Relasi Sosial Perempuan di Film Erin Brockovich (2002)

Konstruksi Relasi Sosial Perempuan dengan Perempuan

Walaupun sama-sama perempuan, tapi ada perbedaan yang mencirikan satu sama lain. Perbedaan ini bersifat unik yang amat pribadi dalam diri perempuan. Seperti contoh ada perempuan yang bertingkah laku amat teratur dan sopan. Dalam berbicara, tak pernah ada kata-kata kasar atau umpatan yang keluar dari mulutnya. Hal inilah yang menjadi konstruksi umum dalam masyarakat. Masyarakat menuntut perempuan untuk berlaku seperti itu, dan itulah yang dilakulan oleh perempuan kebanyakan. Di sisi lain, ada pula perempuan yang tidak bertingkah laku sepenuhnya sesuai dengan konstruksi yang ada. Hal ini dapat terlihat seperti apa yang ditunjukan oleh Erin Brockovich. Ia bertingkah laku tidak seperti sewajarnya perempuan di kantor yakni berpakaian resmi dan bertutur kata halus. Ia cenderung berpakaian seenaknya dan bertutur kasar. Hal ini akan dianggap aneh oleh perempuan sekalipun.

Penyimpangan yang dilakukan seorang perempuan dari apa yang telah dikonstruksikan dalam masyarakat, ternyata tidak hanya dianggap “aneh” oleh lelaki, tapi hal ini turut diiyakan oleh sesama perempuan. Dalam kasus Erin Brockovich, terlihat jelas sikap tidak senang teman sejawatnya yang perempuan terhadap perilaku Erin. Ketika yang lain bertingkah laku seragam, sesuai dengan aturan tidak tertulis yang ada, Erin bertingkah ekstrim yang tidak sewajarnya. Hal ini membuat para perempuan di sana menjadi tidak nyaman. Ada perasaan risih dan menempatkan Erin pada posisi yang lebih rendah dari mereka. Para perempuan kantoran ini menilai bahwa tingkah laku Erin itu tidak menghargai dirinya sendiri sebagai seorang perempuan. Dari sini dapat dipahami bahwa ada pengaruh patriarki pada pola fikir mereka. Mereka mengikuti apa yang hakikatnya dingini oleh lelaki, bukan murni dari perempuan sendiri.

Lebih jauh lagi, fakta pendidikan yang tidak terlalu tinggi, turut membuat para perempuan kantoran ini melihat Erin pada posisi yang lebih rendah dari mereka. Pada umumnya, teman sejawat Erin yang telah lebih dulu bekerja di kantor pengacara milik Edward L. Masry ini adalah mereka yang memiliki latar belakang pendidikan hukum. Sedangkan Erin, ia hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tidak berpendidikan terlalu tinggi.

Dalam relasi sosial yang terjadi antar perempuan sekalipun, ternyata masih bisa ditemui diskriminasi. Pembedaan itu bisa didasarkan pada stigma negatif pada perempuan yang tidak taat aturan dan masalah tingkat pendidikan. Jadi dapat disimpulkan sejauh ini bahwa relasi antar perempuan bukannya tanpa masalah, ada konflik dalam gender yang sama termasuk persoalan stigmasi negatif.

Konstruksi Relasi Sosial Perempuan dengan Masyarakat
Dalam masyarakat, perempuan selalu mendapatkan posisi yang tidak terlalu baik. Ada pembedaan perilaku masyarakat terhadap lelaki dan perempuan. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dengan adanya istilah Bread Winner untuk lelaki dan House Maker bagi perempuan. Kedua istilah tersebut mengacu pada konstruksi bahwa lelaki itu harus menjadi pemimpin dalam keluarga. Mereka bertugas mencari nafkah dan beraktivitas di luar rumah. Sedangkan bagi perempuan, mereka identik sebagai sesuatu yang pasif, dan harus bertanggungjawab pada masalah domestik. Ada segregasi yang cukup terang antara peranan lelaki dan perempuan di dalam masyarakat.

Selain itu, pandangan langsung masyarakat terhadap perempuan yang hidup single pun amat negatif. Hal ini berbeda dengan pandangan terhadap lelaki yang hidup sendiri tanpa keluarga. Seperti kisah Erin Brockovich yang hidup sebagai single parent bersama tiga orang anaknya. Ada pandangan-pandangan negatif dari orang sekitarnya terutama dengan catatan pribadi Erin yang pernah cerai sebanyak dua kali. Hal ini akan berbeda ketika masyarakat melihat seorang lelaki yang hidup sebagai single parent. Ketika lelaki itu mampu hidup mandiri bersama anak-anaknya, maka persepsi yang muncul adalah lelaki itu mapan dan bertanggungjawab. Sedangkan bagi seorang janda, akan ada label negatif yang hakikatnya didorong oleh persepsi bahwa perempuan tidak akan mampu hidup tanpa lelaki. Oleh karena itu, muncul di sini tokoh George yang simpati dengan anak-anak Erin karena ibu mereka sibuk bekerja di luar. Ketika Erin tak ada di rumah, George datang untuk menemani anak-anak Erik bermain.

Sejauh ini, dari relasi sosial perempuan terhadap masyarakat terlihat bahwa ada kecenderungan untuk melihat perempuan dari sudut pandang yang tidak terlalu menguntungkan. Perempuan dinilai sebagai subordinat dari kaum lelaki yang lebih mendominasi. Selain itu, perempuan single parent yang memutuskan untuk bekerja di luar rumah pun turut mendapat pandangan yang kurang baik. Dengan bekerja di luar rumah, ada kesimpulan dari masyarakat bahwa anak-anaknya menjadi kurang terurus.

Penutup

Perempuan sebagai gender yang selalu diposisikan sebagai subordinat dari kaum lelaki tak pernah lepas dari masalah. Problematika ini ternyata tidak hanya menyangkut hubungannya dengan kaum lelaki, tapi pula dengan sesama perempuan dan masyarakat secara umum. Isu feminisme yang terkuak dalam film Erin Brockovich (2002) ini, secara nyata terjadi di lapangan. Ada seseorang yang benar-benar bernama Erin Brockovich dan mengalami apa yang persis dengan di film. Dari kisah hidup dia ini, Hollywood mengangkatnya dalam layarlebar. Hal ini membuktikan bahwa ketimpanganrelasi sosial perempuan menjadi isu yang cukup krusial. Ketikaseseorang bertingkah lalu tidak sesuai dengan konstruksi sosial yang ada, maka hal tersebut akan dianggap tidak wajar. Di sinilah ada upaya dari tokoh Erin Brockovich dalam mengubah konstruksi lama tersebut. Ia mampu membuktikan bahwapenampilan luar saja tidak menentukan apa yang mampu dikerjakan. Setelah ia mampu melaksanakan sebuah tugas besar dengan berhasil, maka lambat laun sambutan teman sejawatnya melunak dan mampumemahamipribadi seorang Erin di balik sikap kasar dan penampilan yang kurang meyakinkan. Di sinilah berdasarkan kemampuan pengamat untuk melihat sebuah produk budaya melaluianalisis wacana, dapat terbongkar isu feminisme yang terkait dengan konstruksi relasi sosial perempuan.

Daftar Acuan

  1. Johnstone, Barbara. 2002. Discourse Analysis. Oxford: Blackwell Publishers.
  2. Yuwono, Untung. 2008. “Ketika Perempuan Lantang Menentang Poligami:
  3. Sugihastuti dan Siti Hariti Sastriyani, Glosarium Seks dan Gender, (Yogyakarta,
  4. Lihat http://www.policy.hu/suharto/Naskah%20PDF/YogyaFEMINISMESocialWork.pdf diunduh pada tanggal 25 Mei 2010 jam 12:30 WIB
  5. Lihat http://www.indosiar.com/sinopsis/3031/erin-brockovich diunduh pada 26 Mei 2010 jam 09:00 WIB

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *