Transformasi digital adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menawarkan efisiensi; di sisi lain, ia berpotensi memperlebar jurang ketimpangan bagi mereka yang tidak memiliki akses atau kemampuan literasi digital, termasuk penyandang disabilitas.
Sebagai peneliti di BRIN, saya sering menemukan bahwa masalah utamanya bukan pada ketiadaan teknologi, melainkan pada desain kebijakan yang tidak human-centered.
Paradigma Baru
Kita perlu mengubah cara pandang dari “disabilitas sebagai objek santunan” menjadi “disabilitas sebagai subjek pembangunan”.
“Inklusi digital bukan sekadar memberikan laptop kepada tunanetra, tapi memastikan sistem operasi di dalamnya bisa bicara.”
Langkah ke Depan
Dalam blog ini, saya akan banyak mengulas tentang:
- Analisis kebijakan publik terkait TIK.
- Praktik baik (best practices) aksesibilitas web.
- Catatan studi saya selama di University of Leeds.
Selamat datang di perjalanan intelektual ini. Mari berdiskusi.