Telur Retak, refleksi Kesatuan Indonesia

Kemudian setelah Indonesia merdeka, bentuk negara kesatuan juga mendorong rasa persatuan itu semakin besar. Bentuk negara ini dianggap paling cocok dengan keadaan Rakyat Indonesia yang majemuk. Pernah setelah penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949 Indonesia menggunakan bentuk negara serikat. Tapi sistem itu tidak bertahan lama karena Rakyat Indonesia sendiri yang meminta untuk kembali ke bentuk negara kesatuan. Bentuk negara kesatuan ini tidak membiarkan negara tersegregasi dalam kelompok-kelompok. Tiap daerah juga tidak diizinkan memiliki presiden, Perdana Menteri, atau tentara sendiri. Semua berada di bawah pemerintah pusat yang mempersatukan mereka. Oleh karena itu, semua suku merasa berada dalam satu wadah yang tak ada batas antar mereka.

Faktor terakhir, adalah sistem pemerintahan yang centralistik pada era moderen Indonesia. Sejak demokrasi terpimpin dan diteruskan pada masa orde baru, gaya kepemimpinan di Indonesia cenderung centralistik. Semua diatur dari pusat dan daerah hanya didikte oleh pusat. Hal ini memang berdampak negatif karena derah tidak diberi kebebasan untuk mengatur wilayahnya. Tapi positifnya adalah pembauran kebudayaan di Indonesia. Mengapa bisa terjadi? Hasil dari sistem centralistik ini adalah pembangunan yang terpusat. Pembangunan fisik terpusat hanya di kota-kota besar seperti Jakarta. Hasil kekayaan alam daerah dibawa ke pusat untuk sebagian besar membangun pusat dan sisanya di daerah. Oleh karena itu, akan banyak penduduk dari berbagai daerah yang berurbanisasi ke kota-kota besar. Mereka akan membawa kebudayaan masing-masing dari tempat asalnya di kota. Kebudayaan ini akan bertemu dengan kebudayaan asli tempat yang didatangi, dan tidak luput pula kebudayaan orang lain yang datang ke kota tersebut. Mereka akan saling berinteraksi dan menghormati kebudayaan masing-masing. Lalu kebijakan pemerintah untuk mentransmigrasikan sebagian penduduk daerah padat penduduk juga mendorong rasa toleransi. Para transmigran yang baru datang ke daerah baru, harus menyesuaikan diri dengan budaya di sana. Begitu pula penduduk asli yang didatangi, harus menyesuaikan budaya mereka dengan para pendatang. Sehingga mereka bisa mengetahui budaya satu sama lain dan terbuka pada unsur-unsur budaya baru.

Sekarang, penulis akan menjelaskan tentang hakikat negara. Mengapa negara bisa terbentuk, dan untuk apa negara dibentuk serta dipertahankan.

Pengertian negara menurut para tokoh adalah sebuah organisasi politik yang terbentuk dari hasil konvensi atau kesepakatan masyarakat yang berada di dalamnya. Organisasi ini terdiri dari beberapa unsur yang membentuknya. Diantaranya adalah Lokasi atau wilayah, rakyat, dan pemerintahan yang berdaulat. Saat pembentukan negara, wakil-wakil rakyat berkumpul untuk membuat kesepakatan atas sebuah organisasi. Organisasi ini akan mengatur sendi-sendi kehidupan dalam bermasyarakat.

Di dalam negara ada pemerintahan. Pemerintahan ini dapat dikatakan sebuah organisasi raksasa yang mengatur berjalannya negara. Organisasi ini tidak terbentuk dengan sendirinya. Rakyat sebagai anggota dari organisasi tersebut memilih dan menentukan siapa yang akan memimpin mereka.

Lalu kunci agar organisasi itu bisa tetap utuh adalah komitmen. Rakyat yang diwakili oleh wakil-wakilnya membuat kesepakatan tentang dibentuknya organisasi negara tersebut. Mereka mengkompromikan keinginan masing-masing untuk satu tujuan. Mereka bersedia untuk berkomitmen satu sama lain biasanya karena berbagai alasan. Di antara alasan-alasan tersebut adalah kesamaan nasib dan historis. Seperti contoh Indonesia. Mereka merasa memiliki nasib yang sama yaitu sama-sama dijajah Belanda. Mereka berjuang bersama untuk mengusir penjajah dan akhirnya terbentuklah rasa saling percaya itu.

Persamaan-persamaan yang ada, bisa meniadakan perbedaan dalam organisasi yang berkomitmen untuk membentuk negara. Hal ini terjadi di Indonesia. Mereka memiliki keanekaragaman dalam hal budaya, adat, agama, dan lain-lain. Tapi seperti yang sudah penulis katakan sebelumnya, rasa toleransi yang tinggi dari masyarakat Indonesia menjadi modal persatuan itu.

Komitmen ini didasari oleh rasa saling percaya dan menguntungkan. Mereka akan terus berkomitmen jika tidak ada satu pihak pun yang merasa dirugikan. Tapi ada kalanya, salah satu pihak atau lebih merasa dirugikan atau ada perbedaan yang tidak bisa ditolerir setelah berjalannya organisasi tersebut. Pada hakikatnya, sah-sah saja bagi pihak tersebut untuk melepaskan komitmennya dan memutuskan bergabung dengan organisasi lain atau membentuk organisasi sendiri. Seperti contoh yang terjadi di mantan negara Yugoslavia. Negara ini terpecah menjadi beberapa negara kecil yaitu Serbia, montenegro, Kroasia, Bosnia Herzegovina, Macedonia, dan Slovenia. Tiap negara kecil tersebut merasa ada pembedaan ras dan agama yang tidak bisa ditolerir lagi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *