Publikasi

Kumpulan tulisan Dimas Prasetyo Muharam yang diterbitkan di media atau jurnal

Potensi Industri Kreatif Indonesia Hadapi CAFTA

Menjelang didentangkannya lonceng tahun 2010, sebagian media dan pengamat ekonomi kita sibuk memperbincangkan kontroversi perjanjian perdagangan bebas antara perhimpunan negara-negara asia tenggara (ASEAN) dengan Republik Rakyat Tiongkok yang biasa disebut Asean China Free Trade Agreement (AC-FTA). Banyak pendapat yang mengemuka dalam isu ini. Sebagian besar dari para pengamat memprediksi dampak buruk dari perjanjian dagang bebas ini. Mereka berpendapat bahwa penurunan tarif/bea masuk barang-barang impor dari Tiongkok hingga 0% hanya akan merugikan ekonomi nasional. Pendapat ini didasari pada fakta sebelum AC-FTA ini resmi berlaku, barang-barang import dari Tiongkok yang termasyur dengan harganya yang murah, telah mendominasi pasar nasional. Meski dari segi kualitas barang impor dari Tiongkok ini tidak lebih baik dari produk lokal, para konsumen cenderung memilih barang impor karena selain harga yang lebih murah, dari segi design kemasan pun lebih menarik. Namun sebaliknya, pihak pendukung terlaksananya AC-FTA yang umumnya dari kubu pemerintah, menerangkan bahwa perjanjian ini akan berdampak positif bagi ekspor produk Indonesia ke Republik Rakyat Tiongkok. Tiongkok dengan penduduk terbanyak di dunia dan pertumbuhan ekonomi terpesat menjadikannya sebuah pangsa pasar yang potensial bagi eksportir Indonesia.

Digitalisasi Kearsipan Inklusif

Di masa pascakemerdekaan, bangsa Indonesia telah mengenal system kearsipan yang modern. Arsip Nasional Republik Indonesia adalah sebuah lembaga non departemen yang pada saat ini mengurusi masalah kearsipan nasional. Di dalamnya terdapat kepingan mozaik perjalanan bangsa Indonesia sejak masa kongsi dagang VOC, pemerintahan Inggris oleh Rafles, pemerintahan colonial Hindia Belanda, masa pendudukan Jepang, dan era kemerdekaan. Dokumentasi yang tersedia berupa lembaran manuskrip kuno, foto negative dan positif, film, atau bentuk dokumentasi lainnya. Semuanya tersusun dan terjalin membentuk sebuah kata besar identitas bangsa Indonesia.

Mengusik Buih di Lautan Konflik

Manusia adalah Homo Homini Lupus atau serigala bagi manusia yang lain. Istilah latin yang dipopulerkan oleh Thomas Hobes itu seakan tak dapat dipungkiri dalam sejarah kehidupan umat manusia. Manusia satu dengan yang lainnya terus berseteru dalam mewujudkan keinginan pribadi atau kelompoknya. Peristiwa akbar dan mengerikan di paruh pertama abad ke-20 yang lazim disebut perang dunia 1 dan 2 telah menjadi saksi perseteruan antar budak nafsu imperialisme modern. Di Indonesia sendiri pun yang notabenya memiliki semboyan “Bhineka Tunggal Ika” atau berbeda-beda tapi tetap satu, tidak serta merta luput dari cengkraman konflik. Benturan kepentingan antar kelompok, suku, dan agama acap kali menumpahkan darah sesama saudaranya sendiri. Konflik antar agama di Ambon, perang suku di Sampit, dan terakhir aksi teror kaum fundamentalis seakan membaiat bangsa Indonesia tak cinta damai. Apakah keinginan untuk hidup damai adalah sesuatu yang utopis bagi manusia yang secara alamiah gemar untuk berbuat kerusakan di muka bumi ini?

Narkoba dan Imperialisme Budaya

Istilah narkoba sudah menjadi kata umum di telinga masyarakat Indonesia. Terminologi yang memiliki makna narkotika dan obat/bahan terlarang ini, semakin santer terdengar ketika mendekati hari madat sedunia 26 Juni atau ketika ada kasus narkoba yang terbongkar. Di Indonesia sendiri, narkoba sudah dianggap sebagai musuh besar peradaban manusia. Sering terbongkar kasus-kasus penyelundupan narkoba, artis yang ketahuan menggunakan, atau lebih jauh lagi terungkapnya tempat-tempat produksi narkoba secara masal. Namun satu hal yang kadang tak kita sadari, adalah proses terstruktur danpasti dari imperialisme atau penjajahan budaya suatu bangsa melalui narkoba. Proses penjajahan ini bukan hanya terjadi saat ini, tapi sudah berjalan lama sejak bangsa bermata biru Eropa memasuki nusantara. Dalam tulisan ini, kita akan lihat bagaimana narkoba sebagai sarana penjajahan budaya dapat dengan pasti menguasai suatu bangsa secara menyeluruh.

Demam Partai Demokrat

Partai Demokrat, yang merupakan kendaraan politik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, disebut sebagai partai pemenang pemilu dengan perolehan suara lebih dari 20%. Kemudian disusul oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDI Perjuangan dengan figure Megawati Soekarno Putri, menempati posisi kedua dengan perolehan suara antara 14% sampai 15%. Perolehan ini tak berbeda jauh dengan Partai Golongan Karya (Golkar) yang diketuai oleh Jusuf Kala, yang berada di posisi ketiga. Lalu di posisi keempat, ada Partai Keadilan Sejahtera atau PKS dengan perolehan 7% sampai 8% suara. Hingga di peringkat kelima, ada Partai Amanat Nasional atau PAN dengan suara 5% sampai 6% dari total keseluruhan.