleh netral, bisa dibayangkan jika media bersikap netral untuk semua pemberitaan, kasus -kasus seperti nenek yang mencuri beberapa potong kayu pasti tidak akan mendapat simpati, karena dengan pemberitaan netral mencuri adalah salah. Media tidak boleh netral dan harus menjadi pengawas, melihat kebenaran dan memberitakannya.

    1. Jika menurut saya, fokus ada pada edukasi ke masyarakat. Tak apa jika media-media bertindak partisan, asal masyarakat memiliki tingkat melek media yang baik. apabila media dibuat netral semua, maka perspektif akan homogen. Persaingan perspektif yang dilakukan antar media membuat wawasan publik makin terbuka. Tinggal bagaimana publik yang cerdas dapat memilah dan memilih informasi yang diperlukan dan membiarkan yang tidak diperlukan.

  3. Metro TV dan TV One adalah 2 media tv yg saya sukai dan menjadi referensi saya dlm menonton berita2 terbaru, tp cukup miris jg melihat jika media mereka terlalu didominasi oleh kampanya politik. untuk itu Saya berkeyakinan untuk tidak memilih capres yg punya media TV.

  4. baik disadari atau tidak, semua hal itu ujung-ujungnya adalah kepentingan ekonomis. Media hidup dari iklan dan iklan ada karena adanya pemirsa tetap. UNtuk mendapatkan pemirsa, kontroversi harus sering dibuat

  5. Mungkin bisa benar yang anda katakan Ibu. Namun pendapat-pendapat Ibu jika boleh saya katakan masih bersifat spekulasi. Hal-hal tersebut sudah seperti rahasia umum di kalangan masyarakat kita. Apa yang dapat kita lakukan adalah berbuah yang terbaik daripada mempersoalkan masalah rasial atau etnis. 🙂

  6. Tak sepenuhnya perang juga, anda bolehs etuju dan boleh tidak, tapi hanya untuk bersaing memenangkan lebih banyak iklan mengeruk untung sebsar-besarnya, melalui permainan perasaan rakyat, agar kupa lapar, serta semakin bodoh dan tolol. Pemanang itu adalah bangsa “kulit putih”. Semua telah dikuasasi mereka sejak lama. Maka pejabat-pejabat hanya mainan mereka, KKN mereka, inilah yang berujung pada mafia kekuasaan. Belanda dulu pun memanfaatkan “kulit putih” negeri ini. Tapi di zaman Wiranto dan Prabowo masih aktif, “etnis putih” dijarah dan dibakar dimana-maa, dan di bawah SBY etnis ulet tapi mayoritas mereka curang dan licik dalam permainan hidup ini, kini aman karena SBY. TV-TV itu pun milik mereka. TV-TV itu seolah-olah membela rakyat dan hendak mengajak menjatuhkan rezim saat ini, pemerintah SBY, tapi ternyata tidak juga. Jadi tv-tv itu tidak jelas membela kejuangan rakyat tetapi cari untung belaka. Maklum di balik itu adalah orang “kulit putih”, dengan kuli-kuli kaum intelektual kita yang susah hidup dan akhirnya terbeli dengan beberapa juta rupiah, dan tidak punya nyali dalam mengungkap kebenaran, malas, dan tidak jelas. Kalau kebakaran tangki Pertamina Cilacap jelas bukan pengalihan isu, tapi kecerobohan. Tapi kalau berbagai berita mulai sidang pengadilan fitnah teroris terhadap tersangka teroris ustaz Abu Bakar Ba’asyir, bom-bom buku, perebutan ketua PSSI yang dibesar-besarkan, hingga tersangka penipu Selli dan tersangka karyawati korup Citibank, Melinda, juga bukan hanya pengalihan isu, tetapi dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya mengalihkan banyak isu. Utamanya soal skandal bank century, yang sebagian uangnya digunakan jelas untuk pemenangan SBY pada pemilu 2009. Tujuannya agar perhatian masyarakat tidak terpaku pada masalah-masalah yang tidak dilaksanakan pemerintah dalam membangun bangsa, dan agar dua media besar negeri ini, MetroTv adn TVOne, utamanya, sibuk memberitakan tetek-bengek itu. Sebab Indonesia diperkirakan akan mengalami seperti Tunisia, Mesir dan Libia, karena tidak mampu menciptakan harga-harga murah dan lapangan kerja buat rakyat. Juga isu santer bahwa SBY mungkin tidak bisa bertahan hingga 2014. Pola-pola seperti ini biasa dilakukan di masa lalu. Satu contoh bahkan di masa Sukarno saja, kelompok musik mengklaim dibayar Sukarno agar mau masuk penjara dengan isu musik ngak-ngik-ngoknya, akibat tekanan publik. Di masa Pak Harto lebih banyak dan lagi kejam. Tak perlu dirinci di sini. SBY juga melakukan hal sama meskipun terlihat seolah-olah tidak kejam terhadap rakyat. Tapi menyengsarakan rakyat banyak apa tidak kejam? Tapi pesaing-pesaing atau komponen-komponen SBY yang kini di luar kekuasaan juga sepertinya pengecut, dan beraninya hanya bicara atau sedikit memprovokasi dan tidak berani bertindak terang dan sistematis melengserkan SBY, meski situasi negeri ini sudah parah begini. Padahal oposisi-oposisi di Tunisia, Mesir dan Libia sangat canggih dalam menggerakkan dan memicu unjuk rasa besar efektif melengserkan. Ini bukan soal 2 tahun, 30 tahun, 40 tahun orang berkuasa, tetapi soal rakyat yang semakin dibuat lapar dan ketidak adilan serta korupsi semakin bebas lepas.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *