Teknologi, Peretas Batas Disabilitas

Lebih lanjut, efek dari terpinggirkannya penyandang disabilitas di dalam masyarakat adalah stereotip pada diri mereka. Mereka yang dianggap cacat, pada umumnya diidentikkan dengan seorang pengemis. Karena kesan cacat mengacu pada kerusakan dan ketidakmampuan. Hal ini tentu amat merugikan bagi penyandang disabilitas. Oleh karenanya, muncullah stereotip bahwa tunanetra hanya bisa jadi tukang pijat, orang cacat fisik jadi pengemis di jembatan penyeberangan, dan yang cacat mental dianggap orang gila. Padahal mereka pun memiliki kemampuan yang sama dengan orang lain jika diberikan kesempatan yang sesuai.

Seperti apa yang dilakukan oleh sekelompok tunanetra yang merintis sebuah situs beralamat di https://www.kartunet.com. Dalam wadah bernama Kartunet Community Indonesia, mereka memanfaatkan keunggulan teknologi informasi untuk mendobrak stereotip masyarakat yang berlaku saat ini. Di dalam situs Kartunet.com, mereka ingin menunjukkan bahwa tunanetra pun mampu melakukan apa yang dapat dilakukan oleh orang “normal” di belantara internet.

Apabila dilihat sekilas, akan ditemui sebuah situs yang tak ubahnya dengan jutaan situs lainnya. Berbagai fitur yang disediakan dapat diakses oleh siapa saja, baik disabilitas atau nondisabilitas. Namun jika diklik pada halaman profil Kartunet, maka akan tertera dengan jelas bahwa situs tersebut dibuat oleh para tunanetra Indonesia sejak 19 Januari lima tahun silam.

Situs Kartunet.com menjadi representasi dari potensi-potensi tunanetra yang mungkin tidak disadari oleh masyarakat umum. Di sana dapat ditemui bahwa tunanetra memiliki kemampuan untuk menulis baik fiksi atau nonfiksi yang tak kalah dengan orang “normal”. Mereka pun ada yang menguasai bidang IT dan mampu memberikan tutorial-tutorial untuk para pengunjungnya. Jejaring sosial, blogging, coding HTML atau PHP bukan jadi hal yang asing bagi komunitas Kartunet.

Dasar pengembangan kemampuan para tunanetra ini terletak pada perangkat lunak screen reader (pembaca layar) yang dipasang pada komputer, laptop, atau ponsel yang digunakan. Setelah dilengkapi dengan program pembaca layar, maka dinamakanlah alat itu komputer, laptop, atau ponsel bicara. Software tersebut mereproduksi tampilan visual ke dalam bentuk audio, sehingga dapat diakses oleh pengguna tunanetra. Ketika menekan tombol-tombol pada keyboard komputer/laptop atau keypad ponsel, akan disebutkan pula tombol tersebut. Oleh karenanya tunanetra dapat mengidentifikasi perintah-perintah yang dia masukkan meski tidak melihat baik keterangan tombol atau tampilan di layar.

Dampak yang dihasilkan dari teknologi ini amat besar bagi tunanetra. Di bidang pendidikan, proses pengerjaan tugas yang dahulu perlu bantuan orang awas untuk menuliskannya di atas kertas, dengan bantuan komputer dan printer proses itu dapat dilakukan secara mandiri. Seperti itu pula ketika harus mencari sumber data. Media internet terbuka luas dan dapat dijelajahi tanpa batas. Adapun untuk mengakses buku cetak, tunanetra dapat memindainya terlebih dahulu dengan scanner untuk kemudian dibaca di komputer bicara.

Saat memasuki dunia kerja pun kemajuan teknologi informasi turut mendukung kemandirian tunanetra. Dengan keterampilan untuk mengoperasikan komputer dan program microsoft office memungkinkan tunanetra untuk melakukan tugas-tugas administratif. Namun kemampuan ini terkadang belum diketahui oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia, sehingga mereka masih enggan untuk mempekerjakan tunanetra.

Tak habis akal, sokongan teknologi ternyata dapat membantu pula bagi tunanetra yang ingin menjadi wirausahawan, terutama di sektor bisnis dan marketing online. Dengan memanfaatkan kekuatan jejaring sosial, blog, pemasran online, dan skill komunikasi yang baik, tak sulit seorang tunanetra untuk dapat sukses di bisnis ini. Mengingat dalam dunia online tak ada lagi diskriminasi. Siapa yang dapat mengikuti perkembangan arus informasi, dia yang akan menguasai pasar.

Sebagai penutup, sekali lagi konsep mengenai disabilitas perlu dilihat dari perspektif yang lebih positif. Disabilitas bukan sebuah kekurangan atau kecacatan, tapi keberagaman. Terganggunya salah satu atau lebih fungsi untuk mencapai suatu tujuan bukan berarti penyandang disabilitas tidak mampu. Dengan perlakuan yang sesuai, mereka dapat mencapai tujuan itu meski cara yang ditempuh berbeda. Salah satu cara yang dapat dipakai adalah dengan bantuan teknologi informasi. Dari semua kemudahan yang ditawarkan, penyandang disabilitas mampu untuk lebih memaksimalkan kemampuannya. Contoh konkrit adalah situs https://www.kartunet.com yang dibuat oleh sekelompok tunanetra. Mereka mampu mengembangkan dirinya sendiri, hingga meretas batas keterbatasannya.

4 komentar untuk “Teknologi, Peretas Batas Disabilitas”

  1. Penyandang idsabilitas juga harus bisa menikmati teknologi iinformasi saat ini.
    Tidak menyamakan persamaan hak anak penyandang disabilitas dg anak yang normal. Pengaruh banget itu buat mental si anak. :3

    TFS ^_^

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *