Substansi Tubuh dalam Konteks Sosial Amerika

Dari pembahasan artikel ini, dapat kita simpulkan mengenai definisi kecantikan menurut suatu kebudayaan. Di dalam budaya Amerika Serikat saat itu, yang dimaksud dengan cantik adalah perempuan berambut pirang, berkulit putih bersih, tinggi, dan berbadan tidak kurus.

Namun parameter akan sebuah kecantikan itu dipengaruhi oleh tempat dan waktu. Di suatu tempat dengan tempat lain yang memiliki kebudayaan berbeda, belum tentu suatu parameter yang dianggap cantik, akan dianggap cantik pula di sana. Seperti apa yang dialami oleh cofer. Jika ia hidup di Poertoriqo, dia akan dianggap sebagai gadis cantik di kalangannya. Dia dapat menjadi populer di sekolah dan tak akan mendapatkan berbagai penghinaan. Masalah waktu juga sangat berpengaruh. Trend akan parameter cantik itu selalu berubah. Hal ini bisa dilihat pada gadis-gadis sampul yang muncul pada majalah kecantikan. Ada kalanya gadis yang langsing adalah dianggap cantik. Tapi ada kalanya pula yang berbadan sintal itu yang cantik. Terend ini juga terus berubah. Di Amerika saat ini, gadis berdarah latih dengan kulit agak kecoklatan adalah yang dianggap sexy. Bahkan perempuan yang berkulit putih, sering berjemur matahari untuk mendapatkan kulit yang kecoklatan.

Contoh yang lain lagi, adalah pada masyarakat Afrika Barat. Di sana, definisi wanita cantik adalah yang bertubuh sangat gemuk, besar, dan berkulit hitam sekali. Wanita yang memiliki kriteria itu, dianggap cantik oleh para lelaki. Keadaan seperti itu dianggap sebagai simbol dari kesuburan reproduksi. Untuk di Indonesia, definisi perempuan cantik itu adalah yang berkulit putih dengan tinggi yang sedang. Namun definisi ini mulai bergeser seiring gencarnya media televisi dan periklanan. Kiblat Indonesia yang cenderung ke barat, membuat definisi akan perempuan cantik itu mengikuti gaya barat. Banyak bermunculan artis dan bintang iklan yang tidak berwajah Indonesia, tapi blesteran atau yang lebih dikenal indo. Mereka ini memiliki wajah khas kaukasoid yang dianggap cantik oleh orang Indonesia. Ironis sebenarnya apa yang menjadi trend di Indonesia saat ini. Ketika orang barat cenderung menyukai wanita berkulit coklat dan eksotis seperti wanita asia, orang asia sendiri malah menyukai yang berwajah kaukasoid, berkulit putih, dan tubuh tinggi.

Di dalam artikel itu, terdapat juga fenomena dimana budaya mayoritas sedikit demi sedikit menjajah budaya minoritas. Seperti apa yang dialami Cofer ketika menyukai Ted. Dia beanggapan Ted yang berkulit putih dan memiliki rambut kuning adalah pria paling tampan di dunia. Ini berarti Cofer juga setuju bahwa yang berkulit putih itu juga cantik atau tampan.

Lalu dalam hubungan antara ras, terjadi sentimen dan stereo tipe antar ras. Seperti yang dialami Cofer saat orang tua Ted menolak hubungan mereka. Ras yang menganggap kedudukan mereka lebih tinggi, biasanya akan menolak untuk berinteraksi dengan ras yang dianggap lebih rendah. Orang kulit putih, menganggap bahwa orang kulit hitam dan latin itu adalah kumpulan makhluk tukan curi dan pembuat kriminal. Mereka tak ingin berhubungan dengan manusia seperti itu. Sedangkan untuk orang kulih hitam da latih sendiri, menganggap bahwa hubungan dengan orang kulit putih adalah sia-sia. Mereka harus menerima kenyataan entah cepat atau lambat, bahwa mereka akan ditolak dalam masyarakat itu. Hal yang dapat mereka lakukan adalah dengan menolak lebih dulu, sebelum diri mereka sendiri yang ditolak. Pandangan ini akan sulit dirubah, kecuali waktu yang akan merubahnya.

2 komentar untuk “Substansi Tubuh dalam Konteks Sosial Amerika”

  1. Sungguh kah sampai sekarang masih rassis demikian adanya di negeri orang bebas dan demokratis serta katanya menjunjung tinggi kesetaraan itu?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *