Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Corat-Coret

Ada yang Kamu Suka dari PSBB di Pandemi Covid19 ini?

Tangerang - Bukan ingin menafikan dampak negatif dari musibah Covid ini ya guys. Tapi sebagaimana tiap peristiwa, pasti bisa dilihat dari berbagai perspektif. Musibah pun akan selalu dapat kita temukan sisi positifnya jika memang ingin. Sebab segala sesuatu jika ingin dilihat dulu dari sisi positifnya, Insya Allah akan terasa lebih ringan, meski tidak meniadakan bebannya. Nah, apa hal positif yang kamu rasa dari Covid ini? Kalau saya sih ini. Akhirnya, Diakui Ayah oleh Anak. Putri saya sekarang hampir usia 1 tahun. Ketika masih kerja aktif masuk ke kantor, mungkin dia merasa asing dengan bapaknya. Bagaimana tidak, berangkat kerja sebelum matahari terbit sekitar jam 5.30 karena mengejar bus Trans Jakarta dari Ciledug, lalu pulang mayoritas jam 7 malam dan baru sampai rumah sekitar jam 9 malam kalau ada lemburan RDK / kegiatan. Praktis, putri saya cuma kenal bapaknya pas hari libur saja, yang itu pun kadang masih disita waktunya sebagian dengan herus belajar dan menangani keperluan komun

Yang Tak Terucap saat Bertemu pak Ahok

Tangerang - Alhamdulillah setelah sekian lama, mendapat kesempatan untuk bersalaman dan berbincang sedikit dengan orang nomer 1 di provinsi ibukota Jakarta. Setelah dulu pernah bersalaman juga dengan pak Jokowi ketika masih jadi walikota Surakarta dan Gubernur DKI, tak afdol jika tak bertemu juga dengan bapak Basuki Tjahaja Purnama atau yang sering disapa pak Ahok. Tapi yang namanya warga biasa ketemu pejabat tinggi, deretan kalimat yang mau disampaikan tiba-tiba blank karena grogi. Agak mirip saat mau ketemu gebetan lah ya. Maka dari itu, kesan dan pesan yang ingin saya sampaikan ditulis saja dalam blog ini, semoga beliau tak sengaja baca. Kesempatan itu datang pasca mengikuti diskusi komunitas penyandang disabilitas dengan Dirut PT Trans Jakarta di Balai Agung, Jakarta (17-04). Atas bantuan mbak Ayu Kartika Dewi dari Komunitas Sabang Merauke, saya dapat bertemu dengan pak Ahok di sela-sela jadwal beliau yang padat. Waktu pertemuan tak lebih dari 5 menit, karena beliau juga sedang bur

Ahok "Sakit Gigi", Umpan Anies tak Digigit

Tangerang - Menarik mengikuti debat antara Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Anies Baswedan di Mata Najwa eksklusif semalam. Menghadapkan pak Ahok yang sedang sakit gigi dengan pak Anies yang terus memberikan umpan tapi tak tergigit. Saya memang bukan pengamat politik, hanya ingin menuliskan apa yang terlintas di kepala saat menyimak debat. Kadang ada untungnya juga jadi tunanetra, jadi penilaian kita tak dipengaruhi asumsi-asumsi awal akibat penampilan fisik seseorang seperti ras dan mimik, jadi tak terganggu stereo tipe. Debat yang ditayangkan di Metro TV pada Senin malam 27 Maret mulai pukul 19:30 WIB ini bukan debat resmi KPU. Program Mata Najwa yang biasanya tayang Rabu malam, secar eksklusif dan live menghadirkan debat kandidat dengan format yang berbeda. Konon format ini mengikuti debat putaran ketiga di Pilpres Amerika Serikat lalu. Jadi lebih seperti dialog dan dua kandidat langsung membandingkan program yang sejenis. Mana yang lebih unggul akant erlihat dari penjelasan ked

Organda yang Selalu Muncul Ketika Kenaikan Tarif

Tangerang - Belakangan ini kembali memanas konflik antara transportasi konvensional dengan transportasi berbasis online. Transportasi konvensional yang diwakili oleh supir angkot dan taksi mengeluhkan berkurangnya pendapatan mereka akibat kehadiran transportasi online. Lantas Organisasi Angkutan Darat (Organda) muncul di media-media dan mengatakan bahwa ada ketidak-adilan yang harusnya diatur oleh pemerintah. Adil menurut siapa? Untuk rakyat sebagai pengguna atau para pemilik modal? Lalu mengapa Organda terkesan selalu muncul ketika bicara soal tarif transportasi online yang dinilai terlalu murah? Organda, khususnya sebelum kehadiran penerbangan murah LCC atau low cost carrier dan maraknya transportasi online, sangat populer terutama ketika menjelang hari raya. Ketika bus dan kereta menjadi moda transportasi utama untuk mudik, keputusan Organda dan pemerintah untuk menyepakati tuslah atau kenaikan harga tiket sangat dinanti. Kini pamor Organda dengan kesaktiannya untuk menentukan harga

Hidup Memang Susah, Tapi Jangan Dibuat susah Lagi

Tangerang - Saya belajar kehidupan dari pengalaman dan orang-orang sekitar. Selain dari keluarga, sering kali pembelajaran itu malah didapat dari orang-orang dekat yang "curhat" dan minta untuk didengarkan kisahnya. Satu hal yang selalu saya katakan ke mereka yang berkenan untuk berbagi bahwa hidup itu memang susah, tapi jangan dibuat susah lagi. Jika mau objektif, sebetulnya hidup manusia di bumi ini memang susah. Bagaimana tidak, dulu kakek dan nenek moyang kita sudah enak-enak hidup di surga, lantas diturunkan ke bumi untuk jadi khalifah di atas muka bumi dan mengalami segala macam cobaan hidup. Namun sebagai manusia yang mengenal Tuhan, tentu itu sudah direncanakan Tuhan dan bukan hak kita untuk protes. Namun paling tidak, kita sadar bahwa susah hidup di dunia bukan sesuatu yang istimewa karena tiap orang pasti merasakan, meski dengan porsi dan sudut pandang yang berbeda-beda. Hidup ini akan jadi lebih susah menurut saya karena dua hal. Pertama, ekspektasi atau harapan ya

Memposisikan Disabilitas dalam Media dan Demokrasi

Tangerang - Ceritanya di awal tahun ini Kartunet mengalami penyegaran dan penajaman visi. Kartunet sebagai sebuah media ingin dihidupkan kembali update artikelnya dan diperkuat posisinya sehingga punya pengaruh sebagai kanal suara disabilitas yang muda, progresif, dan inklusif. Berawal dari dibentuknya Tujuh Langit, yang didukung oleh keluarga bu Ami Atmando dan punya fokus di bidang pelatihan dan peningkatan kapasitas untuk difabel, sehingga membuat Kartunet difokuskan hanya pada pengembangan media dan pengelolaan komunitas. Sedang untuk Tujuh Langit, mungkin akan saya share ceritanya di post lainnya. Saat ini mau cerita dulu mengenai Kartunet di 2017 dan bagaimana perannya dalam media dan demokrasi kita. Rencananya, Kartunet sebagai media ini ingin saya tegaskan peranannya dalam dunia disabilitas dan juga demokrasi kita. Kartunet meski tidak terlalu sering mengadakan kegiatan offline, Alhamdulillah selalu mendapat posisi dalam pergerakan dunia disabilitas, termasuk dilibatkan dalam p

Kedai Menulis, Membuka Peluang Tunanetra Lewat Kata

Tangerang - Salah satu kemampuan yang kembali optimal setelah kehadiran komputer bicara untuk tunanetra adalah membaca dan menulis. Jika dulu hal tersebut hanya dapat dilakukan dengan sarana huruf braille, kini dapat dilakukan secara elektronik lewat komputer. Hal tersebut bukan hanya dapat membuka peluang seorang tunanetra menjadi penulis atau jurnalis, tlebih dari itu yang sesuai dengan era digital saat ini. Satu program baru yang mulai dijalankan Kartunet tahun ini adalah Kedai Menulis. Sebuah wadah menulis secara online dengan tujuan untuk membiasakan dan mendisiplinkan para tunanetra untuk menulis. Filosofinya bahwa menulis itu tidak ada teori atau ilmu pastinya, yang diperlukan untuk dapat menulis dengan baik adalah praktik menulis dan menulis lagi. Untuk seorang tunanetra, kehadiran komputer bicara selain memudahkan untuk menulis, pada faktanya di beberapa kasus dapat jadi bumerang. Kecenderungan ara tunanetra yang sudah mengenal komputer bicara saat ini adalah untuk membaca men

#Inspirasi1436_2 Perkusi Dini Hari

Jakarta, 2 Ramadan 1436 Ada yang membuat tiba-tiba tersenyum dan mensyukuri hidup di Indonesia. Ini mungkin akan jadi satu hal yang sangat dirindukan ketika bulan Ramadan tidak berada di Indonesia. Jika makanan dapat dicari bahannya lalu dibuat sendiri, jika ingin menonton acara-acara televisi lokal dapat video streaming, tapi jika rindu bagian dari tradisi ini, tentu sulit mencarinya. Di lingkunganku, masih rutin menjelang jam 3 pagi di kala bulan Ramadan, sekelompok anak dan remaja berkeliling kampung sambil membawa tetabuhan. Biasanya itu jika tidak ember, gelas dan sendok sebagai pemukul, galon air mineral, atau penggorengan dan tutup panci. Sambil membuat harmoni sumbang tapi khas sekali Indonesia, mereka bernyanyi atau melantunkan shalawat Nabi untuk membangunkan para tetangga makan sahur. Ini tradisi yang biasa ada di berbagai daerah di Indonesia. Khususnya di daerah pedesaan atau pinggiran kota. Memang fungsi untuk membangunkan orang sahur itu sudah dapat digantikan oleh alarm

#Inspirasi1436_1 Menghirup Udara di Ramadan Pertama

Jakarta, 1 Ramadan 1436. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang mempertemukan kembali dengan bulan suci Ramadan. Bulan dimana Allah SWT berikan keberkahan, ampunan, dan kebaikan yang di atas segalanya dengan turunnya kitab suci Al-Qur'an. Di kala Ramadan menjelang, banyak di antara kita yang mengatakan atau sekedar update di social media bahwa ia merindukan kehadiran bulan suci tersebut. Namun, apakah benar kita merindukan Ramadan? Atau jangan-jangan hanya perasaan semu yang terbawa suasana? Rindu, adalah perasaan dasar yang diberikan Allah di tiap hati manusia yang masih hidup. Rasa itu datang ketika sesuatu yang dirindukan itu berada jauh atau mungkin tak tahu entah dimana. Misal saat terpisah jarak dan waktu oleh orang yang kita cintai, maka di sana kita merasakan rindu. Rindu ingin bertemu, rindu ingin bercakap-cakap, atau sekedar rindu ingin mendengar tawa yang tulus. Apalagi Ramadan sebagai bulan yang penuh kebaikan. Manusia sebagai makhluk yang saat dilahirkan suci dan b

Hampir Mati

Sekitar lima belas tahun lalu, ketika masa awal mengalami penurunan penglihatan (itu istilah yang lebih suka kugunakan dibanding kebutaan), pernah hampir mati. Ya, mati. Paling tidak, itu menurut orang dan tetangga, bukan aku. Saat itu aku masih usia 12 tahun dan mungkin belum tahu orang yang akan mati itu bagaimana. Oleh dokter di Jakarta Eye Center, syaraf mataku didiagnosa terkena virus Toksoplasma. Tapi itu kata dokter, karena saat itu bahkan tidak ada tes darah. Tak peduli diagnosa itu benar atau tidak, yang jelas dokter memberi vonis bahwa jika dioperasi pun tak akan membantu banyak. Mungkin hanya 5 atau 10 persen saja perbaikannya. Bayangkan hal tersebut dikatakan oleh seorang dokter senior di depan seorang anak usia 12 tahun yang saat itu sekolahnya harus berhenti di kelas enam, ditemani seorang bapak yang hingga detik ini tak pernah putus asa mengantarnya untuk pergi berobat. Mungkin jika jadi adegan dalam sinetron, scene dibuat slow motion dengan tatapan tajam sang dokter dan

Alasan Pertama Mulai Ngeblog

Jakarta - Tiap hal terjadi pasti dengan alasan. Meski orang kadang mengatakan bahwa cinta tak butuh alasan, tentu ada satu alasan yang mungkin dia belum memahaminya. Ups, tapi dalam tulisan ini saya tidak akan bicara mengenai cinta yang itu sudah jadi hak paten dalam seri postingan Abstraksi Cinta, melainkan alasan pertama kali mulai ngeblog. Hal ini tiba-tiba kepikiran saat sedang merapihkan postingan blog lama dan memberinya tag serta pagination. Maklum, blogger yang kumat labilnya ini kembali memutuskan untuk menggunakan domain dimasmuharam.com yang dulu juga pernah dipakai persis setelah domain dimasmuharam.com 'dicuri' orang karena telat membayar. Keputusan ini diambil karena tergiur fakta bahwa domain my.id yang memang relatif baru dikeluarkan oleh Pandi, ternyata memiliki Domain Authority yang cukup besar, yaitu di atas 55 meski tidak digunakan sekalipun. Akhirnya, saya memutuskan untuk kembali ke domain my.id yang usianya hampir 2 tahun ini dan berharap ini akan jadi ya

Resetting the Goals

Awal tahun 2015 untukku adalah masa untuk melakukan evaluasi dari resolusi-resolusi yang pernah dibuat sebelumnya. Setelah selama 365 hari revolusi bumi terhadap matahari, sesungguhnya ia bukan mencapai garis finish, tapi kembali ke titik dimana perjalanan bermula. Tak ada yang perlu dirayakan, tak ada yang harus disesali, semuanya hanya perlu disyukuri sambil dievaluasi. Tahun lalu aku memaknainya sebagai saat ketika aku menaruh beberapa pilihan dan mencoba-coba pilihan itu. Banyak sekali pilihan, tapi tiap pilihan itu belum punya kepastian yang jelas. Ya anggap saja aku sedang bertaruh, dan ternyata aku kalah. Akan tetapi, tak selamanya kekalahan itu mengecewakan. Bisa jadi kekalahan itum enghasilkan sebuah jawaban untuk pertanyaan yang selama ini tak terjawab, atau lebih tepatnya pertanyaan yang tak berani untuk dipertanyakan. Namun satu hal yang pasti adalah di awal tahun ini, usia kita berkurang lagi satu angka. Berkurang lagi waktu yang diberikan Allah untukk ita memaknai hidup,

Abstraksi Cinta 14

Hujan buatku adalah sesuatu yang mengagumkan. Dia mampu membuat orang terdiam, terhenyak di tempatnya, hanya untuk mengamati rinai hujan yang membasahi bumi, mendengarkan rintik yang menubruk atap, atau mencium aroma hujan yang menenangkan. Hujan juga mampu menjawab banyak pertanyaan, dalam diam, saat rintik yang mengalun menjadi harmoni, tanpa perlu banyak kata, tanpa perlu menggurui. Hujan juga mampu membuat tiap orang, dari anak hingga tua, merasa gembira meski pakaiannya basah kuyup. Buatku kamu adalah hujan untukku. Lembut saat bulir-bulir air turun menjumpai bumi yang haus, hangat ketika mulai membasahi jalan yang panas berdebu, menenangkan saat Petrichor terhidup dalam hidung kita. Saat hujan hadir ia menenangkan, ketika telah berakhir maka menyisakan senang dan rasa rindu untuk kembali menemui hujan. Aku ingin memilikimu hujan, meski aku tahu kau tidak hanya menenangkan dan memberi harapan untuk aku. Kamu hadir karena kau memberi kasih kepada semua orang. Kau begitu baik, lembu

Do'a Ibu Jokowi

Pagi ini sembari sarapan aku susah payah menahan air mata. Tengsih juga jika kelihatan keluarga sambil makan dan nonton TV kok malah nangis. kembali tayangan mengenai kisah ibu dari pak Jokowi yang selalu mendo'akan dan mendukung anaknya hingga menjadi presiden ketujuh Indonesia, tak dapat membuatku tidak menitikan air mata. Satu hal lagi yang lebih mengharuskan dan baru aku tahu tadi adalah secarik kertas yang pernah diselipkan di jas pak Jokowi pada saat debat capres lalu ternyata titipan do'a dari sang ibu. Padahal di social medi, beliau sempat di-bully karena disangka bawa contekan materi ketika debat capres. Apa isi do'a tersebut? Do'a tersebut adalah do'a nabi Musa yang diucapkan saat bertemu dengan Firaun dan mengajaknya ke jalan Allah. Inti do'anya adalah agar Allah memudahkan segala urusan dan memudahkan agar apa yang dikatakan dapat dipahami. “Musa berkata, ‘Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii’ [Ya Rab

Bukan Situasi yang Membuatmu Terpuruk, Tapi Dirimu

Satu pertanyaan yang terkadang aku sulit menjawabnya yaitu "Pernah tidak merasa down atau terpuruk dengan kondisi kamu saat ini?". Ketika mendapati pertanyaan itu, jujur aku harus berfikir terlebih dulu sebelum menjawabnya. Harus aku ingat-ingat lagi kapan aku pernah merasa terpuruk dan seperti apa itu. Tapi biasanya jawaban yang ada sifatnya standar seolah-olah hidupku ini baik-baik saja. Bukan maksud untuk menjaga image apalagi berbohong, tapi aku memang cenderung tak gemar mengingat kejadian-kejadian pahit dalam hidup. Saat-saat down atau terpuruk itu pasti ada, tapi sulit jika harus mengingat-ingat lagi. Entah ini karena aku yang terlalu cuek, ajtau mungkin dapat dikatakan kurang peka? Menimbang kebiasaan "burukku" itu, ada baiknya jika aku berfikir sejenak dan merenungkan saat-saat aku merasa benar-benar terpuruk. Hanya sebagai catatan, sekaligus pembangkit lagi motivasi dikala saat terpuruk itu datang. Satu hal yang aku sadari bahwa saat terpuruk dalam hidupku

Abstraksi Cinta 13

Malam ini kembali aku ingin menulis. Memasuki dunia yang sepenuhnya kumiliki, dan sepenuhnya aku menguasai hidup di dalamnya. Dunia dimana kita diberi cukup waktu untuk berfikir, lalu menghapus, mengedit, copy paste, atau menekan tombol undo. Sesuatu yang di dunia nyata hampir mustahil terjadi. Di sini dengan menulis aku dapat bicara denganmu. Tanpa harus gugup, menelan kembali kata yang sudah berada di ujung lidah, atau lebih memilih diam dan menikmati tiap detik yang terlewat di dekatmu. Di sini aku dapat menjadi orang yang paling perasa, mampu membaca apa yang ada di fikiranmu, apa yang menjadi keinginanmu. Dia kembali datang, tiba-tiba,, setiba-tiba perginya pula. Mengusik lagi sebuah kondisi yang sudah hampir terbiasa, menjadi luar biasa kembali. Di saat yang tiba-tiba itu, banyak yang seharusnya ingin kutanyakan. Mengapa ini dan mengapa itu. Tapi semuanya terpendam dalam di dasar sana. Tak jadi terangkat dan hanya diam meski saling tahu bahwa ada kata yang tak terucap saat itu. K

Akhirnya Saya Benar-Benar Memilih

Jakarta – Sengaja catatan ini dibuat dini hari menjelang Pemilu Presiden yang akan dimulai dalam hitungan jam di Indonesia. Sebab saya yakin mayoritas dari kita sudah mantap dengan pilihannya, dan biarkan tulisan ini jadi semacam bacaan ringan mengenai cara pandang lain dari seseorang pada pesta demokrasi lima tahunan ini. Sesuai dengan judul tulisan, Pemilu kali ini memang beda untuk saya pribadi. Memang Pemilu 2014 ini bukan yang pertama, saya sudah pernah menggunakan hak pilih di Pemilu 2009. Akan tetapi, rasa-rasanya baru tahun ini saya benar-benar meyakini, memilih, dan memperjuangkan pilihan hati nurani saya. Pada Pemilu Legislatif 2009, rasa skeptis ternyata sudah menjangkiti saya yang menjadi pemilih pemula saat itu. Reformasi yang dimulai sejak 98, tak membawa lompatan besar bagi bangsa Indonesia. Wal-hasil, secara pragmatis saat itu saya berfikir daripada bertanggung-jawab pada koalisi pemerintahan yang korup, saya tetap menunaikan kewajiban warga negara dengan memilih partai

Filosofi Kaktus dalam Logo Kartunet

Jakarta - Ada yang bertanya-tanya mengapa logo Kartunet itu mirip dengan pohon kaktus? Pengambilan wujud Kaktus sebagai logo Kartunet memiliki ceritanya sendiri. Pada awalnya, salah seorang pendiri, Irawan Mulyanto, mengusulkan bentuk pulau Sulawesi sebagai logo. Alasannya karena bentuk pulau tersebut menyerupai huruf K. Inisial huruf K ini terinspirasi dari Google dengan huruf G dan Yahoo dengan huruf Y. Selain itu, pulau Sulawesi yang secara geologis tidak terhubung dengan benua Asia atau Australia pada zaman es, dinilai sangat Indonesia. Mas Iwa, sapaan akrabnya, berpandangan bahwa dengan logo tersebut, menunjukkan bahwa Kartunet dibuat oleh para penyandang disabilitas yang asli Indonesia. Berjalan waktu, pemikiran di kalangan pendiri bergeser dari pulau Sulawesi ke bentuk tumbuhan Kaktus. Tumbuhan berduri tersebut memang memiliki banyak variasi bentuk tapi tak jarang dapat membentuk juga seperti huruf K. Sekitar tahun 2008, disepakati Kaktus sebagai logo Kartunet.com. Dimintalah ba

"No Worries"

Jakarta - Tanggal 3 Desember bertepatan dengan Hari Penyandang Disabilitas Internasional. Tiap tahun hari ini dijadikan momentum dunia untuk menyadarkan bahwa penyandang disabilitas ada di tengah-tengah masyarakat, dengan semua hak dan kewajibannya sebagai warga negara, dan perlindungan yang diperlukan agar menjadi manusia yang seutuhnya. Baik di negara maju atau berkembang, masalah yang dihadapi penyandang disabilitas sama yaitu diskriminasi. Manum ada prinsip mendasar yang menurutku membedakan antara penduduk yang pemahamannya mengenai masyarakat inklusif sudah maju dan belum. Dari pengalaman singkatku di Adelaide, Australia selama tiga bulan, bukan fasilitas atau infrastruktur yang utama, melainkan sikap dan pola fikir masyarakatnya. Penduduk negara maju seperti Australia, punya pola fikir yang lebih terbuka. Sebelumnya aku sempat berfikir bahwa mereka tentu lebih banyak tahu mengenai disabilitas dibanding masyarakat negara berkembang. Akan tetapi anggapanku salah bahwa mereka juga

Allah Tahu Apa yang Lebih Baik dan Terbaik

Adelaide - Manusia kadang berharap pada sesuatu dan gagal, atau lebih tepatnya belum diizinkan oleh Allah. Ada pula yang tidak membuat rencana apa-apa, tapi apa yang diinginkan terwujud lebih cepat dari apa yang ia harapkan. Allah sudah mengatur semuanya, tiap orang punya jalannya masing-masing. Namun dari semua itu, ada sesuatu yang kadang ditunda, untuk diberikan pada saat yang setelah kita fikirkan, adalah yang terbaik. Pengorbanan waktu di 2012, dibayar manis oleh Allah dengan pengalaman di luar negeri untuk yang pertama kalinya, Australia. Selama kurang lebih tiga bulan, 1 September - 23 November 2013, aku mengikuti program Australia Awards Fellowship (dahulunya bernama Australian Leadership Awards) yang diselenggarakan oleh Gender Consortium di Flinders University, South Australia. Program ini disponsori oleh AusAID, untuk mengembangkan skill kepemimpinan para emerging leaders di negara-negara berkembang. Tema yang diangkat dalam short course 3 bulan ini yaitu Gender and Disabili