Putihkan Internet, Berdzikir dalam Blog dan Jejaring Sosial

Bertasbih dalam Jejaring Sosial

Banyak kalangan yang menganggap situs-situs jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter memberikan dampak negatif dalam masyarakat. Kasus-kasus seperti siswa yang malas belajar atau penculikan berkedok teman facebook kerap menjadi headline berita-berita kriminal. Dalam melihat stereotipe ini, sebaiknya perlu dilihat lagi apa dasar dari diciptakannya situs jejaring sosial.

Pada dasarnya, internet beserta media-media didalamnya diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia, terutama dalam berkomunikasi. Melalui situs jejaring sosial, orang-orang yang tinggal berjauhan, dapat berinteraksi dengan mudah melalui situs tersebut. Dengan situs jejaring sosial pula, dapat ditemukan teman lama atau kontak publik figur yang memungkinkan pengguna internet untuk melakukan interaksi secara langsung dengan mereka. Singkat kata, anggapan ini tergantung bagaimana pengguna internet memperlakukan situs jejaring sosial secara bijak.

Menurut penulis, kemampuan luar biasa yang ditawarkan oleh situs-situs jejaring sosial ini dapat pula dimanfaatkan sebagai media dakwah. Melalui interaksi aktif dengan sesama pengguna lainnya, santri dapat menunjukan sikap interaktif yang Islami secara konsisten. Karena tiap Muslim adalah suri tauladan untuk orang-orang di sekitarnya, maka dakwah ini dapat dilakukan melalui tiap status atau update yang dibuat oleh santri.

Hal termudah yang dapat dilakukan dalam situs jejaring sosial antara lain dengan update status Facebook atau twitter yang positif. Positif di sini mengacu pada kalimat-kalimat yang tidak terkesan mengeluh atau sekedar curhat yang mengumbar emosi. Karena sejauh pengamatan penulis, status atau wall di Facebook biasanya dipenuhi dengan keluhan demi keluhan hidup yang secara tidak langsung dapat memberikan aura negatif kepada teman yang membacanya.

Akan amat berbeda ketika para santri dapat membagikan mutiara hikmah dari pengalaman hidup yang dialami sehari-hari. Seperti contoh ketika sedang ditimpa sebuah masalah, seorang pengguna Facebook akan cenderung untuk update status untuk mendapatkan perhatian dari teman-temannya. Sebagai seorang yang telah memapu melihat hikmah di balik setiap masalah, seyogyanya dalam mengungkapkan masalahnya, ditulis melalui sudut pandang yang lebih positif. Bukan mengeluh melainkan turut memotivasi orang yang membacanya agar selalu bersyukur dan mengambil hikmah dari setiap musibah.

Lebih jauh, melalui jejaring sosial pun santri dapat berbagi ilmu dengan lebih interaktif. Hal ini merupakan bentuk lebih maju dari sekedar berbagi pengetahuan di blog. Twitter, menjadi solusi terbaik dalam hal ini. Di dalam konsep Twitter, ada yang dinamakan followers atau pengguna twitter lain yang memantau twit demi twit yang dihasilkan. Pada umumnya, semakin sebuah account twitter bermanfaat, maka akan semakin banyak memiliki follower.

Melalui Twitter, santri dapat berbagi ilmu secara berkala tentang subjek tertentu. Kuliah yang dibagikan berupa kalimat-kalimat singkat sebatas 140 karakter yang kemudian dapat dibaca oleh semua followers. Para followers pun dapat secara interaktif bertanya kepada pembuat twit atau sekedar menanggapi twit yang dibuat. Cara ini secara langsung akan membuat komunikasi dua arah dapat dilakukan ke banyak orang dengan lebih masif.

Menulis dan Terus Menulis

Agar kegiatan dakwah dapat dilakukan secara konsisten, santri tak perlu memikirkan hal-hal hebat apa yang perlu dibgikan. Mulailah dari diri sendiri melalui apa yang menjadi kemampuan masing-masing. Ketika sesuatu yang dibagikan tersebut adalah bagian dari hobi atau kegemaran, maka akan ada efek ganda yang dihasilkan. Pertama adalah manfaat yang dapat diambil oleh orang yang mengunjungi blog atau account jejaring sosial kita, dan efek lain adalah kepuasan untuk menyalurkan hobi pribadi.

Penulis sendiri pun melakukan hal tersebut untuk aktif memperkaya konten dalam dunia internet. Ada kepuasan pribadi ketika apa yang dibagikan dapat diambil manfaatnya oleh orang lain. Ada sensasi tersendiri ketika tulisan kita mendapatkan komentar atau sekedar diberi tanda “like” di Facebook.

Secara rutin, biasanya penulis mengisi blog pribadi dengan tulisan-tulisan dari kuliah di kelas. Baik esei atau makalah tersebut penulis terbitkan di blog, tentu dengan perubahan secukupnya. Artikel-artikel penulis yang diterbitkan di koran turut dimasukan pula ke dalam blog. Cara ini dilakukan agar frekuensi update blog tetap terjaga dan pengetahuan yang ada di artikel tersebut dapat tersebar lebih luas melalui internet.

Pada dasarnya, kegiatan menulis tak boleh berhenti. Setiap ada peristiwa menarik di sekitar, tulislah. Ketika terlintas sebuah pemikiran yang sekiranya menarik untuk didiskusikan, tulislah. Atau mungkin ada pelajaran yang baru didapat dari guru atau ustadz, tulislah. Apapun yang positif dan bermanfaat bagi khalayak, tuangkan dalam bentuk tulisan. Bentuk dapat berupa apa saja, tergantung kegemaran masing-masing. Ada yang lebih suka dengan artikel opini, makalah ilmiah, atau mungkin cerpen dan puisi.

Penutup

Internet adalah media yang amat potensial dijadikan sarana dakwah. Tiap santri, dengan ilmu agama dan pengalaman kesehariannya yang Islami, dapat dijadikan sumber inspirasi yang dapat dibagikan kepada para pengguna internet. Karena dengan akhlaq dan kebiasaan hidup yang dibina oleh pesantren, menjadikan keseharian hidup santri layak untuk dibagikan kepada khalayak.

Selain itu, jadikanlah pula usaha membendung konten-konten negatif dengan memperbanyak yang positif ini sebagai salah satu bentuk Jihad. Ketika tiap hari situs-situs yang bermaterikan hal-hal negatif terus bertambah, lawan dengan menyebarkan kebaikan melalui internet. Karena hanya dengan jalan itu dampak negatif internet dapat sedikit demi sedikit direduksi dan Insya Allah Indonesia akan menjadi lebih baik.

6 komentar untuk “Putihkan Internet, Berdzikir dalam Blog dan Jejaring Sosial”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *