Skip to main content

Posts

Empati Bermula ketika Takut 'Gelap'

Tangerang - Maret lalu adalah kali kedua saya melatih para staf AirAsia Indonesia dalam pelatihan Disability Equality Training di Red House Cengkareng. Sejak gabung sebagai trainer di tim BEAT Indonesia, ada saja pengalaman baru dan unik dari peserta yang baru interaksi dengan penyandang disabilitas. Salah satunya adalah perasaan takut gelap ketika mata ditutup dan berjalan dengan tongkat seperti tunanetra. Tiap sesi Disability Services Related Training (DSRT) untuk tunanetra, ada bagian dimana peserta harus mempraktikkan apa yang sudah diajarkan mengenai layanan untuk penumpang pesawat yang memeiliki keterbatasan penglihatan atau tunanetra. Peserta yang biasanya 20 orang harus praktik secara berpasangan, lalu dibagi peran yang satu menjadi tunanetra, dan lainnya sebagai staf yang menuntun. Lalu di tengah praktik peran akan ditukar sehingga semuanya merasakan peran yang sama. Peran sebagai tunanetra, peserta pelatihan harus mengenakan blind folt, sehingga penglihatan mereka terhalang s

Pengalaman Pertama pakai AirAsia ke Kuala Lumpur

Tangerang - Desember tahun lalu berkesempatan pertama kali mencoba maskapai tarif rendah (Low Cost Carrier) atau LCC AirAsia yang cukup sensasional itu. Bukan dalam rangka liburan dengan tiket pesawat murah, tapi lawatan ke markas AirAsia di Kuala Lumpur untuk observasi Disability Equality Training di AirAsia Academy Malaysia. Dua kata untuk AirAsia, terjangkau dan tak bikin deg-degan. Kehadiran AirAsia di Indonesia cukup sensasional. Maskapai ini terkenal karena sering memberikan promo tiket pesawat murah bahkan pernah ada yang cuma Rp 10.000 saja. Menurut bos AirAsia, Tony Fernandes, tiket AirAsia bukan murah apalagi murahan. Mereka menerapkan sistem penumpang membayar untuk apa yang didapatkan. Berbeda dengan maskapai full service seperti Garuda Indonesia atau Malaysia Airlines, calon penumpang AirAsia dapat memilih letak kursi hingga memilih menu makanan di dalam kabin yang akan berdampak pada harga tiket. Dalam deretan kursi AirAsia, ada yang dinamakan hot seat. Ini adalah barisan

Cara Belanja Lebih Murah di Lazada, Bukalapak, dan Tokopedia

Tangerang - Saat ini untuk berbelanja kita sangat dimanjakan dengan hadirnya situs-situs e-commerce seperti Lazada, Bukalapak, dan Tokopedia. Berbagai situs itu menawarkan harga bersaing dan diskon yang sering kali harganya lebih miring dari pasar. Selain kode promo dan voucher, ada lagi Cara Belanja Lebih Murah di Lazada, Bukalapak, dan Tokopedia dengan memanfaatkan cashback. Shopback memberi cara belanja lebih murah di Lazada, Bukalapak, dan Tokopedia dengan memberi cashback. Cashback adalah pengembalian sebagian dari nilai pembelian ke konsumen atau pembeli. Ketika kamu berbelanja di Lazada, Bukalapak, dan Tokopedia melalui situs Shopback, maka setelah waktu tertentu sebagian dari harga barang yang kamu beli akan dimasukkan ke saldo Shopback kamu. Misal di situs Shopback sedang ada promo cashback 100.000 untuk pembelian barang di Tokopedia. Maka ketika kamu beli barang seharga 1.000.0000 di Tokopedia, maka kamu akan mendapatkan 100.000 di saldo Shopback yang dapat dicairkan ke reke

Ahok "Sakit Gigi", Umpan Anies tak Digigit

Tangerang - Menarik mengikuti debat antara Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Anies Baswedan di Mata Najwa eksklusif semalam. Menghadapkan pak Ahok yang sedang sakit gigi dengan pak Anies yang terus memberikan umpan tapi tak tergigit. Saya memang bukan pengamat politik, hanya ingin menuliskan apa yang terlintas di kepala saat menyimak debat. Kadang ada untungnya juga jadi tunanetra, jadi penilaian kita tak dipengaruhi asumsi-asumsi awal akibat penampilan fisik seseorang seperti ras dan mimik, jadi tak terganggu stereo tipe. Debat yang ditayangkan di Metro TV pada Senin malam 27 Maret mulai pukul 19:30 WIB ini bukan debat resmi KPU. Program Mata Najwa yang biasanya tayang Rabu malam, secar eksklusif dan live menghadirkan debat kandidat dengan format yang berbeda. Konon format ini mengikuti debat putaran ketiga di Pilpres Amerika Serikat lalu. Jadi lebih seperti dialog dan dua kandidat langsung membandingkan program yang sejenis. Mana yang lebih unggul akant erlihat dari penjelasan ked

mempersiapkan Peserta Jambore IT Nasional untuk Remaja Disabilitas 2016

Tangerang - Setelah hampir setahun terakhir kali mengunjungi Pusat TIK Nasional Pustiknas) Ciputat, Alhamdulillah kembali diminta Kementrian Kominfo RI untuk melatih TIK ke para tunanetra di akhir November 2016 lalu. Kali ini pelatihan itu untuk persiapan para peserta Jambore IT Nasional untuk Remaja Disabilitas, yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia. Sebuah kesempatan luar biasa karena ini acara terbesar di bidang TIK untuk penyandang disabilitas yang baru pertama diadakan oleh Kementrian Kominfo. Jambore IT yang diadakan di Jakarta atau Pustiknas Ciputat pada 1 - 3 Desember 2016 adalah puncak dari rangkaian kegiatan yang sudah bergulir sejak November di 5 pusat wilayah di Indonesia. Sekitar 100 penyandang disabilitas yang terdiri dari tunanetra, tunarungu, dan tunadaksa mengikuti kompetisi TIK dengan pusat di Padang, Banjarmasin, Makassar, Ambon, dan terakhir di Jakarta. Para pemenang dari empat daerah lainnya lalu dihadirkan ke Jakarta untuk tahap final dan mendapatkan pem

Interaksi Petugas Kesehatan dengan Penyandang Disabilitas di Fasyankes

Tangerang - Alhamdulillah kembali diberi kepercayaan untuk memberikan pelatihan disability equality training ke para peserta workshop Penanggulangan Gangguan Fungsional dengan Pendekatan ICF yang diadakan oleh Kementrian Kesehatan RI di Hotel Horison Bekasi (17-02-2017). Ini jadi pengalaman yang cukup menantang karena dapat dikatakan ini praktik lapangan DET pertama setelah di akhir 2016 ikut serta dalam IQP untuk tim BEAT di AirAsia Academy Malaysia. Awalnya saya dihubungi oleh mas Ridwan Soemantri via email untuk bersama mengisi pelatihan mengenai interaksi petugas kesehatan dengan penyandang disabilitas di fasyankes atau fasilitas layanan kesehatan. Mas Ridwan diundang oleh CBM Indonesia, sebuah lembaga nirlaba yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas, yang saat ini menjadi salah satu mitra dari Kementrian Kesehatan. Mas Ridwan diminta untuk memberikan training selama kurang lebih 2 jam mengenai cara interaksi dengan penyandang disabilitas. karena menu

Mengukur Indeks Tata Kelola Elektronik di Indonesia

Tangerang - Menutup bulan Februari lalu, Alhamdulillah kembali terlibat dalam focus group discussion (FGD) yang dapat menentukan arah pengembangan tata kelola pemerintahan berbasis elektronik Indonesia ke depan. Diskusi ini bertema Validasi Desk Study Penerapan Open E-Governance Index di Indonesia. Saya datang mewakili Kartunet atas undangan yang diberikan oleh mas Indriarto Banyumurti yang baik dari ICT Watch. Bersyukur karena pengembangan Open E-Governance ini harus melibatkan semua pihak, termasuk suara dari penyandang disabilitas. Acara yang diadakan di Hotel Ibis - Tamarin, Jalan Kh Wahid Hasyim Jakarta, mengundang sekitar 20 orang sebagai peserta FGD. Mereka berasal dari pelaku usaha di bidang digital, pemerintah, legislatif, partai politik, perwakilan organisasi masyarakat, dan stake holder lainnya. Sebab penerapan E-governance atau tata kelola berbasis elektronik, bukan hanya untuk pemerintah saja, tapi juga semua pihak yang berkepentingan dalam pembangunan. Para peserta diskus