Publikasi

Kumpulan tulisan Dimas Prasetyo Muharam yang diterbitkan di media atau jurnal

Menjadikan Huruf Braille Naik Kelas di Era Digital

“Apa benar bahwa huruf Braille akan punah di era digital ini?”   Desrupsi menjangkau ke banyak hal di era digital. Orang yang dulu berbelanja di pasar dan toko, kini cukup melalui sentuhan jari di layar smartphone dan barang akan diantar ke rumah oleh kurir dari e-commerce terpercaya. Hal serupa terjadi di literasi. Dulu orang berpenglihatan …

Menjadikan Huruf Braille Naik Kelas di Era Digital Selengkapnya »

New Media Aksi Sosial Disabilitas

“Siapa menguasai informasi akan menguasai dunia”. Mungkin pernyataan itu tidak berlebihan melihat fakta yang terjadi saat ini. Perkembangan teknologi informasi yang telah memasuki sendi-sendi kehidupan manusia punya kekuatan besar untuk mengarahkan opini masyarakat. Masih lekang dalam ingatan kasus Ibu Prita yang dituduh telah mencemarkan nama baik rumah sakit OMNI International yang akhirnya bebas karena mendapat dukungan kuat dari publik. Ada pula Deponering kasus kriminalisasi KPK pada Bibit Candra yang didukung oleh publik dengan gerakan Cicak vs Buaya.

Teknologi, Peretas Batas Disabilitas

Perkembangan teknologi informasi merambah berbagai sendi kehidupan manusia. Anak peradaban ini telah banyak mempermudah kegiatan manusia, terutama di bidang komunikasi. Interaksi jarak jauh yang dahulu mahal dan sulit, tak menjadi kendala lagi di era modern. Perkembangan alat-alat telekomunikasi seperti radio, televisi, ponsel, komputer, dan internet telah mampu menjawab persoalan tersebut.

Meraba Gema Braille di Dunia Maya

Braille telah lekat dengan kehidupan seorang tunanetra. Aksara yang terbentuk dari kombinasi enam titik itu menjelma dalam diri tunanetra sebagai sebuah identitas. Majalah Gema Braille, jadi salah satu representasi dari identitas tersebut. Merefleksikan sebuah semangat dan hasrat tunanetra untuk terus menggali ilmu dan pengetahuan di tengah-tengah zaman yang terus berubah.

Memangkas Dahan Radikalisme

Proses bangsa ini menjadi Negara kesatuan bagaikan mukjizat dari Tuhan. Bagaimana tidak, ratusan suku bangsa dan bahasa yang tersebar dari penjuru Sabang sampai Merauke dapat berkonvensi untuk terbentuknya sebuah entitas bernama Indonesia. Perbedaan yang ada bukan menjadi pembeda. Melainkan kekayaan bangsa yang terjalin dalam naungan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Krisis KPK dan Budaya Korupsi

Kata korupsi terasa sangat akrab di telinga kita. Saking akrabnya, Indonesia saat ini masih menempati posisi lima besar negara terkorup di Asia. Mengenaskan memang, namun itu kenyataannya. Terminologi yang secara sederhana dapat didefinisikan sebagai kegiatan memperkaya diri oknum tertentu dengan menyalahgunakan kekuasaannya, seakan telah membudaya dalam deru nafas bangsa Indonesia. Tidak hanya kalangan elit, penyakit masyarakat ini pun telah merambah ke birokrasi terbawah.