Relasi Sosial Perempuan di Film Erin Brockovich (2002)

Konstruksi Relasi Sosial Perempuan terhadap Lawan Jenis

Hubungan antara perempuan dan laki-laki amat dipengaruhi oleh norma yang berlaku di masyarakat. Di tempat dengan adat istiadat tradisional, ada penghalang yang tegas mengatur hubungan lawan jenis. Ada konsep dalam masyarakat yang memisihkan dengan jelas peranan perempuan dan laki-laki dalam slot-slot yang telah disediakan. Seperti contoh di negara seperti Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim. Interaksi antar laki-laki dan perempuan amat terbatas pada ruang privat saja. Sebaliknya, interaksi antar laki-laki dan perempuan akan amat terbuka di tempat yang menganut paham liberalisme. Batasan antar laki-laki dan perempuan cenderung lebih bebas baik di ruang privat atau publik.

Lebih jauh lagi, ada pandangan miring dari kaum laki-laki terhadap perempuan yang bertindak tidak semestinya. Frase “tidak semestinya” di sini mengacu pada sebuah tindakan yang tidak sesuai atau berlaku umum dengan apa yang biasa terjadi di masyarakat. Seperti apa yang dilakukan oleh Erin Brockovich selama bekerja di kanton bantuan hukum Masry & Vititoe. Ia tidak berlaku sebagaimana perempuan yang bekerja di kantoran. Dalam berpakaian, ia menggunakan setelah yang tidak sesuai dengan perempuan kantoran seperti blus dan rok sepan. Dari sudut pandang para laki-laki teman sekantor Erin, mereka melihat Erin sebagai seorang perempuan berselera rendah yang tidak bisa menempatkan dirinya. Meski secara naluriah para lelaki ini suka dengan penampilan menantang Erin. Ada perasaan tidak wajar yang memang sudah terbentuk sebagai sebuah konvensi. Selain itu, fakta bahwa Erin bekerja di kantor bantuan hukum tanpa latar belakang pendidikan hukum yang baik, menguatkan stigma negatif terhadap diri Erin. Mereka melihat dia secara sebelah mata sebagai seorang perempuan yang tidak dapat berbuat banyak di kantor.

Namun, stigmasi ini kemungkinan akan berubah ketika seorang lelaki memperlakukan seorang perempuan yang bertingkah laku biasa-biasa saja atau taat norma. Sikap Erin yang bertutur kata relatif kasar dengan teman kantornya ini menimbulkan kesan menantang (dalam makna denotatif) terhadap orang lain termasuk para lelaki. Lewat kacamata patrialkal, sikap ini tidak bisa diterima laki-laki yang menempatkan posisi dirinya lebih tinggi dari perempuan. Di hadapan lelaki, perempuan harus bertindak sopan dan penurut, baru dapat dikatan sebagai perempuan yang baik. Sikap kasar ini dinilai sebagai ciri maskulin yang hanya boleh dimiliki oleh lelaki. Akan ada pandangan aneh ketika para lelaki melihat hal tersebut. Ditambahlagi dengan fakta pendidikan rendah yang dimiliki Erin. Hal itu sudah seharusnya membuat Erin sebagai seorang juru tulis yang merendahkan dirinya di hadapan teman kantor dengan pengalaman di bidang hukum.

Dalam pandangan lelaki, penampilan luar adalah hal terpenting bagi perempuan. Ketika ia berpenampilan menarik, mampu menempatkan diri, dan bertingkah laku sopan, maka ada sikap hormat lelaki terhadap mereka. Namun, sikap yang cenderung kasar dari Erin ini dapat dilihat sebagai kritik terhadap hal ini. Di sini terungkap bahwa ketika dari penampilan luar seorang perempuan sudah tidak meyakinkan, maka mereka akan langsung mendapat label tidak baik dari lelaki.

Di sisi lain, jika ada kesempatan yang sama dan kepercayaan bagi perempuan yang mungkin penampilannya kurang meyakinkan ini, bisa jadi hasil pekerjaan mereka lebih baik dari para lelaki berpengalaman itu. Hal ini coba diberikan oleh Edward L. Masry selaku pimpinan Erin. Sempat agak ragu dengan kemampuan Erin, ditambah dengan penampilannya yang tidak intelektual, Edward mengizinkan Erin untuk melakukan investigasi terhadap kasus pencemaran lingkungan oleh Pasific Gaz and Electricity Company (PAE). Sikap ini cukup langka ketika seorang lelaki mau memberikan kepercayaan kepada pegawai perempuan tak berpengalaman seperti Erin. Lebih didorong oleh rasa simpati, Edward mendukung keinginan Erin ini. Pada akhirnya, kepercayaan ini tidak disia-siakan oleh Erin. Ia berhasil membongkar kasus yang ditutup-tutupi oleh PGE, dan sukses dalam memenangkannya.

Dapat disimpulkan sejauh ini bahwa hubungan antar perempuan dan lelaki dapat terjadi ketimpangan ketika masih ada pola pikir patriarki lelaki memandang perempuan. Perempuan masih dilihat sebatas penampilan luarnya saja, bukan apa yang mampu dilakukannya. Ada kesempatan yang tidak merata didapatkan oleh perempuan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *