Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Corat-Coret

Abstraksi Cinta 12

Ada yang mengatakan bahwa cinta tak dapat dipaksakan. Ada pula yang berpendapat bahwa cinta tak harus memiliki. Apakah itu hukum yang harus dipatuhi semua orang yang memiliki rasa cinta di hatinya? Atau hanya kaidah-kaidah dalam sinetron dan buku roman yang bukan tak mungkin tak berlaku untuk semua orang? Namun satu hal yang pasti. Dimana ada awal, pasti ada akhir. Entah akhirnya baik atau tidak, tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Ada kalanya ketika cinta berakhir, maka hati akan tersakiti. Biasanya ada dua hal dampak dari peristiwa ini. Pertama, ia akan menyalahkan si mantan yang seakan meninggalkannya, mengkhianatinya, menyakitinya. Ia merasa sudah melakukan segalanya dan sebuah kesalahan bahwa hubungan itu harus berakhir. Ada yang marah atau kecewa karena berfikir bahwa ia ditinggalkan karena si mantan tak mau menerima kekurangan pada dirinya. Ia menyalahkan orang lain karena itu. Selain itu, ada orang yang malah menyalahkan dirinya, dan menganggap bahwa semua adalah kesa

Kado Kecil di Ujung Peluh

Adelaide - Tahun 2012 mungkin salah satu tahun yang kurang baik untukku. Bukan berarti aku tak bersyukur, toh banyak sekali nikmat yang didapat pula pada waktu tersebut. Jika dilihat dari salah satu sisi, 2012 memang tak sesuai dengan harapan. Namun pada tahun itu juga mungkin awal dari kado kecil tapi eksplosif selang beberapa bulan kemudian. Ya, tak pernah kusangka bahwa akhirnya aku dapat menjejakkan kaki di negara orang, tanah bangsa Aborigin. Agak flash back satu tahun ke belakang, apabila difikir-fikir lagi, tahun 2012 bagai tanpa hasil untukku. Di kala itu, adalah dimulainya menjalankan proyek Kartunet yang berasal dari hadiah kompetisi hibah terbuka Cipta Media yang diadakan oleh Ford Foundation. Harapan, cita, dan semangat tercurah dari teman-teman di Kartunet yang kebetulan aku diamanahi untuk jadi ketua dan pimpinan proyek hingga masa bakti berakhir di Januari 2013. Digerakkan lagi pada awal 2011, ada gairah untuk kembali "menghidupkan" Kartunet yang mati suri. Ber

Beli iPhone dari Malaikat Lewat

Adelaide – Tepat dua pekan lagi menghitung mundur untuk kembali berada di atas pesawat Malaysia Airlines lalu terbang ke Kuala Lumpur, dan putar balik untuk mendarat di Jakarta. Hari-hari terakhir di kota yang menyenangkan ini adalah yang paling hectic karena harus submit policy paper dan juga action plan untuk diaplikasikan di Indonesia nanti. Just wish me luck guys. Tapi masih ingin berbagi cerita dan hikmah ketika beli iPhone di sini. Yup, setelah bertahun-tahun melampaui zaman Jahilliyah dengan telepon genggam keluaran periode megalitikum, Alhamdulillah awal bulan Oktober lalu berhasil memiliki sebuah iPhone 4s baru tapi bekas. Kok baru tapi bekas? Hmm, memang agak complicated dan panjang ceritanya bagaimana dapat memiliki iPhone ini. Namun dari sini aku kembali merasakan bahwa Allah benar-benar ada. Dia mungkin tak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tapi pasti memberikan yang dibutuhkan. Ceritanya selama mengikuti program ALA Fellowship Gender and Disability di Flinders Uni

Makan Daging Berlauk Nasi

Adelaide – Mungkin judul tulisan ini agak janggal buat kita orang Indonesia bagian barat yang mayoritas makanan pokoknya nasi. Dalam konsepsi saya, makan itu adalah dengan nasi yang dominan, lantas lauk-pauk yang lebih sedikit dari nasi sebagai penambah nutrisi. Namun apa yang terjadi di Australia, khususnya Adelaide ini berbeda. Harga beras relatif agak lebih mahal dibanding harga daging sapi apabila porsi makan yang digunakan sama dengan biasanya. Sebagai gambaran, harga beras yang lumayan layak untuk dimakan di Coles (brand supermarket yang populer di Australia) sekitar 2AUD atau Rp 20.000 per Kg, sedangkan harga 1Kg daging kurang lebih sama dengan di Indonesia. Tak heran jika rasanya nasi seakan lebih mahal dibanding dengan lauknya. Sering jadi guyon juga bahwa hidup prihatin di negeri Kangguru ini yaitu dengan makan daging dan buah tiap hari yang rasanya tak cocok jika diterapkan di Indonesia. Sedangkan sayuran seperti kangkung atau bayam dan tempe atau tahu jadi makanan “mewah” d

Mengembalikan Asa di November bersama Domain Baru

Adelaide - “Anda masih seorang blogger sejati jika menulis di blog sesuka hati dan bukan dipaksakan untuk terjadwal”. Kalimat yang kurang lebih saya ambil dari salah satu twit, yang sayangnya lupa siapa pembuatnya, menjadi titik awal “pembenaran” untuk absen ngeblog saya selama hampir tiga bulan ini. Meski begitu, ada betulnya juga ungkapan tersebut. Ketika seorang blogger sudah mengejar frekuensi ngeblog tertentu, kecenderungannya kualitas tulisan terpaksa diturunkan untuk memenuhi target jumlah postingan yang bukan lain agar SEO tetap terjaga. Tapi saya juga ingin mengakui dosa karena tidak update tulisan dalam waktu yang cukup lama. Sebab menurut saya blogger yang baik itu tetap menjaga kualitas tulisan, sembari rutin update di blognya. Ada beberapa alasan mengapa absen update tulisan sejak Agustus kemarin. Beberapa alasan ini tak lain untuk menguatkan pembenaran saya di atas. Pertama, pada Agustus sedang sibuk-sibuknya untuk mempersiapkan keberangkatan tanggal 31 ke Adelaide selama

Menyicil Mimpi di Agustus 2013

Time flies so fast atau lalat-lalat waktu yang begitu cepat. Kembali memasuki bulan Agustus, bulan yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, yaitu menjadi momentum diumumkannya kemerdekaan bangsa ini dari penjajahan bangsa asing. Kemerdekaan yang memang dirasakan secara fisik, sayangnya belum secara mental dan budaya. Pada bulan ini pula kemerdekaan 68 tahun yang lalu bertepatan dengan saat Ramadan. Menjadi pertanda, Insya Allah, kemerdekaan bangsa ini memang atas berkat rahmat Allah. Namun aku tak ingin berbicara soal politik atau nasionalisme kali ini, ada baiknya bulan baru ini dimulai dengan evaluasi sebulan ke belakang dan pembuatan target satu bulan ke depan. Satu hal yang jadi keberhasilan pada bulan Juli yaitu target satu tulisan tiap hari kecuali pada hari minggu telah tercapai. Meski tidak sepenuhnya menulis tiap hari, menganggap tulisan sebagai hutang per hari cukup efektif meningkatkan produktivitas. Ada kalanya hari itu tidak dapat menulis karena ada acara sampai malam atau a

Abstraksi Cinta 11

Cinta pada manusia tak pernah salah. Hanya terkadang cara manusia mendefinisikan cinta yang kurang tepat. Ada di antaranya yang mendefinisikan kata itu dengan sebuah rasa suci untuk terus menkasihi seseorang yang dicintainya tanpa berharap lebih. Istilah populernya, cinta tak harus memiliki. Tapi ada pula yang ketika ia merasakan sesuatu yang dikatakan cinta, maka ia harus memiliki hati yang dicintainya, meski belum waktunya. Inilah yang kemudian dipahami sebagai konsep pacaran. Orang-orang yang memutuskan untuk pacaran, adalah mereka yang sudah harus menerima risiko dari hubungan ini. Risiko pertama adalah kamu harus paham bahwa pacaran tidak akan menjamin hubunganmu akan langgeng. Ada yang mengatakan bahwa takdir pacaran itu adalah untuk putus. Entah putus yang di tengah jalan, atau memang sudah harus diputuskan karena akan melanjutkan ke jenjang pernikahan. Namun perkara paling umum yang membuat banyak orang galau adalah ketika putus cinta yang kandas di tengah jalan. Ketika mencint

Ramalan Bintang Bikin Hidupmu Jadi "Pasaran"

Mendadak jadi agak perhatian dengan timeline Twitter yang berisi retwit dari akun-akun zodiak atau Ramalan Bintang. Levelnya hampir sama seperti akun @FelixSiauw yang tak pernah aku follow, tapi selalu muncul di timeline dari hasil retwit akun-akun teman. Namun difikir-fikir lagi, ada hubungan antara akun-akun Ramalan Bintang dengan punya Ustadz FelixSiauw. Tentu bukan ingin menyamakan halal tidaknya karena sebagai Muslim, amat tidak dianjurkan untuk mempercayai ramalan. Namun ada hal menarik ketika ramalan yang berdasar tanggal lahir seperti zodiak dapat mempengaruhi hidup manusia, atau malah manusia yang ingin dipengaruhi oleh isi ramalan. Ketika orang retwit isi ramalan bintang, biasanya ada dua faktor yang melandasinya. Pertama, karena merasa cocok dengan isi ramalan. Ketika akun-akun ramalan mengeluarkan twit bahwa satu zodiak memiliki sifat tertentu dan terlintas fikiran ‘gue banget nih!’, maka langsung diretwit. Hal itu seperti juga ingin mengatakan ‘tahu banget sih ya’. Tapi pe

Membangun Komunitas Berorientasi Pemberdayaan

Belakangan ini, komunitas menjadi sangat populer dengan jumlah yang semakin bertambah. Biasanya, pembentukan komunitas didorong oleh kehadiran social media yang membuat orang semakin mudah untuk berinteraksi via online. Lantas, dibuatlah perkumpulan berdasarkan persamaan minat, hobi, perfesi, atau latar belakang lainnya dan jadilah komunitas. Namun, ada yang mengganjal ketika komunitas dirasakan hanya sebagai ajang kumpul-kumpul dan hura-hura anggotanya. Kegiatan Kopdar atau Kopi Darat yang memberi kesempatan anggota untuk saling tatap muka langsung, biasanya hanya berakhir dengan ngobrol-ngobrol dan tak memberi manfaat jangka panjang. Padahal, komunitas berpeluang menjadi wadah pemberdayaan masyarakat karena langsung bersentuhan dengan orang-orang. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membangun komunitas yang tak sekedar ajang kumpul-kumpul tanpa hasil. Pertama, komunitas yang bentuk kegiatannya memiliki prospek lapangan pekerjaan seperti komunitas blogger, wirausaha, atau m

Kedatangan Liverpool dan Tergadainya Nama Bangsa

Perhatian masyarakat Indonesia beberapa pekan ke belakang tertuju pada Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Kedatangan tim-tim sepak bola elit dunia menjadi bahan pembicaraan dari mulai yang pro dan kontra. Pekan lalu, GBK menjadi saksi diluluh-lantahkannya tim bernama “Indonesia Dream Team” oleh Arsenal FC 0-7. Aku membuat opini pada pertandingan tersebut dalam esai Garuda, Sepak Bola, dan Identitas Semu. Lalu malam ini, pertandingan tim bernama Indonesia Eleven melawan Liverpool FC tak kalah menggelitik tanganku untuk mengetik sesuatu. Berawal dari twit-twit, ada isu mengenai harkat bangsa yang cukup esensial di luar jalannya pertandingan yang berakhir 0-2 untuk kemenangan Liverpool. Pertama, adalah persoalan nama tim lawan dari Liverpool FC dengan mengambil nama Indonesia Eleven. Ada pola yang serupa ketika melawan Arsenal FC dengan Indonesia Dream Team, dan nanti untuk lawan Chelsea FC dengan BNI Indonesia. Menurutku,  menjadi sebuah masalah ketika dalam pertandingan persahabatan

Berbagi Bukan Karena Merasa Lebih, Tapi Ada Hak Orang Lain Dititipkan Padamu

Momentum bulan Ramadan identik dengan saling berbagi. Bagi umat Muslim, di bulan suci ini segala amalan yang dilakukan akan dilipat gandakan, wajar jika pada berlomba-lomba berbuat kebaikan. Kegiatan seperti buka puasa bersama, pembagian bingkisan, dan sahur on the road jadi pemandangan lumrah sepanjang bulan suci. Bahkan berkah ini pun dirasakan juga oleh pemeluk agama selain Islam dengan kadang ikut berbagi di momen-momen seperti itu. Namun, kadang tak terlintas apakah benar pemberian yang dianggap amal tadi benar-benar bermanfaat bagi si penerima? Pernah terfikir jika kebahagian yang di dapat ketika berbagi berbanding lurus dengan dampak bagi mereka? Ada paradigma yang salah mungkin dengan kata berbagi. Berbagi sering ditujukan apabila seseorang berlebih akan sesuatu seperti harta. Ketika mengalami kelebihan harta, maka berbagilah dengan yang membutuhkan, jika tidak, maka tak perlu. Apabila konsep seperti ini yang dipakai, maka dampaknya akan bias. Pada titik apa manusia pernah mera

Sulitnya Hidup Semudah Mengubah Sudut Pandang

Allah itu seperti apa yang hambanya sangkakan. Ketika diberikan prasangka yang baik, maka kebaikan akan kembali pada hambanya. Sebaliknya, jika Allah dituduh dengan prasangka buruk, maka keburukan pula yang akan didapat. Secara tak langsung, Allah ingin mengajarkan betapa pentingnya sudut pandang. Bagaimana manusia melihat sesuatu, maka itu yang akan terfikirkan, dan terjadi dalam hidupnya. Tak kurang bukan para motivator menyuruh kita untuk optimis. Sebetulnya, apa itu optimis? Optimis yaitu sesederhana memandang sesuatu dari sudut baiknya. Tentu hidup ini banyak hal yang kurang mengenakkan. Akan terasa berat jika hanya hal-hal buruk itu yang dilihat dan difikirkan tanpa guna. Akan tetapi akan berubah kondisinya jika fokus pada hal-hal positif yang menurut pandangan manusia terselip di antara banyak kesulitan. Padahal tanpa disadari, terlampau banyak nikmat yang didustakan oleh manusia. Aku jadi teringat kisah yang pernah diceritakan oleh Andre Wongso. Dari hikayat Tiongkok dikisahkan

Puasanya Anak Sekolah Taman Kanak-Kanak

Ketika bulan suci Ramadan, sejuk hati ini menemui masjid-masjid yang ramai dipenuhi jamaah, para pedagang penuh berjualan makanan khas berbuka di sore hari, dan pernak-pernik lainnya. Lebih menenangkan lagi bagaimana toleransi antar umat beragama atau mereka yang sedang tidak berpuasa menghormati yang berpuasa. Tak menunjukkan diri untukmakan dan minum di depan umum dengan alasan menghormati yang sedang puasa. Namun hal ini menjadi lain ketika pemerintah atau ormas-ormas tertentu mengeluarkan larangan untuk restoran tidak buka di siang hari selama Ramadan. Pro kontra akhirnya muncul dan lebih cenderung ke sikap sinis yang menganggap mereka melanggar hak warga beragama lain karena memaksa untuk tutup di siang hari. Menurut aku pribadi, aturan itu seperti bumerang yang seakan-akan menunjukkan puasanya anak kelas taman kanak-kanak. Mental anak ketika melihat orang lain makan atau minum lalu kepengen juga melakukan hal yang sama lantas menyalahkan orang lain karena menyebabkan puasanya bat

Garuda, Sepak Bola, dan Identitas Semu

Dua bulan yang menjadi jeda kompetisi sepak bola di Eropa (Juni dan Juli) ini menjadi saksi dimana Indonesia diserbu oleh para bintang lapangan hijau top dunia. Sebutlah bulan lalu ketika dilangsungkan International Friendly Match antara tim nasional Indonesia vs Belanda, terdapat nama-nama seperti Robin Van Persie dan Arjen Robben. Kemudian kemarin ketika Arsenal FC bertanding dengan tim yang disebut Indonesia Dream Team, dan pekan-pekan berikutnya menyusul kedatangan dua tim Liga Inggris lainnya Liverpool dan Chelsea. Sebetulnya Manchester United juga ke Indonesia tapi sekedar lewat di udara karena ada tour pra-musim juga ke Bangkok Thailand dan Sydney Australia. Tentu sebuah kebangaan Indonesia dapat dipercaya untuk dikunjungi oleh tim-tim elit kelas dunia. Satu sisi positif bahwa peringatan negara-negara barat bahwa Indonesia berbahaya efek bom Bali sudah tak terasa lagi. “Indonesia nyaman, aman, dan ramah”, itu mungkin kesan yang berhasil dimunculkan lagi. Namun melihat hasil dari

Manusia terlampau Sombong Ketika Mengingini Surga

Aku agak tergelitik ketika sering menemui banyak orang, terutama yang terkesan alim, kerap menyebutkan surga sebagai cita-citanya. Bukan berarti iri atau tidak meyakini hal demikian. Hanya ada sedikit hal yang terasa mengganjal karenanya. Apakah untuk mencapai surga dapat diukur dengan amalan yang bahkan tak tahu sudikah Allah menerimanya? Jika dibalik, akankah manusia tetap bersujud pada Allah jika tak ada konsepsi Surga dan Neraka seperti di lirik lagu Chrisye featuring Ahmad Dani? Tulisan ini dibuat bukan karena merasa paling benar. Semata adalah hasil perenungan dariku yang merasa berlumur dosa. Mungkin juga ini bentuk iri hati pada mereka yang menganggap diri ahli surga. Tapi semoga Allah luruskan hati dan mampu diperoleh hidayah dari perenungan ini. Apa yang kita cari dalam hidup ini? Hidup manusia punya siklus dari tiada menjadi ada kemudian tiada. Terlampau banyak nikmat yang diberikan Allah sejak lahir ke dunia hingga hembusan nafas terakhir. Bayangkan jika udara ini harus dib

Berharap Ada Suasana Baru di Dua Ramadhan Berikutnya

Mungkin terlalu dini merencanakan Ramadhan selanjutnya mengingat ini baru hari kedua puasa. Namun bukan soal ibadah yang mau dishare kali ini, tapi beberapa rencana yang masih pada tahapan mimpi. Tak ada salahnya bukan untuk sekedar memiliki cita-cita. Sebab ketika sudah meniatkan sesuatu, disadari atau tidak ada motivasi terselubung yang Insya Allah mampu membawa ke sana. Apabila aku lupa sekalipun, semoga tulisan ini menjadi do’a dan Allah membimbing langkah-langkahku. Ada dua suasana yang ingin aku rasakan berbeda di dua Ramadhan lagi dan itu jatuh di tahun 2015. Satu tahun pasca Pemilu tapi tak ada hubungannya dengan itu. Pertama, aku berharap di waktu itu telah memiliki pasangan hidup. Sebuah komitmen untuk dapat menyempurnakan iman di usia 27. Seorang istri yang cerdas, sholehah, pinter masak, dan sayang dengan orang tua. Hal terakhir menjadi penting karena aku bukan tipe orang yang pandai memanivestasikan rasa sayang dalam bentuk-bentuk perhatian mendetail. Aku harap pendampingk

Cintailah Tiap Detiknya Layaknya Ini Ramadhan Terakhir

Maghrib menjelang disertai dengan berkah Allah dalam bentuk rintik hujan. Aku dalam perjalanan pulang sehabis pertemuan di Pasitif Place ketika naik motor bersama adikku menuju rumah. Ketika beberapa kilometer hendak sampai rumah, hujan itu datang. Sayup-sayup terdengar lantunan anak-anak dan orang dewasa membaca shalawat di masjid menjelang adzan Maghrib. Entah ada rasa yang bergetar di dada saat itu, merembes air mata yang tak sampai menjadi tetesan. Mungkin otak tak mampu merasa, tapi hati menangkap keagungan bulan Ramadhan yang segera tiba. Hari ini pula sebagian saudara-saudara masyarakat Muhammadiyah dan lainnya sudah memulai puasa 1 Ramadhan. Namun menurut sidang Isbat, pemerintah menetukan baru keesokan harinya puasa pertama dimulai untuk seluruh Indonesia. Sebab tak ada laporan dapat dilihatnya Hilal di wilayah nusantara. Aku tak ingin mendebatkan siapa yang benar atau salah. Segala sesuatu yang baik akan tetap menjadi baik jika hanya dikarenakan perbedaan sedikit. Alangkah ba

Mengikis Stigma Kaum Disabilitas Melalui Komunitas Blogger

Stigma dan stereotipe bukan sesuatu yang dapat diubah oleh masyarakat di luar objek secara instan. Perlu proses panjang dan itikat untuk berubah yang besar dari masyarakat yang menjadi objek untuk memberikan citra baru kepada publik. Hal serupa yang harus dilakukan oleh penyandang disabilitas jika ingin stigma negatif yang menempatkannya pada kelompok marginal terkikis. Perubahan tak akan terjadi hanya dengan kata dan bujukan kepada publik untuk lebih memahami. Masyarakat akan lebih mudah paham dan menerima jika sudah melihat langsung bahwa penyandang disabilitas memang dapat berkarya, mandiri, berdaya, dan tak sungkan bergaul di masyarakat. Dari pandangan itu, aku yakin betapa pentingnya keberadaan komunitas blogger disabilitas. Komunitas yang dibangun bukan hanya karena kesamaan isu disabilitas, tapi ada hal yang lebih didikedepankan yaitu blogger. Sebab dengan seorang penyandang disabilitas menyatakan diri seorang blogger, maka sudah mencakup keterampilan menulis, optimasi social me

Menyatukan para Blogger Disabilitas dalam @Kartunet

Era blog nampaknya sedang bangkit kembali. Setelah beberapa waktu lalu agak terbenam dengan kehadiran situs jejaring sosial seperti Friendster, Facebook, dan Twitter, kini orang mulai kembali ke blog karena sadar banyak fitur di blog yang tak tergantikan. Di dalam blog Anda dapat menuangkan pemikiran serta pengalaman secara lengkap tanpa terpotong-potong, sekaligus mendapat input publik pada kolom komentar. Makin banyak pula orang yang menganggap memiliki blog adalah bagian dari “keharusan”. Entah digunakan sebagai alat mencari uang, publikasi karya, atau sekedar wadah menampung curahan hati alias curhat. Dari mereka yang sudah menggunakan blog dan kemudian disebut blogger , lalu saling interaksi dan membentuk komunitas-komunitas blogger. Komunitas atau kumpulan blogger ini pada umumnya didasari oleh identitas tertentu seperti kesamaan lokasi, institusi, atau entitas lainnya. Contoh ada komunitas Kopdar Jakarta, DOT Semarang, Anging Mamiri, Blogger Ngalam, Plat-M, Blogger Bogor, hingga

Resolusi Hidup dan Visi Musim 2013-2014

Mungkin ada yang aneh ya kok hari gini baru buat resolusi? Biasanya orang ramai-ramai memamerkan resolusi mereka ketika menjelang tahun baru. Resolusi atau yang sederhananya dapat dikatakan target/harapan hidup yang ingin dicapai itu ada yang menuliskannya di blog, dishare via twitter, status Facebook, atau cukup ditulis di kertas lalu ditempel di tembok kamar. Fungsi resolusi ini tak lain untuk menjadi pengingat langkah-langkah selama satu tahun. Nah, mengapa baru buat sekarang mblo? Modus dari tulisan ini sebetulnya karena enam bulan lalu tak cukup serius membuat resolusi, tapi agar lebih keren, anggap saja aku tak mau sama dengan mainstream *dikeplak*. Tapi ini serius. Setelah difikir-fikir, ada beberapa poin positif jika resolusi dibuat dengan sistem dua paruh tahun seperti layaknya musim liga sepakbola di Eropa. Pertama, dengan menuliskan dua angka tahun 2013 – 2014, menunjukkan optimisme yang lebih dari sekedar satu angka tahun. Ini menunjukkan visi lebih jauh dari sekedar rentan