Telur Retak, refleksi Kesatuan Indonesia

Ketimpangan pembagian kekuasaan juga mendorong terjadinya separatisme. Faktor ini terjadi di maluku dengan adanya Republik Maluku Selatan (RMS). Gerakan ini sudah bermula di Indonesia sejak tahun 1950 yaitu pada saat perubahan bentuk negara dari Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebelumnya, Maluku tergabung dalam negara bagian Indonesia Timur (NIT). Kemudian digagas oleh Soumokil, menolak kembalinya ke bentuk negara kesatuan. Mereka tidak ingin kekuasaan mereka berkurang dengan meleburnya NIT ke RI. Oleh karena itu, mereka memproklamasikan berdirinya RMS.

Pemberontakan ini sudah ditumpas pada masa pemerintahan Presiden Soekarno di era Demokrasi Terpimpin. Tapi ada sebagian pemimpinnya yang lari ke luar negeri terutama Belanda. Gerakan ini disinyalir muncul lagi dengan adanya insiden tarian cakalele pada pembukaan acara peringatan Hari Keluarga Nasional 29 Juni 2007 yang dihadiri PresidenSusilo Bambang Yudhoyono.

Berbeda pada kasus gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM), separatisme didorong oleh faktor ketidakadilan. Mereka merasa bahwa daerah mereka hanya menjadi objek exploitasi pemerintah pusat. PT. Freeport Indonesia, telah menjadi icon perlawanan mereka atas pemerintah pusat. Kekayaan alam yang melimpah ruah termasuk ada cadangan emas di dalamnya tidak membuat penduduk Papua makmur. Malah mereka masih ada yang hidup dalam budaya primitif dan ketinggalan dalam ilmu pengetahuan. Lalu mereka juga beralasan bahwa penyerahan kedaulatan Irian Jaya (nama waktu itu) dari belanda ke Indonesia tidak menyuarakan aspirasi rakyat Papua. Pepera yang diadakan tahun 1969 dianggap tidak demokratis. Mereka ingin menentukan nasib sendiri dan mengolah kekayaan alam untuk daerah mereka sendiri pula. Sehingga tidak hanya berpindah tangan dari satu penjajah yaitu Belanda ke penjajah lainnya yaitu Indonesia.

Isu baru yang muncul ke permukaan adalah Separatisme yang didasarkan pada perbedaan budaya. Budaya mungkin tidak menjadi masalah bagi negara yang hanya terdiri dari satu etnis atau monocultural. Tapi akan berpotensi menjadi konflik besar bagi bangsa multicultural seperti Indonesia. Keberagaman ini bisa berupa perbedaan adat dan bahasa daerah. Bahasa ini adalah sarana utama manusia dapat berkomunikasi. Bahasa-bahasa daerah di Indonesia yang sangat beragam, merupakan potensi perpecahan yang besar. Tapi untungnya ada bahasa persatuan kita yaitu Bahasa Indonesia yang bisa mengakomodir semua Daerah. Didorong oleh rasa toleransi masyarakat Indonesia yang tinggi, mereka bisa menerima bahasa tersebut sebagai pemersatu.

Masalah budaya ini hampir merusak integrasi bangsa beberapa waktu yang lalu. Pro kontra RUU Anti Pornografi dan Porno aksi sempat memberitakan bahwa ada derah yang ingin memisahkan diri. Bali adalah daerah yang dikabarkan demikian. Mereka berdalih bahwa pariwisata adalah sektor utama pemasukan daerah. Banyak wisatawan mancanegara yang mengunjungi Bali. Sehingga tidak bisa dihindari hal-hal tersebut. Alasan lainnya adalah pakaian adat untuk perempuan Bali yang dianggap tidak memenuhi batas kesopanan. Untuk pandangan Islam, hal ini memang tidak sesuai. Tapi dalam kaidah budaya ketimuran, tidak masalah karenanya. Sehingga sangat dikhawatirkan hal-hal tersebut dapat membuat Bali lepas dari NKRI. Tapi dengan rasa cinta tanah air yang tinggi, perwakilan masyarakat Bali telah menyatakan isu tersebut tidak benar dan tetap setia pada NKRI.

Sejauh ini, masalah keanekaragaman budaya di Indonesia tidak sampai menimbulkan perpecahan. Setiap daerah atau provinsi memiliki kebudayaan yang berbeda. Bahkan dalam satu provinsi sekalipun sering terdapat budaya yang berbeda. Seperti contoh masyarakat Badui yang mengisolasi dirinya dari hubungan luar. Tapi mereka tetap mengakui di bawah NKRI. Gesekan antar suku memang sering terjadi. Seperti contoh yang pernah terjadi antara suku Dayak dengan orang Madura di Sampit. Tapi sekali lagi, hal tersebut tidak sampai menimbulkan perpecahan bangsa.

Ada beberapa faktor yang membangun rasa toleransi tersebut. Pertama adalah wawasan nusantara yang dimiliki oleh Rakyat Indonesia. Sejak zaman sebelum bangsa barat datang di nusantara, antar pulau sudah terjalin hubungan yang baik. Mereka melakukan perdagangan komoditas daerah masing-masing. Saat ini, bahasa sebagai media komunikasi yang universal mulai terbentuk. Mereka sepakat bahasa melayu sebagai Lingua Franca. Hal ini yang menjadi benih bahasa persatuan Bahasa Indonesia.

Kedua, adalah sistem pendidikan moderen yang sudah dirintis pada masa kolonial Hindia Belanda. Sebagai hasil dari Politik Balas Budi, pemerinta kolonial menyediakan layanan pendidikan bagi rakyat pribumi. Walaupun hanya untuk rakyat kalangan atas, tapi sedikit banyak hal tersebut telah mengantarkan Indonesia ke masa pergerakan. Para kaum terpelajar Indonesia, mulai memperjuangkan nasib bangsanya di bidang diplomatik. Sebagian ada pula yang menurunkan ilmu mereka ke rakyat pribumi yang kurang beruntung dalam hal ekonomi. Perjuangan mereka ini telah mempertemukan mereka dengan para pemuda lainnya dari seluruh Indonesia. Hal ini membuka mata mereka bahwa Indonesia bukan hanya Jawa, Sunda, Sumatra, Selebes, atau Borneo saja. Tapi adalah keseleluruhan dari semua pulau di nusantara. Oleh karena itu, betapa penting persatuan untuk memperjuangkan nasib bangsa. Sikap ini semakin jelas setelah diucapkannya sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *