Perihal Pernikahan di Amerika Serikat

Beda halnya dengan sekarang, masyarakat moderen menganggap perceraian sesuatu yang wajar. Jika salah seorang atau kedua pasangan merasa tidak puas dengan pasangatnnya, mereka boleh mengajukan cerai. Seseorang yang bercerai, juga tidak akan dikucilkan dalam masyarakat. Mereka tetap diterima, dan dapat menjalani kehidupan dengan normal. Pasangan yang habis bercerai, bisa dengan mudah pula mencari pasangan baru. Tak perlu langsung dengan jalan pernikahan, untuk mendapatkan kesenangan, mereka bisa memenuhi kebutuhan seksualnya secara komersial, atau sukarela dengan partner yang sama suka. Pada awalnya, mungkin mereka merasa bersalah dengan anak-anak, tapi karena lingkungan tidak melarang, maka perceraian bukan sesuatu yang perlu dimasalahkan lagi.

Perihal peranan wanita sebagai ibu rumah tangga yang mengurus rumah dan anak, sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan untuk melarang mereka mengembangkan potensi. Mereka juga dapat bekerja di luar, asalkan tetap meluangkan waktu bagi keluarga. Yang lebih baik lagi, jika mereka mengambil pekerjaan yang dapat dilakukan sebagai sampingan di rumah. Di era konputerisasi ini, banyak pekerjaan yang bisa dilakukan melalui komputer dan internet. Dengan pekerjaan tersebut, kaum wanita selain bisa tetap berkarir, tugas untuk merawat rumah dan anak serta suami tidak terabaikan.

Menurut esensinya, pernikahan itu adalah sebuah komitmen dari tiap pasangan. Tidak hanya saling memberi dan menerima sesama pasangan. Karena kita tahu, bahwa tak ada seseorang yang mampu mencukupi kemauan dan kebutuhan seseorang. Semua itu lebih kepada janji jangka panjang, yang sudah diserahkan segalanya mengenai kebebasan, kesenangan, dan keinginan individu untuk menjadi kebahagiaan bersama.

Dalam pasangan muda yang sudah hidup bersama tetapi tidak menikah, mereka mendasari hubungan mereka atas komitmen. Mereka berkomitmen untuk selalu bersama dan berbagi segalanya, walaupun tidak menikah. Kemudian jika ada kesalahan dalam komitmen mereka, maka mereka akan selesaikan hubungan tanpa ada apa-apa. Tetapi hubungan itu tidak sesederhana seperti itu. Pernikahan adalah sesuatu yang bisa dibanggakan, sesuatu yang harus dipertahankan, berhubungan dengan darah dan pengorbanan, untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki di mata Tuhan.

Menurut saya, esensi pernikahan di Amerika Serikat sudah sangat berubah sejak dekade tahun 1950. Dari masa yang menganggap pernikahan itu sebagai sesuatu yang sakral dan cita-cita, bergeser menjadi sesuatu yang hanya untuk memuaskan kebutuhan sex tiap pasangan. Pengertian cinta sendiri sudah dibuat sesederhana mungkin. Sehingga dianggap sesuatu yang biasa untuk menikah dan kemudian bercerai.

Trend tersebut ikut menyebar seiring era globalisasi. Penyebaran kebudayaan melalui media-media seperti internet dan film-film hollywood, memberikan gambaran keadaan yang terjadi di Amerika Serikat. Banyak anak muda di negara-negara berkembang seperti Indonesia yang meniru trend tersebut. Walaupun masih terdapat di sedikit masyarakat kota saja, tetapi hal ini sudah sangat mengkhawatirkan bagi kebudayaan timur. Angka perceraian di masyarakat Indonesia juga cukup tinggi. Hal ini sangat terlihat yaitu di kalangan artis yang sering muncul beritanya di program-program infoteiment.

Penyerapan kebudayaan ini adalah sesuatu yang salah. Masyarakat kita tidak melihat bahwa saat tahun 1950, ada kondisi keluarga yang mirip dengan seharusnya keluarga di budaya ketimuran. Kita menganggap, sesuatu yang kelihatannya moderen dan berasal dari barat, adalah sesuatu yang keren dan patut untuk ditiru. Oleh karena itu, dibutuhkan selektifitas dalam mengadopsi suatu kebudayaan, jangan mentah-mentah diserap kebudayaan yang belum tentu sesuai.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *